
"Apa Mi? Mami serius? bocah itu mau bulan madu atau treveling? yang benar saja!" tanya Reiner menggebu, sama sekali tidak menyangka kalau akan ada ide aneh dari suami Ara.
"Serius, karena Mami yang minta dan Ali tidak pernah menolak permintaan Mami. Sekarang saja mereka punya jadwal menginap di sini setiap satu bulan sekali, Ali berbeda dengan kamu yang selalu saja menolak jika Mami minta untuk menginap di sini," jawab Mami Jane seraya membandingkan Reiner dengan Ali.
"Kenapa membandingkan Ali dengan Rei? Mami tahu sendiri kalau Rei sibuk kan?"
"Iya kamu selalu sibuk, sibuk dan sibuk sampai tidak pernah memikirkan perasaan Mami. Mami kesepian Rei!" Mami Jane mengungkapkan perasaannya.
Sebagai seorang wanita paruh baya ia sudah cukup ingin hidup tenang di dalam kehangatan keluarga. Namun nyatanya Papi Adit masih saja sibuk dengan bisnis, sedangkan Reiner selalu sibuk dengan urusannya. Bahkan Imel tidak pernah menginap di mantion miliknya, Mami Jane selalu berharap bisa lebih dekat dengan Rachel sang cucu pertamanya.
"Maaf, Mi. Rei Minta maaf,"
Melihat kesedihan Mami Jane Reiner segera mendekap sang Mami. Reiner tahu ini kesalahannya karena jarang sekali berada di mantion. Hanya karena kesibukannya mengurus RAS Entertain dan Deadly Scorpion hingga melupakan kewajibannya untuk selalu ada untuk orang tuanya.
Wanita paruh baya dalam pelukan Reiner itu meneteskan air matanya. Dia sudah cukup lelah dengan kegiatannya selama ini, keinginannya di hari tua adalah bahagia dengan suami, anak-anak, dan cucunya.
"Sekarang, Mami tidak perlu ke Korea lagi. Rei pastikan Imel dan Rachel akan tinggal di sini jika Mami tidak menyibukkan diri di luar terus." ujar Reiner seraya menghapus air mata Mami Jane.
"Benarkah? kamu serius?" tanya Mami Jane antusias.
Reiner tersenyum saat melihat sorot kebahagiaan di mata Mami Jane. Saat ini dia akan memprioritaskan sang Mami dari pada apapun. Kebahagiaan Mami Jane adalah segalanya untuk Reiner, terbukti dengan dia yang berusaha membawa Ara dalam kehidupan mereka.
"Sekarang Rei pulang dulu, Rei mau bicarakan ini dengan Imel. Imel pasti senang Mi, sebenarnya ini semua salah Rei. Rei yang tidak pernah mengajak Imel untuk tinggal di sini, padahal sudah beberapa kali Imel merengek ingin ke sini."
Mendengar pengakuan sang putra Mami Jane langsung melayangkan jeweran di telinga Reiner. Jadi ini semua ulah Reiner, bukan karena sang menantu yang tidak mau dekat dengannya. Mami Jane sudah salah paham dalam menilai sang menantu.
"Awwh, aw ... sakit, Mi." rengek Reiner manja.
__ADS_1
"Kau ini mafia macam apa? di jewer saja sudah teriak-teriak." Mami Jane melepaskan jewerannya.
Sebenarnya Reiner hanya bergurau dengan rengekan itu agar sang Mami tidak merasa sedih lagi. Sebagai seorang putra Reiner sudah berusaha melakukan yang terbaik, tapi nyatanya dia masih lalai dan membuat Maminya menangis.
"Rei lebih baik di tembak sepuluh peluru secara bersamaan dari pada di jewer Mami satu kalipun," ujar Reiner serius.
Ucapan Reiner membuat Mami Jane membulatkan matanya. Bagaimana bisa Reiner berucap seperti itu? mau sekuat apapun putranya, Mami Jane tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Kalau kau sampai membiarkan tubuhmu tertembak, Mami akan menghukum kamu dengan seratus jeweran Rei."
