
Sepasang suami istri baru saja selesai menyantap sarapan sederhana yang di masak dengan penuh cinta oleh sang suami untuk istri tercintanya yang tengah mengandung.
Karena hari ini adalah hari libur, Ali tidak pergi ke kantor. Pria itu sebenarnya memiliki agenda lain yaitu bertemu dengan Reiner untuk di kenalkan dengan seseorang yang akan mengajarinya beladiri karena kemarin dia harus membatalkan rencana itu akibat meeting yang tidak bisa di batalkan.
Saat inipun Ali sedang berusaha memutar otak agar sang istri mengizinkan dirinya untuk keluar dari rumah. Perempuan yang sedang mengandung dua janin di perutnya itu tiba-tiba berubah menjadi perempuan manja yang tidak mau di tinggal sedikitpun.
Seperti saat ini, keduanya tengah berbaring di atas ranjang dengan posisi sang istri menjadikan perutnya sebagai bantal. Tidak hanya sampai di sana saja, Ara bahkan meminta sang suami untuk selalu mengelus perutnya yang masih rata.
"Moon, aku sama sekali tidak boleh keluar?" tanya Ali kembali memastikan.
Pria itu berharap sang istri akan berubah pikiran dan mengizinkan dirinya untuk keluar. Namun, beberapa kali-kali bertanya, jawabannya tetap sama.
"Sekali aku bilang tidak, ya tidak! Memangnya kamu ada perlu apa? Sepenting itukah sampai kamu mau meninggalkan istri kamu?" Bukan hanya jawaban yang di dapatkan, melainkan juga pertanyaan yang bernada tuduhan.
Ali menjambak kasar rambutnya sebagai pelampiasan rasa kesal, akan tetapi pria itu segera melepaskan tangan kiri yang sejak tadi menyiksa kepalanya ketika sang istri menatap horor ke arahnya. Ali meringis saat perempuan hamil itu mengacungkan kepalan tangan ke arahnya.
"Aku hanya ingin keluar sebentar, Moon," jawab Ali yang sudah frustasi.
Pria itu tidak mungkin mengaku bahwa tujuannya adalah markas Deadly Scorpion untuk berlatih disana. Kalau sampai sang istri tahu tentang rencananya yang akan meminta bantuan kepada salah satu anggota klan yang di pimpin oleh istrinya sendiri, dia pasti akan menjadi bahan ejekan perempuan hamil tersebut.
Ara menoleh sekejap sebelum akhirnya kembali mengalihkan pandangannya. "Kamu tidak tahu kalau hari ini weekend? Seharusnya hari libur itu di gunakan untuk menikmati hari bersama keluarga! Kamu malah mau keluyuran di luar sana tidak jelas."
'Ini juga yang dulu selalu kamu lakukan, Moon. Menghabiskan waktu di markas sampai kabur-kaburan tengah malam,' batin Ali yang berani berkomentar.
"Sekarang diam karena tidak memiliki alasan lain. Aku curiga kamu di luar sana punya selingkuhan, Danish!" seru Ara seraya kembali memberikan tatapan tajam ke arah suaminya.
__ADS_1
Sementara Ali yang mendapat tuduhan serta tatapan tajam sang istri hanya bisa menelan ludahnya sendiri. Tangannya kini mengusap wajahnya dengan kasar.
Pria itu sudah kehabisan ide untuk mencari alasan agar sang istri mengizinkan dirinya untuk pergi. Semakin lama dia meminta izin, akan semakin banyak pula tuduhan kejam yang keluar dari mulut pedas istrinya sekarang.
Sepertinya perempuan hamil itu memiliki dua kepribadian sekaligus setelah mengandung dua janin kembar. Sifat-sifat yang tidak di miliki Ara ketika perempuan itu belum hamil, kini justru lebih dominan.
Ara yang dulu lembut dan bijaksana, kini justru berubah jadi manja dan pemarah. Ali sampai kuwalahan untuk menghadapi sifat sang istri yang jauh berbeda dengan ketika mereka baru menikah.
"Atas dasar apa menuduhku berselingkuh, kamu punya bukti yang kuat?" tanya Ali membela diri.
Saat mendengar pembelaan yang di lakukan oleh Ali, Ara membuang pandangan ke samping kiri. Entah kenapa hari ini memang dia sangat ingin mendapatkan perhatian dari pria yang sudah menikahinya tersebut. Namun, suaminya itu terkesan ogah-ogahan memberinya apa yang di inginkan.
