Rahasia Istri Culunku

Rahasia Istri Culunku
Ancaman


__ADS_3

Kedua wanita itu tersentak dengan apa yang di lakukan oleh Reiner. Pria itu terlihat sangat emosi, terbukti dari tatapan yang semakin tajam menghujam mereka. Rahang pria itu mengeras sempurna dengan jakun yang naik turun.


Wanita yang berada di atas kursi roda itu menundukkan kepalanya. Baru kali ini dia melihat sang pria yang dulu begitu lembut, berubah menjadi menyeramkan. Tatapan yang dulu penuh cinta, sekarang menjadi tatapan benci untuknya.


"Rei, kau tidak berniat melihat bukti-bukti yang lainnya?" tanya wanita yang berada di samping Kayla, saat pria itu hendak bangkit.


Pria itu mengurungkan niatnya, kembali duduk di kursi tunggal yang sejak tadi menjadi saksi kebosanannya seorang diri. Melirik kembali map yang tertutup karena ulahnya.


Tangan besar pria itu terulur kembali meraih map berwarna kuning yang ada di depannya. Mengeluarkan beberapa barang yang ada di dalamnya. Sebuah flashdisk dan surat yang di tulis tangan. Karena di depannya belum tersedia laptop, Reiner memutuskan untuk mengambil sebuah kertas yang dia yakini adalah surat perjanjian. Sementara Ferry keluar dari tempat itu, meninggalkan Reiner bersama dengan ketiga orang disana.


Reiner membaca kata demi kata yang terangkai di atas kertas itu. Sebuah coretan tangan dengan tinta berwarna merah. Di bagian paling bawah terdapat tanda tangan di atas materai, yang pria itu kenali adalah tanda tangan wanita yang kini duduk di atas kursi roda.


Mata tajam yang kini di penuhi emosi itu mendelik, mencoba kembali mengulang kata yang terdapat di dalam kertas itu dari awal hingga akhir. Disana tertuliskan bahwa Mikayla Jakson harus meninggalkan Reiner, dengan jaminan keselamatan keluarga wanita tersebut. Di atas surat itu juga terdapat ancaman yang menyangkut tentang bisnis dari ayah angkat pria yang kini tengah membaca lembaran surat itu.


"Siapa yang melakukan ini?" tanya Reiner dengan emosi.


Wanita yang ditanya hanya diam dengan pandangan menunduk, menyembunyikan kesedihannya seorang diri. Dia juga merasa bodoh saat itu, dia memutuskan meninggalkan pria yang di cintai demi keselamatan keluarganya yang ternyata juga tidak bisa dia perjuangkan.


Orang yang membuat perjanjian dengannya sama sekali tidak memegang janjinya, setelah mencelakai pria itu, dia dan keluarganya juga di celakai. Semua anggota keluarganya di bant*i, di depan matanya sendiri. Wanita itu bahkan menjadi korban terakhir orang-orang kejam itu.


"Kay! Jawab aku! Siapa yang melakukan ini?" tanya Reiner semakin emosi.


Pria itu benar-benar di kuasai oleh amarah, siapapun yang melakukan itu, dia yakin bahwa dialah target utamanya. Namun yang membuatnya emosi, kenapa harus menjadikan keluarga sebagai jaminan?


"Dua orang yang berada di dalam foto itu," ujar Kayla dengan lirih.


Reiner semakin emosi saat mendengar jawaban dari wanita itu. Dia tidak percaya jika sang istri ikut dalam kejahatan tersebut. Istrinya itu adalah orang baik, tidak mungkin jika dia terlibat dengan aksi kriminalitas.

__ADS_1


"Kau mau memfitnah istriku!"


"Jangan termakan emosi dulu, Rei! Kau belum selesai dengan semua bukti yang kita miliki," ujar wanita di samping Kayla.


Ferry datang dari pintu masuk, pria kepercayaan Reiner itu membawa sebuah laptop yang memang selalu dia bawa kemana saja. Ferry meletakkan laptop miliknya di depan Reiner, pria itu mengambil flashdisk yang masih tergeletak di meja itu.


Ferry memasukkan flashdisk pemberian wanita itu ke dalam laptop miliknya, mengotak-atik barang tersebut hingga sebuah rekaman Vidio berputar.


