
Seorang pria tampan sedang menggandeng wanita cantik, tangan kekarnya menggendong seorang gadis kecil berusia sekitar 4 tahun.
"Sayang, kenapa mengajak kita keluar?" tanya sang wanita kepada pria yang menggandengnya.
"Aku sudah bilang, 'kan? Setelah pulang, aku akan mengajak Rachel jalan-jalan. Nanti pulangnya kita beli pabrik ice cream!" jawabnya santai.
Wanita itu mendelik saat mendengar jawaban sang suami. "Kau serius, Rei?"
Ya laki-laki itu adalah Reiner Aditia Sanjaya bersama dengan sang istri Imel dan Rachel. Begitu sampai di mansion Papi Adit, laki-laki itu langsung mengajak istri dan anaknya untuk jalan-jalan. Seperti janjinya sebelum berangkat ke negara Jepang kemarin.
"Aku tidak pernah berbohong, Sayang. Lagipula uangku tidak akan habis kalau hanya membelikan Rachel sebuah pabrik ice cream! Kau tahu, anak kita ini akan membagikan ice cream gratis untuk anak-anak tidak mampu nantinya. Jadi sebagai ayah, aku harus mendukungnya, 'kan?" ujar Reiner seraya mencium pipi gembil putri kesayangannya.
Imel menatap putrinya itu dengan tatapan bangga, ternyata Rachel akan menjadikan hadiah sang ayah untuk berbagi kebahagiaan untuk anak-anak yang kurang beruntung. Dia sendiri bahkan tidak pernah terpikirkan akan hal itu.
"Ahel anak baik, teruslah berbuat baik, Sayang. Walaupun jika nantinya Mami sudah tidak bisa bersamamu," ucap Imel dengan nada sedih.
Reiner yang awalnya tengah memandang sang putri dengan bahagia kini membalikkan pandangannya, menatap sang istri dengan tajam.
__ADS_1
"Kau bilang apa tadi? Aku tidak akan pernah membiarkan kamu pergi meninggalkan kami!" ujarnya dengan suara tegas.
Laki-laki itu sama sekali tidak suka dengan apa yang di ucapkan oleh sang istri. Dia berucap seperti orang yang akan pergi meninggalkan keluarganya saja.
"Kau bicara seperti itu lagi, akan aku kurung di kamar selamanya!" ancam Reiner kesal.
Mendengar ucapan suaminya itu, Imel hanya tertawa tipis. "Kau tidak tahu, Rei? Ajal bisa datang di mana saja dan kapan saja!"
Reiner semakin jengah dengan ucapan sang istri yang semakin melantur. Dia sudah lebih tahu tentang itu, tetapi bukankah sebagai manusia kita harus berharap dengan yang baik-baik?
Rachel bahkan menutup kedua telinganya, gadis mungil itu tidak biasa mendengar suara sang ayah dalam keadaan keras.
"Rei, kau menakuti anakku!" Imel meraih Rachel ke dalam gendongannya.
Walaupun tidak menangis, tetapi Rachel memang terlihat ketakutan. Selama ini mereka tidak pernah ribut di depan peri kecilnya itu.
"Aku ke toilet dulu." Reiner meninggalkan kedua wanita yang di sayanginya itu.
__ADS_1
Biasanya, Reiner sebisa mungkin selalu menghindari keributan dengan istrinya, apalagi di hadapan sang putri. Laki-laki itu kini terlihat sangat menyesal dengan apa yang terjadi saat ini. Akan tetapi walaupun meninggalkan kedua wanitanya, Reiner selalu menaruh orang-orang terpercayanya untuk memastikan keamanan orang-orang yang ia sayang.
Reiner melangkah menuju toilet di dalam sebuah pusat perbelanjaan itu. Untuk menenangkan hatinya sendiri dan juga memberi ruang untuk sang istri menenangkan buah hatinya.
"Sial! Kenapa harus kelepasan? lagipula kenapa Imel berbicara seolah-olah dia akan meninggalkan aku!" Reiner meluapkan kemarahannya di dalam toilet itu sendiri.
Laki-laki itu membasuh wajahnya dengan air di wastafel, lalu mengelapnya dengan tissue. Dia menarik nafas dalam, lalu mengeluarkannya dengan perlahan, dia bahkan melakukannya berulang kali hingga merasa dia sudah dalam keadaan tenang.
Setelah merasa lebih baik, Reiner keluar dari toilet untuk menemui sang istri. Akan tetapi, dari belakang tiba-tiba ada yang menepuk bahunya. Hingga dia reflek membalikkan tubuhnya.
"Kau! Masih berani menampakkan diri di hadapanku?"
Bersambung...
Hai, Kak. Maaf aku up terlambat. Kuy sambil nunggu updateanku yang sering molor ini, Mampir kuy ke Chat Storyku. Aku lagi ikut event, butuh dukungan dari kalian. Napen masih sama, klik aja profilku. Baca karya dengan judul Gadis Penakluk Mafia Dingin.
__ADS_1