
"Aunty Ala," teriak Rachel memanggil tantenya.
"Tenanglah, Ahel. Aunty tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakiti kalian," ujar Ara mencoba menenangkan sang keponakan.
Suara tembakan tadi berasal dari timah panas yang meluncur dengan cepat dari pistol Aracelia. Sebelum Amel sempat menekan pelatuknya, dia sudah lebih dulu berkenalan dengan peluru kesayangan perempuan dengan julukan Nona Ace.
Darah segar menetes dari tangan Amel yang terluka akibat perbuatan Ara. Sumpah serapah keluar dari bibir seksi perempuan dengan pakaian kurang bahan itu untuk seorang perempuan berpakaian serba hitam.
"Kau pikir semudah itu kau bisa melukai keluargaku, dasar wanita j*lang!" maki Ara penuh amarah.
"Argh! Beraninya kau ikut campur dengan masalahku." Amel memekik kesakitan.
"Aku, ikut campur masalahmu? Kau pikir mereka siapa? Mereka adalah keluargaku dan semua yang berani mencoba melukai mereka adalah musuhku!" Tekan Ara dengan menatap tajam wanita jahat di depannya.
"Kurang ajar! Kau tidak memiliki hak apapun atas mereka." Wanita itu berlari menyerang Ara.
Meski tangan kanannya terluka oleh tembakan Ara, akan tetapi wanita itu masih belum menyerah. Kali ini bahkan dia menyerang Ara dengan tangan kosong. Tidak mau di bilang licik, Ara akhirnya menyimpan benda kesayangannya itu ke dalam saku ketika si lawan berhasil memukul mundur dirinya.
Darah segar mengalir di sudut bibir Ara karena pukulan yang di berikan oleh wanita itu. Setelah selesai menyimpan pistol miliknya, Ara melangkah maju untuk melawan wanita itu.
Sementara itu, di rumahnya Ali tengah kelimpungan mencari keberadaan sang istri yang tiba-tiba menghilang. Pria itu keluar dari rumah untuk mencari informasi dari beberapa orang yang di percaya oleh Reiner untuk mengawasi Ara. Namun, ketika sampai di rumah minimalis yang terletak di depannya, disana sama sekali tidak ada siapapun.
"Kamu kemana, sih, Moon. Kenapa tidak pamit padaku?" gumamnya seraya kembali ke rumah.
Pria itu tidak menyadari bahwa di garasi, motor sport milik sang istri tidak ada disana. Tidak menemukan istrinya dimanapun, akhirnya Ali memutuskan untuk menghubungi Reiner.
Namun, baru saja dia akan menghubungi kakak iparnya. Tiba-tiba suara klakson dari luar terdengar. Seseorang yang mengemudikan mobil itu sepertinya tidak sabar untuk di bukakan pintu.
"Siapa, sih? Tidak sabaran sekali," rutuknya dengan kesal.
Ali kembali menyimpan ponselnya di saku lalu berlari keluar. Pria itu membuka gerbang untuk seseorang yang masih saja membunyikan klaksonnya.
"Kau lelet sekali. Cepat masuk!" Seseorang itu berteriak tanpa keluar dari mobil.
Saat melihat sang kakak ipar yang mengendarai mobil itu, Ali segera berlari dan masuk ke mobil.
"Rei, Ara hilang!" ujarnya dengan khawatir.
"Aku tahu. Anggotaku sudah berada disana, tapi sepertinya akan ada peperangan besar." Reiner segera menginjak pedal gas hingga mobil melesat dengan cepat.
Ali tentu saja kaget, ucapan Reiner semakin membuatnya mengkhawatirkan keadaan sang istri. Terlebih lagi perempuan itu sedang mengandung buah hati mereka.
__ADS_1
"Maksudmu perang bagaimana? Lalu Ara kenapa bisa di tempat itu?" tanya Ali dengan nada menuntut.
"Dia mengikuti Amel yang menculik Imel," jawab Reiner datar.
"Apa? Dia nekat sekali. Tapi Amel itu siapa?"
"Amel adalah saudara kembar istriku. Sudahlah! Kau banyak bertanya membuat konsentrasiku buyar. Kau tenang saja, semua anak buahku sudah berada di tempat. Terutama Dean dan Boy," sahut Reiner yang merasa Ali terlalu banyak bertanya.
Sedang di sebuah gubuk di tengah hutan lebat itu pertarungan semakin sengit. Ara yang sedang dalam keadaan mengandung sama sekali tidak gentar apa lagi menyerah atas serangan-serangan yang di lakukan oleh Amel.
Ternyata peperangan itu tidak hanya terjadi di dalam saja. Di luar gubuk sudah terjadi baku hantam dan baku tembak antara kubu Amel dan kubu Ara yang dengan cepat datang ke tempat itu atas perintah Reiner.
"Ara, tolong berhenti. Tinggalkan saja kami," teriak Imel yang merasa khawatir pada adik iparnya.
"Tidak, Kak. Aku tidak akan pernah meninggalkan kalian dalam situasi apapun." Ara menjawab tanpa berpaling dari pertarungannya.
"Tapi berhati-hatilah, Ara. Ingat ada bayi yang ada di kandunganmu!"
Mendengar hal itu, Amel tersenyum licik. Wanita itu berniat menyerang pada titik yang dianggap lemah olehnya. Saat ini, dia tengah mencari waktu agar si lawan lengah dari situasi tersebut.
Namun, beberapa saat menunggu momen itu. Dia sama sekali tidak mendapatkannya, Ara terlalu fokus dalam menangkis setiap serangannya yang ditujukan ke arah perut perempuan itu.
