
Ara memukul dada bidang Aldev sebagai bentuk protesnya. Gurauan yang di ucapkan Aldev sama sekali tidak lucu. Bagaimana jika salah satu dari mereka mempunyai harapan yang tidak sama.
"Kak Al, apa sih! bercanda Kakak enggak lucu." Ara menjauh dari duduknya yang semula sangat dekat dengan Aldev.
"Bercanda apa? Kak Al serius, Bee!"
Ara kembali mendekat dan tangan mungilnya reflek menyentuh kening Aldev. Mana tahu Kak Al kesayangannya ini sedang demam, hingga meracau tidak jelas.
"Kak Al sakit ya?"
Aldev mendengus dan segera menyingkirkan tangan Ara dari keningnya. Pria itu kesal karena ulah Ara yang mengira dirinya sakit. Padahal apa yang di ungkapkan adalah sebuah kejujuran.
"Kak Al sangat sehat, Bee. Kamu yang sakit, karena tidak pernah peka dengan perasaan Kak Al!" ujarnya dengan jelas.
Gadis berbaju merah dengan setelan celana jeans panjang berwarna hitam itu berdiri dari duduknya. Ingin rasanya pergi dari tempat itu sekarang juga. Kenapa rasanya jadi canggung seperti ini ketika mendengar kejujuran yang di ungkapkan oleh Aldev?
Melihat Ara yang sepertinya akan pergi dari sana, Aldev menahan tangan kanan Ara untuk di genggam. Aldev berdiri dan berusaha memeluk Ara agar memperbaiki perasaan Ara yang mungkin saat ini sedang terkejut degan pengakuannya.
Ara meronta dalam dekapan yang dulu sangat membuatnya nyaman, kini berubah menjadi hambar. Kenapa cepat sekali perasaan nyaman itu pergi dari dirinya? Seandainya Aldev tidak mengungkapkan perasaan yang sebenarnya. Ara pasti akan membalas pelukan itu dengan tulus.
"Bee, tolong. Terima cinta dari Kak Al, Kakak sangat mencintai kamu sejak dulu," pinta Aldev memohon.
Ara tetap saja meronta, gadis itu berusaha lepas dari dekapan Aldev. Dengan sekuat tenaga akhirnya Ara bisa melepaskan pelukan erat dari pria yang baru saja meminta cinta darinya.
"Maaf, Kak. Ara hanya menganggap Kakak sama seperti Kak Rei. Kalian adalah perisai pelindung untuk Ara," ucap gadis itu dengan nada melirih.
"Apa kamu tidak mau mencobanya, Bee? Kakak akan berusaha menumbuhkan rasa cinta di hati kamu." Aldev kembali ingin memeluk Ara.
Peka dengan gerakan Aldev yang akan memeluknya kembali, Ara melangkah mundur untuk menghindari Aldev. Ara masih sangat terkejut dengan perasaan Aldev padanya. Namun karena tidak tega, Ara menghentikan langkah dan dengan pasrah saat Aldev kembali menariknya dalam pelukannya.
"Kak, Ara tidak yakin bisa membalas cinta dari Kakak!"
"Kita berusaha sama-sama, Kakak yakin kamu pasti bisa mencintai Kakak!" Aldev berusaha meyakinkan perasaan Ara padanya.
Karena keyakinan yang di berikan oleh pria itu Ara akhirnya memutuskan menuruti Aldev untuk berjuang bersama. Saat keduanya masih larut dalam pelukan, ponsel Aldev berdering. Pria itu melepaskan pelukan dan merogoh ponsel di saku jaket kulit miliknya.
__ADS_1
'Hallo, Pah.' sapa Aldev ketika sambungan telfon tersambung.
Ara masih mengamati Aldev yang masih sibuk berbicara dengan orang di sebrang sana. Walaupun Aldev menerima telfon itu di depan Ara, Namun gadis itu sama sekali tidak mendengar apa yang di katakan oleh lawan bicara Aldev. Yang gadis itu tahu adalah penelfon merupakan ayah Aldev.
'Oke, Aldev pulang sekarang!' Aldev memutuskan sambungan telfon itu setelah paham dengan perintah yang di berikan oleh ayahnya.
Walaupun merasa tidak enak dengan Ara, Aldev harus segera pergi dari tempat itu. Keputusan ayahnya adalah mutlak dan tidak bisa di bantah. Dengan terpaksa Aldev memberi tahu Ara bahwa ia harus segera meninggalkan tempat itu.
"Bee, aku harus pulang dulu. Kamu tidak apa-apa kan pulang sendiri?"
Ara menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa, tapi boleh Ara tahu Kak Al ada urusan apa?"