"Ya sudah, pergilah kalau memang ingin pergi! Aku tidak akan melarangmu lagi." Ara bangkit dari posisinya.
Perempuan itu bahkan melangkah menjauhi sang suami yang menatapnya dengan rasa bersalah, istrinya memutuskan untuk keluar dari kamar. Kini Ali bimbang untuk mengambil keputusan. Antara pergi, tetapi melukai hati istrinya atau tinggal tetapi kembali mengecewakan sang kakak ipar.
Pria itu mengalihkan pandangan ke sumber suara. Ali sudah dapat menebak siapa yang menghubunginya saat ini. Dengan malas pria itu mengambil ponsel miliknya. Hembusan napas berat keluar saat Ali sudah membuktikan sendiri seseorang yang menghubunginya adalah orang yang sama dengan tebakannya.
"Iya, Kak," jawabnya ketika panggilan sudah tersambung.
"Kau mau datang jam berapa?" tanya orang di seberang sana.
"Sepertinya aku tidak bisa datang, Kak!"
"Kau ini sebenarnya niat ingin belajar atau tidak? Jangan membuang waktuku yang berharga."
__ADS_1
'Sudah aku duga, Reiner pasti murka karena menganggap aku hanya ingin bermain-main!' batin Ali yang merasa serba salah.
Belum apa-apa Ali sudah mendapatkan dua tuduhan kejam dari sepasang kakak beradik itu. Memang susah kalau berurusan dengan para mafia yang memiliki sifat dingin. Salah sedikit saja, mereka pasti murka besar-besaran tanpa ingin mendengar penjelasan lebih dulu.
"Kak, jangan terbawa emosi dulu! Aku memiliki alasan yang kuat untuk hal ini," ujar Ali yang mencoba memberikan pengertian untuk sang kakak ipar.
"Memangnya apa alasanmu?" tanya Reiner yang merasa bosan dengan alasan yang di berikan oleh suami dari adik tersayangnya.
"Ara tiba-tiba manja, dia tidak mau di tinggal kemanapun ...."
Belum selesai Ali mengatakan alasannya, suara tawa yang menggelegar terdengar dari seberang sana. Ali yakin, pelakunya adalah Reiner. Seperti dugaan pria tersebut tidak mungkin percaya begitu saja dengan alasan yang di berikan.
Ali memutuskan untuk diam sampai kakak iparnya itu selesai mentertawakan dirinya. Percuma juga kalau dia tetap melanjutkan ucapannya, tidak mungkin terdengar oleh suara Reiner yang pastinya lebih keras dari suaranya.
"Kau jangan mengada-ada, Li! Adikku itu tidak mungkin manja. Dia adalah Queen Mafia yang tangguh, mana mungkin sampai memiliki sifat itu di dalam dirinya?" tanya Reiner yang tetap belum bisa mengontrol tawanya.
Ali merotasikan kedua bola matanya malas. Lagi-lagi dugaannya tidak meleset, kakak iparnya itu akan menuduhnya mengada-ada sesuatu yang mustahil. Padahal pada kenyataannya memang itulah yang terjadi.
"Kalau kau tidak percaya, tidak apa-apa. Yang jelas untuk saat ini aku lebih mementingkan mood istriku yang tengah mengandung buah cintaku!" seru Ali seraya mengakhiri panggilan tersebut.
Benar-benar percuma meyakinkan seorang Reiner. Pria itu bersikap seperti hanya dirinyalah yang tahu dan paham tentang sosok Aracelia. Yang nyatanya sejak hamil mengalami banyak sekali perubahan.
Ali sendiri tidak bisa menyalahkan siapa-siapa, kakak iparnya pun tidak salah. Pria itu memang sudah hidup bersama istrinya puluhan tahun lamanya. Sang istri juga tidak salah, karena perempuan itu berubah sesuai dengan apa yang dia rasakan ketika hamil.
Kondisi yang tidak di rencanakan oleh siapapun bisa terjadi ketika perempuan itu tengah mengandung. Semua terjadi secara tiba-tiba tanpa bisa di cegah oleh siapapun.
__ADS_1
"Semoga aku selalu bisa bersabar dalam menghadapi istriku, Ya Allah."
Bersambung...