Benar saja, ketika Ara membalas pukulannya di dada Amel, wanita itu terjungkal ke belakang. Dia memegang tepat dimana Ara memukulnya tadi.
Melihat lawan telah tumbang, Ara meninggalkan wanita itu dan berniat melepaskan ikatan yang menjerat kakak dan keponakannya. Namun, dari belakang Amel tiba-tiba bangkit lalu berlari kencang ke arah Ara dengan sebilah pisau di tangan kanannya.
"Awas, Ra!"
Teriakan Imel terlambat karena pisau itu sudah menancap tepat di perut seseorang yang melindungi Ara dari belakang. Ketika Amel berlari, bertepatan dengan seseorang yang datang untuk menghentikan peperangan yang terjadi. Tidak mau perempuan yang di cintai terluka, seseorang itu segera berlari dan melindungi tubuh si perempuan dengan tubuhnya sendiri menjadi tameng.
"Al." Amel melepaskan pisau yang sudah menancap di perut saudaranya.
Tangan wanita itu sudah berlumuran darah yang berasal dari satu-satunya saudara laki-lakinya. Darah segar keluar dari perut Aldev yang terluka dan juga dari mulut pria tersebut.
Ara membalikkan tubuhnya, dia tercengang saat melihat seseorang memunggunginya. Meski baru melihat bagian tubuh belakang saja, Ara sudah dapat mengetahui siapa orang yang sudah menyelamatkannya.
"Kak Al," gumam Ara dengan lirih.
Walau dalam keadaan perut yang terluka, Aldev masih tegap berdiri. Tangan kirinya menyentuh pisau yang menancap di sana, sedangkan tangan kanannya dengan seluruh tenaga menggampar Amel yang sudah berani berniat mencelakai Ara.
"Kurang ajar! Aku tidak akan pernah memaafkanmu!"
__ADS_1
Saat Amel sudah jatuh ke lantai, Aldev mencabut pisau yang telah melukainya itu lalu dengan cepat melemparkannya ke tubuh Amel. Saking kerasnya lemparan yang di lakukan Aldev, pisau itu kembali memakan korban.
"Senjata makan tuan!" Kata itu yang terucap dari bibir Aldev, bersamaan dengan tertutupnya mata saudaranya.
Setelah membalas perbuatan Amel yang telah lancang berani berbuat sesukanya, Aldev jatuh ke lantai. Pria itu terduduk lemah karena kehilangan banyak darah.
"Kak Al, kamu membun*h saudaramu sendiri?" tanya Ara tidak percaya.
"Dia bukan saudaraku. Dia hanyalah seorang anak har*m hasil perselingkuhan papa!"
Imel sama sekali tidak menyangka dengan apa yang di lakukan dan di katakan oleh pria yang telah menolong Ara. Meskipun mereka terlahir dari rahim yang berbeda, akan tetapi ayah mereka tetap sama.
"Dasar anak tidak tahu diri! Kau berani menghabisi saudaramu hanya untuk wanita si*lan sepertinya. Papa tidak akan pernah mengampunimu, Al!"
Suara itu berasal dari ambang pintu, Aldev dengan sisa-sisa kesadarannya menyempatkan menoleh ke arah sumber suara. Benar saja apa yang dia tebak, sang ayah tidak terima karena dia telah membinasakan anak kesayangannya.
"A-pa p-apa tid-ak malu? Inikan yang papa ajarkan pada bedebah si*lan itu. Kau pikir untuk apa dia berada di tempat ini? Dia ingin memb*nuh saudara dan keponakannya sendiri hanya demi cinta. Apa yang aku lakukan, itu adalah hasil ajaran papa sendiri."
Ara beranjak dari tempatnya saat melihat seseorang yang di carinya. Memang sudah tekatnya akan mencari pria itu sampai dapat, dan sekarang di depannya pria itu justru dengan senang hati menunjukkan diri.
"Baguslah kau datang, Rico Maladeva, nyawa ibuku harus kau bayar dengan nyawamu." Ara kembali mengeluarkan pistol dari sakunya.
Kewaspadaan Rico hanya berpusat pada seseorang yang saat ini menantangnya saja. Dia lupa dengan kondisi belakang tubuhnya yang ternyata sudah ada Aditya. Pria itu belum juga sadar dengan kedatangan seseorang yang juga memiliki dendam atas dirinya.
"Sebelum kau mengambil nyawaku, aku yang akan lebih dulu mengantarmu untuk bertemu dengan Aracia."
Aldev kembali bangkit dengan sisa-sisa tenaganya. Pria itu menjadikan dirinya sebagai tameng untuk wanita yang amat di cintanya. Hal itu membuat Rico kesulitan untuk membidikkan senjatanya ke arah Ara.
"Minggir, Al!" serunya dengan kasar.
Aldev menggeleng keras. "Lebih baik papa habisi Aldev dari pada papa sakiti Ara."
Amarah itu semakin membumbung tinggi di jiwa pria yang kini di tentang oleh sang putra. Dia dengan segenap emosinya mengarahkan senjata ke arah sang putra.
"Baiklah jika itu maumu."
Suara tembakan beruntun terdengar nyaring di tempat itu bersamaan dengan derasnya darah yang mengalir disana. Seseorang tergeletak tidak berdaya di lantai bersamaan dengan hilangnya nyawa seseorang yang sudah menciptakan banyak sekali penderitaan pada orang-orang di sekitarnya.
Maaf Gays, Rahasia Istri Culunku harus tamat hari ini, tapi tenang aja. Kisahnya masih berlanjut dengan judul Dendam Cinta Tuan Alvin. Disana Alvino Maladeva yang akan menjadi pemeran utamanya. Semoga kalian suka!
_Tamat_
__ADS_1