Sebenarnya Aldev merasa ragu untuk mengatakan urusan yang akan ia kerjakan sekarang. Akan tetapi melihat Ara yang sangat berharap atas kejujurannya. Aldev akhirnya mengungkapkan perintah apa yang di berikan oleh ayahnya.
"Kak Al harus menggantikan ayah memimpin Wild Wolf, malam ini ada operasi penjualan senjata dan ...."
"Dan o*gan manusia ilegal?" sela Ara sebelum Aldev selesai dengan ucapannya.
Aldev menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas apa yang di ucapkan oleh Ara adalah benar. Melihat reaksi yang di berikan Aldev, Ara mematung dengan tangan menutup mulutnya. Bagaimana bisa pria yang baru saja meminta cinta darinya menjadi monster menuruni bisnis gelap sang ayah.
Ara sudah lebih dari tahu tentang bisnis yang di jalani oleh ayah Aldev, Rico Maladeva. Ketua klan bengis yang suka melakukan kejahatan di mana-mana. Jelas saja Ara tahu karena kelompok Ara, Deadly Scorpion juga merupakan klan tak tertandingi. Hanya saja mereka berbeda visi dan misi yang berbanding terbalik.
"Iya, Bee. Maaf, Kakak tidak ada pilihan lain. Keturunan Maladeva hanya ada Kakak. Bagaimana bisa Kakak mau melepaskan tanggung jawab Kakak atas bisnis yang di rintis oleh Papa?"
Ara semakin terkejut dengan ucapan Aldev, sebegitu pentingkah bisnis gelap itu? Gadis itu mundur dan mengambil tas miliknya yang tergeletak di kursi.
"Kakak tahu, Ara sangat benci dengan kejahatan. Dan Kak Al justru akan melakukan itu? Kak Al akan menjadi mafia jahat seperti Papa Rico?" Ara melempar pertanyaan beruntun.
"Maaf." Aldev menundukkan wajahnya.
Pria itu paham kekecewaan yang di rasakan oleh gadis yang baru saja memutuskan menerima cinta darinya itu. Namun Aldev sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Keputusan yang di tetapkan oleh takdir tak bisa ia ubah.
"Baiklah, pergi, silahkan pergi, Kak! tapi jangan pernah menampakan diri di depan Ara lagi!" ancam Ara dengan tegas.
Pria tinggi tegap dengan rahang tegas itu mengalami dilema. Bingung untuk memilih gadis yang di cintainya sejak dulu hingga sekarang atau menuruti keputusan ayahnya untuk memimpin Wild Wolf.
__ADS_1
"Kalau Kak Al pergi, Ara anggap kita tidak pernah mengenal. Bahkan hingga Ara matipun, Ara tidak akan pernah membalas cinta dari Kak Al."
Aldev mendongak menatap Ara dengan tatapan nanar, bagaimana Ara bisa begitu tega memberi pilihan untuk dirinya? Aldev masih terdiam hingga satu panggilan kembali masuk ke ponselnya. Aldev kembali melihat ponsel untuk mengecek siapa yang menghubunginya.
"Papa," gumam Aldev.
Dengan terpaksa Aldev membalikkan tubuhnya dan melangkah menjauhi gadis yang baru saja menjadi miliknya. Aldev belum mempunyai kuasa untuk melawan keputusan dari ayahnya.
"Cih! cinta macam apa yang kamu tawarkan. Dasar pecundang!" maki Ara bersamaan dengan air mata yang mengalir dari mata indahnya.
Flashback Off
"Belum sadarkah jika semua ini adalah keputusan kamu sendiri!" bentak Ara pada Aldev yang masih mematung di tempatnya.
Bersambung...
Thanks For Reading...
_Nurmahalicious_
Mampir juga kuy ke karya Temen baik othor. keren banget deh ceritanya. Di jamin syuka. karya Yanktie Ino dengan judul Kesandung Cinta Anak Bau Kencur.
Bulrb _kesandung cinta anak bau kencur_
Steve pemuda ganteng yang telah dua kali di sakiti karena pengkhianatan. Dia lalu menjauh dari lawan jenis.
Namun siapa sangka dia malah tertarik pada gadis kecil adik temannya.
Gadis kecil yang sulit dia dapat karena mengira Steve beda keyakinan, sebab sejak ibunya meninggal memang steve ikut omanya.
Saat mereka mulai dekat, ada saja batu sandungan dari pemuja Steve
Mampukah Steve memiliki cinta anak bau kencur itu?
__ADS_1
Mampukah si kecil bertahan terhadap badai kiriman pemuja Steve?