
Dean keluar dari markas Wild Wolf setelah mendapat kabar dari salah satu kawannya di Deadly Scorpion. Remaja yang tubuhnya lebih besar dari ukuran normal para remaja itu berjalan tergesa menuju sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari markas itu.
Melihat seseorang yang ingin di temuinya berjalan ke arah mobil. Seorang pria yang sejak tadi berada di mobil itu membuka pintu dan keluar. Berdiri bersandar pada pintu mobil dengan menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Mau apa kemari, Boy? Kau ingin mencari masalah?" tanya Dean pada seseorang yang berdiri dengan angkuh di depannya.
Seseorang itu adalah Boy Wilson, teman dekat Dean di markas. Bahkan Dean sudah menganggap pria itu adalah adiknya. Dia datang atas perintah Aracelia, pemimpin kedua yang berpengaruh di Deadly Scorpion.
Boy membuang muka dengan bibir terangkat, dia sangat tidak suka dengan sapaan dari pria yang umurnya tidak jauh darinya itu. Pria yang mengaku menganggapnya sebagai adik, tetapi menyambutnya dengan nada buruk.
"Kak, Nona Ace menyuruhku kemari. Tenang saja, aku juga akan menyamar sepertimu." Boy membuka pintu mobil dan mengambil sebuah kantong.
Saat mendengar bahwa Boy datang atas perintah Nona mudanya, Dean hanya membuang nafas kasar. Kalau sudah begini, itu tidak akan bisa di ubah lagi. Titah Nona Muda sudah seperti titah Tuan Muda. Tidak boleh di bantah.
__ADS_1
"Kau kesal, Kak? Apa perlu aku hubungi Nona Ace?" ancam pria bertubuh tinggi itu.
"Berani mengadu pada Nona, ku cincang kau, Boy!"
Pria yang tidak kalah tampan dari Dean itu hanya tergelak saat mendapat ancaman dari rekannya. Jangankan untuk mencincang, pria di hadapannya itu bahkan selalu ketakutan saat mendapati dirinya terluka. Entah itu luka tembak atau luka luar, apapun itu.
"Lalu mobilmu ini, bagaimana?"
"Nanti akan ada yang mengambilnya. Kau jangan seperti orang susah, Kak. Kita hidup terjamin oleh Tuan." Boy mengambil sebuah Hoodie dan topi dari kantong yang dibawanya.
Meskipun kesal, Dean menurut pada pria remaja yang menggiringnya masuk ke dalam markas Wild Wolf. Bukan kesal karena dia akan mempunyai saingan untuk menyelesaikan misi, tetapi dia kesal jika nanti remaja yang sudah dia anggap adiknya sendiri itu mendapat bahaya.
"Selalu pakai headphonemu! Jika ada apa-apa saat tidak bersamaku, segera hubungi aku!"
__ADS_1
Boy mengangguk dan mengangkat tangan kanannya di kening. Membentuk tanda hormat atau lebih tepatnya siap melaksanakan tugas.
Mereka berdua masuk ke dalam markas yang terdapat banyak sekali anggota yang berpatroli. Keduanya bergabung pada salah satu kelompok yang memang sudah di cuci otaknya oleh Dean.
Walaupun tidak membuat mereka memihaknya, setidaknya mereka bisa menjadi batu loncatan untuknya bertahan di markas lawan. Cerdik bukan? Dean memang sudah terlihat memiliki kemampuan untuk menyerap ilmu dengan cepat. Apapun yang di ajarkan, pasti mudah di serap oleh remaja itu. Apalagi dia memang sudah berada di lingkungan mafia sejak berusia 6 tahun.
Apapun yang terjadi di depan matanya, Dean mudah sekali menirukannya hingga membuat Reiner memberikan bimbingan khusus padanya saat usianya menginjak 9 tahun.
Dean adalah seorang yang tidak pernah puas dengan apa yang di capainya. Dia seorang anak yang ambisius, tetapi kesetiaannya tidak bisa di ragukan. Remaja itu bahkan berani bertaruh nyawa demi keluarga Reiner.
"Ah, enak sekali jadi kamu, Kak. Bisa cuci otak orang. Kalau aku, ingin belajar cuci kesalahan," ujarnya dengan senyum lebar.
Pria yang menggunakan jaket hitam itu mendelik tajam ke arah Boy. Di tempat lawan, dia masih berani mengoceh sembarangan.
__ADS_1
Bersambung...