Reiner menajamkan penglihatannya untuk mengamati Vidio yang memang sebenarnya sudah jelas, hanya saja pria itu mungkin tidak mau melewatkan sedikitpun yang ada di Vidio itu.


Di dalam Vidio itu memperlihatkan bahwa di dalam sebuah ruangan yang hampir tanpa penerangan, hanya ada sebuah lampu gantung di atas kepala seorang wanita yang duduk terikat di sebuah kursi kayu.


Pinntu terbuka di bagian samping, hingga cahaya dari arah luar masuk, membuat wanita yang tengah tertidur itu merasakan silau dan tersadar. Dari arah cahaya itu berasal, tiba-tiba dua orang masuk dan berjalan mendekatinya.


Wanita itu memperhatikan kedua orang yang berjalan ke arahnya. Seorang pria tinggi dan seorang wanita ramping mendekatinya.


"Kalian siapa?"


Wanita yang terikat di kursi membalikkan pertanyaan, dia sama sekali tidak mengenal kedua orang itu, tetapi kenapa dia sampai terikat di tempat gelap ini?


Kedua orang itu duduk di depan wanita yang sedang merasa ketakutan. "Kau baca surat ini, setelah itu tanda tangani." Wanita itu menyodorkan sebuah surat dengan tinta merah.


Karena wanita itu dengan kondisi tangan terikat, dia tidak bisa mengambil surat yang di berikan. Hanya membaca surat itu sekilas, tetapi dia merasa kaget dengan apa isi yang ada di dalam surat tersebut.


"Kalian ingin aku menghianati Reiner? Kalian kenal dengan calon suamiku?" tanyanya beruntun.


"Cih! Calon suamimu? Dia akan menjadi suamiku!" seru sang wanita.

__ADS_1


Wanita yang duduk sendirian itu terkejut dengan ucapan dari wanita yang ada di depannya. "Maksudmu apa? Reiner tidak mungkin menghianatiku!" seru wanita yang sejak tadi merasa ketakutan. Kini keberanian sedang berada dalam dirinya.


Wanita itu menggebrak meja, sedangkan pria yang ada di sampingnya tertawa jahat. "Kau berani membentak ku? Padahal nyaw* keluargamu berada di ujung tanduk!"


Keberanian itu hilang sudah, ketika keluarganya di ikutsertakan dalam permasalahannya. Jika dia memilih sang pujaan hati, itu berarti dia egois. Demi cinta, rela kehilangan keluarga. Namun dia juga merasa bimbang, jika dia mengatakan semua ini pada kekasihnya, apakah sang kekasih bisa melindungi mereka.


Wanita yang tengah berada dalam ancaman itu terdiam begitu lama. Bingung untuk memutuskan apa yang harus dia pilih, antara keselamatannya dan keluarga atau cintanya pada sang kekasih.


"Kau tahu, semua keluargamu tengah dalam bahaya sekarang! Dan kau, masih saja egois memilih cinta b*tamu itu!"


Pria paruh baya yang berada di samping gadis itu mengeluarkan sebuah ponsel, lalu mengotak-atik barang tersebut, memperlihatkan pada wanita yang kini semakin terkejut dengan apa yang dilihatnya.


"M-mau ka-lian apakan keluargaku?" tanya wanita itu dengan gemetar.


"Mengirim mereka semua ke surga!, kalian, cepat eksekusi mereka!" seru pria itu memerintahkan semua anak buahnya yang memegang senjata.


"Jangan!"


Wanita yang duduk di kursi roda itu berteriak, bersamaan dengan berakhirnya sebuah Vidio ancaman itu. Kembali melihat dan mendengar apa yang ada di dalam Vidio tersebut, membuat ingatannya kembali pada kejadian 8 tahun yang lalu.


"Jadi, Imel tidak sebaik yang aku kira."


Reiner mengepalkan kedua tangannya, lagi-lagi dia harus menerima penghianatan cinta. Kali ini, bahkan terasa lebih sakit dari apa yang dia rasakan dahulu.


"Fer, apakah masih ada Vidio yang lain?" tanya Reiner tegas.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2