Ancaman yang di keluarkan oleh Mami Jane semakin membuat Reiner tertawa senang. Maminya masih saja mengancam akan menjewer telinga jika ia melakukan kesalahan. Hukuman yang seharusnya hanya berlaku untuk anak kecil justru menjadi hal paling di takuti oleh mafia sekelas Reiner.
"Awwh, Mami kenapa menjewer lagi, sih?"
Karena melihat Reiner yang justru tertawa dengan ancamannya Mami Jane semakin kesal dan dengan senang hati menjewer telinga sang putra.
"Salah sendiri, Mami serius kamu malah bercanda!"
"Helleh, gaya aja. Noh di perut sama lengan apa kalau bukan bekas tembakan?" ucap Mami Jane mengingatkan kalau Reiner amnesia.
"He-he, ini kan jaman Rei masih bujang, Mi. Masih punya jiwa membara untuk bertarung,"
"Jadi sekarang sudah loyo? berikan saja Deadly Scorpion pada Ferry. Kamu fokus bikin anak yang banyak," gurau Mami Jane.
Mami Jane memang pribadi yang suka bergurau. Wanita paruh baya dengan lesung pipi yang semakin mempercantik wajahnya itu selalu bisa menghidupkan suasana. Terbukti dengan ia yang mudah bersosialisasi di lingkungan barunya.
"Mami, kalau masalah anak Mami tidak perlu khawatir. Rei akan membalap Ara yang pengantin baru nanti saat bulan madu," ujar Reiner membanggakan dirinya.
__ADS_1
"Wah, Mami akan lebih senang kalau kalian banyak anak. Jadi Mami tidak akan kesepian lagi di mantion," ucap Mami Jane dengan mat berbinar.
Melihat kesenangan yang di rasakan sang Mami membuat Reiner semakin bahagia. Akhirnya sang Mami lepas dari kesedihannya, dan hal itu membuat Reiner memiliki ide gila untuk menggoda sang Mami saat ini.
"Mami enggak akan kesepian lagi kalau kita bertiga balapan Mi" ucap Reiner seray mengedipkan sebelah matanya.
"Balapan apa maksud kamu?" tanya Mami Jane curiga.
Reiner memang terlihat dingin dari luar. Image bijaksana selalu melekat dalam diri Reiner saat di luar lingkup keluarganya. Namun siapa sangka jika di lingkungan keluarga Reiner adalah pribadi yang suka bercanda bahkan memiliki hobi menjahili orang-orang yang di sayanginya.
"Balapan bikin anak, Mi. Beri Rei dan Ara adik yang lucu," bisik Reiner di telinga Mami Jane seraya berlari menjauh dari Mami Jane.
"Reiner Aditia Sanjaya!" teriak Mami Jane kesal dengan guruan sang putra.
Bersambung...
Gengs aku udah buat Grup Chat loh, kalau mau masuk silahkan ya, Aku pasti terima dengan senang hati. Biar kita bisa lebih dekat lagi, jangan lupa juga Follow akun penaku yah.
Thanks For Reading...
_Nurmahalicious_
Gays Mampir yuk ke karya bestie othor ini.
Karya Asire dengan judul SANG RATU MALAM.
__ADS_1
Malam adalah dunianya. Ia akan aktif beraktifitas saat malam menjelang. Ia sangat suka mengikuti ajang balap liar. Sebab dengan mengikuti hal tersebut, ia dapat menghilangkan sejenak beban pikiran dan derita hidup yang dialaminya. Ia mempertaruhkan hidup dan matinya di atas jalanan. Selain hasil dari taruhan yang mengiurkan.
Ia berjuang hidup mengandalkan sepuluh jarinya sendiri dalam mempertahankan hidupnya di tengah kerasnya kehidupan ibu kota. Terkadang ada rasa iri menyelinap ke dalam relung hatinya yang paling dalam. Mengapa Tuhan tidak adil padanya. Hingga suatu saat ia bertemu dengan seseorang. Akankah seseorang itu dapat mengubah jalan takdir hidupnya ke arah yang lebih baik. Atau malah semakin menenggelamkan dirinya dalam hitam pekatnya malam.