Rahasia Istri Culunku

Rahasia Istri Culunku
sikap aneh Ara


__ADS_3

Seorang perempuan muda nan cantik yang sejak tadi sibuk dengan urusan perdapurannya kini sudah selesai berperang dengan segala peralatan rumah tangga. Perepuan itu naik ke lantai dua untuk memanggil semua anggota keluarganya yang kebetulan tengah berkumpul di mansion utama. Selesai memasak, Imel berniat mengajak semua keluarganya untuk sarapan pagi bersama.


Perempuan itu mendekat ke sebuah ruangan yang tengah ramai dengan canda tawa dari segerombolan orang yang tengah menggoda satu gadis kecil. Tawa riang dari mereka semua membuat si perempuan merasa amat bahagia.


Melihat sang putri hidup di penuhi oleh kasih sayang dari orang-orang di sekitarnya membuat Imel bersyukur. Setidaknya sang putri tidak memiliki nasib seperti dirinya yang terbuang bahkan oleh ayah kandungnya sendiri.


Air mata selalu tidak bisa di bendung ketika ingatan perempuan itu kembali pada saat-saat dirinya kecil dulu. Bukan kasih sayang yang di ajarkan oleh sang ayah, melainkan bertarung, berkelahi dan saling menyakiti. Sementara dirinya sama sekali tidak memiliki sifat-sifat yang di ajarkan oleh sang ayah. Hal itu yang membuat dirinya di sisihkan.


Imel mengusap kasar air mata yang mengalir di pipinya. Senyuman seterang matahari terbit dia ukir di bibirnya. Imel berusaha agar tidak ada seorangpuj yang mencurigai kesedihannya. Namun, sang ibu ternyata memperhatikan apa yang terjadi kepada putri bungsunya.


'Maaf, Sayang, Mama tidak bisa memberikan kamu kehidupan yang layak. Mama terlalu lemah hanya karena cinta buta Mama pada papamu,' batin wanita bertubuh kurus itu.


Imel mendekat lalu menyapa semua orang yang ada disana. Mereka berbincang-bincang sebentar dan sesekali tawa kembali terdengar. Ara dan Ali yang baru saja keluar dari kamar sampai merasa penasaran dengan apa yang terjadi di ruangan itu. Mereka terlihat asik tertawa hingga suaranya begitu keras terdengar.

__ADS_1


"Kalian sedang apa, sih?" tanya Ara penasaran.


"Kita sedang menggoda Rachel, Ace, keponakanmu ini sangat lucu sekali." Mami Jane menjawab seraya menepuk tempat duduk di sebelahnya.


"Oh," jawab Ara singkat.


Perempuan itu masih merasa kesal dan tidak terima dengan apa yang terjadi kepada orang tuanya akibat dari kakek keponakannya sendiri tersebut. Rasa kesal Ara bahkan sampai merembet kepada gadis kecil yang sama sekali tidak memiliki salah apa-apa.


"Aku tidak apa-apa, mungkin efek kehamilan saja. Aku ingin pulang sekarang, Sun!" rengek Ara kepada sang suami.


Papi Adit dan Reiner masih memperhatikan gerak-gerik Aracelia yang memang aneh. Sejak mengetahui kenyataan itu kemungkinan Ara memang akan berubah sikap kepada setiap orang yang memiliki hubungan darah dengan Rico. Papi Adit sudah menduga hal itu.


"Lah, kok pulang, Ra, aku sudah masak banyak loh untuk sarapan kita semua!" seru Imel menahan sang adik untuk membatalkan rencananya untuk pergi dari sana.

__ADS_1


Ara berusaha memaksa bibirnya untuk tersenyum, dan hal itu amat sangat terlihat jelas bahwa senyuman perempuan itu bukan iklas dari hati. Mami Jane juga dapat merasakan hal itu hanya dengan berdampingan dengan Ara.


"Maaf, Kak, lain kali saja. Aku tidak lapar, lagi pula kedua anakku ini sedang tidak ingin makan sarapan yang terlalu berat." tolak Ara tanpa rasa tidak enak.


Meski kecewa, akan tetapi Imel berusaha untuk berpikir positif mungkin saja adik iparnya itu memang masih ngidam dan moodnya sangat buruk. Hal itu sangat normal untuk ukuran ibu hamil muda, apa lagi adik iparnya itu hamil anak kembar.


"Ayo, Sun." Ara bangkit dan menarik Ali menjauh dari tempat tersebut.


Perempuan itu bahkan sampai lupa berpamitan dengan orang tua angkatnya. Rasa yang bercampur aduk di hati perempuan itu membuatnya mengacuhkan semua anggota keluarganya. Entah karena dendamnya atau memang karena ngidamnya.


"Ace, kau lupa bahwa Mami dan Papi ada disini?"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2