
"Kalian ngobrol apa?" Ara bertanya di depan pintu ruangan itu.
"Nggak ngobrol Apa-apa, yakan Li?" Reiner menjawab dan meminta persetujuan Ali.
Ara beralih menatap suaminya, kenapa dirinya melihat ada gelagat aneh dari keduanya. Gadis itu menatap suaminya dengan tajam, berharap sang suami tidak membahas kegiatan mereka tadi.
"Benar Sun?" tanya Ara memastikan.
"Iya Moon, kamu ngapain kesini. Tidur aja sana, aku masih lama." ucap Ali seraya memasukkan seprei itu ke dalam mesin.
"Kamu dari tadi, belum nyuci Sun?" tanya Ara curiga.
"Ali tadi tersesat Ra, mau nyuci bukannya ke ruang laundry malah ke garasi motor gue !" Reiner berusaha membantu adik iparnya yang sepertinya kesulitan mengelak pertanyaan dari Ara.
"Kamu tersesat, Sun?" Ara semakin curiga dengan gelagat aneh suaminya.
Ali mengalihkan pandangan, berpura-pura memasukkan deterjen dan juga pelembut pakaian ke dalam mesin cuci. Melihat adiknya benar-benar susah di bohongi, Reiner berusaha menghindar.
"Li, gue tinggal yah, dah gue anter ke sini kan. Noh ada Ara, kalau gak ngerti jalan, minta gandeng sama Ara." ucapnya seraya menepuk bahu Ali.
__ADS_1
"Iya, thanks, Kak," jawab Ali singkat.
Reiner keluar dari tempat itu, membiarkan kedua orang yang baru saja berumah tangga itu untuk berdua saja. Reiner juga harus secepatnya pulang, dirinya menginap di mantion. tanpa memberi tahu sang istri, pasti di rumah Imel juga sedang marah-marah.
"Sun, kamu tidak bicara aneh-aneh kan?" tanya Ara ketika mereka hanya berdua di ruangan itu.
"Iya, Moon. Sana kamu tidur, aku mau selesaikan dulu cucian ini," Ali menyuruh istrinya untuk beristirahat karena tahu Ara pasti kelelahan, apalagi saat ini dia sedang datang bulan.
"Ayo, tidur bersama, Sun. Itu tinggal saja, biar di lanjutkan Maid." Ara menggenggam tangan Ali untuk mengajaknya ke kamar.
"Kamu, ketagihan ya, Moon." Ali mengedipkan matanya.
"Ketagihan dengan apa, Sun?" tanya Ara, karena dia sama sekali tidak paham dengan yang di maksud oleh sang suami.
"Ketagihan kaya semalam, Moon." bisik Ali di telinga Ara.
Mendengar kata-kata yang di bisikkan oleh Ali, Ara justru membulatkan matanya, lalu tangan mungilnya reflek memukul dada Ali cukup kencang.
"Awh, sakit, Sun. Kenapa memukulku?" pekik Ali sambil mengusap dadanya yang nyeri akibat hantaman istri culunnya.
__ADS_1
"Biarin, siapa suruh bahas itu." Ara berjalan meninggalkan Ali di ruang laundry. Ali mengejar langkah istrinya yang sedang mode garang.
"Moon, maaf, aku kan hanya bercanda." Ali berusaha menggapai tangan Ara untuk menghentikan langkah istrinya. Ara menghentikan langkahnya karena salah satu tangannya di genggam oleh Ali.
"Aku tidak suka dengan bercandaan konyol seperti itu. Kamu tahu sendiri, aku sedang datang bulan, kan?" Ara menatap Ali dengan sinis.
"Iya, iya, maaf," Ali tahu, mungkin Ara masih dalam emosi, karena hari ini, hari pertama datang bulan. Ali cukup paham dengan emosi wanita yang sedang kedatangan tamu bulanannya.
"Tidak perlu meminta maaf." Ara melangkah kembali, meninggalkan Ali yang hanya bisa menyesali dengan guyonan recehnya. Ternyata Ara sangat susah untuk di rayu.
Ali berlari untuk menyusul langkah sang istri yang sudah berada di tangga, begitu sudah dekat. Ali segera memeluk Ara dari belakang, Ali tidak mau istrinya dalam emosi tinggi berkepanjangan.
Ara kembali menghentikan langkahnya, karena merasakan pelukan hangat dari punggungnya. Sepasang tangan besar melingkar di perutnya, dan wajah yang bersandar di ceruk lehernya.
"Lepas, atau aku banting kamu !"
BERSAMBUNG...
Thanks For Reading...
__ADS_1
_Nurmahalicious_