
"Aku tidak akan datang ke pernikahan kak Sena dan mbak Gina, Kakak saja yang datang kalau mau," jawab Aisyah.
Kak Sena pasti menggila kalau aku datang, dia bisa kabur.
Baskara mengangguk, tentu dia harus datang, dia kan yang mengurus pernikahan dua anak manusia itu, dia juga yang harus memastikan kelancarannya, jangan sampai ada yang berkhianat dan kabur dari acara itu.
Tapi, niatnya mengajak Aisyah sebagai pasangannya di sini, ternyata ditolak, Aisyah tak berniat datang bersamanya di pernikahan sang mantan calon suami itu.
Apa kamu tidak kuat menahan sakit hati saat melihat Sena menikahi wanita lainnya? Sampai begitu kamu tidak mau datang, hanya karena rasa sakit itu, karena kamu mencintainya.
Aisyah berpenampilan biasanya, dia memakai penutup kepala sekalipun akhir pekan ini dia tahu Baskara di rumah, bukan tanpa alasan, dia memakainya sebab tidak tahu kapan ada tamu, daripada dia berlarian dan jatuh.
Pandangan Baskara mengartikan lainnya, dia ada di rumah dan Aisyah menutup bagian kepala juga, cukuplah rasa sakit hati Aisyah pada Sena menjadi alasan dari kesimpulannya.
Rambut indahmu itu seharusnya kamu tunjukan pada Sena, kan? Maafkan aku, A-isyah.
Dan benar saja, dua pemuda datang ke rumah ini, penampilannya yang sudah tertutup membuat Aisyah bisa menyapa sejenak sekalipun itu di belakang punggung Baskara, tak menampilkan wajahnya selain menunduk hingga tamu hanya tahu anggukannya.
"Biar aku saja yang membuatkan mereka minuman, Kak."
"Terserah, tapi jangan mengantarnya!"
Kenapa, apa Kakak malu punya istri aku di depan mereka? Aisyah.
Jangan mengantarnya, aku tidak suka mereka menikmati kehadiranmu, sekalipun itu hanya bayanganmu saja! Baskara.
Aisyah pandang tiga punggung pria itu, termasuk suaminya, berjalan ke ruang kerja dengan bibir yang sama-sama diam, dia hanya tahu nama dua pria itu, tangan kanan suaminya yang dikenal amanah.
Mereka itu, Nando dan Wira, ada satu lagi yang tak lain anak dari adik kakek Baskara, seharusnya itu menjadi paman Baskara, tapi karena saudara termuda dan menikahnya baru ini membuat usianya setara dengan Baskara, mereka menjadi teman, namanya Pian.
"Nona, tuan siapa tadi yang datang?" tanya bik Nur.
"Hmm, kalau tidak salah Nando dan Wira, kenapa?"
"Mereka sukanya black tea, Nona. Kalau jasmine tea itu kesukaannya tuan Pian, kalau yang Nona buat sekarang, lemon tea itu kan kesukaannya tuan muda rumah ini, eheheheheh."
Astaga, Aisyah merona malu, yang dia buat justru tiga gelas dengan teh kesukaan suaminya, dia sontak melepaskan teh itu, memberikan pada bik Nur agar melanjutkannya.
Sungguh, isian kepalanya penuh dengan apa yang suaminya suka, selain itu dia tidak peduli, bahkan tangannya bekerja begitu konsisten pada pilihan hatinya.
"Kalau tuan mudamu bertanya aku di mana, katakan aku bersiap mau ke toko ya!" pesan Aisyah, maksudnya ada di kamar bersiap-siap.
Bik Nur mengangguk, sesuai perintah bahwa dia yang mengantar ke ruang kerja, membawa tiga cangkir teh hangat dan kue kering untuk tamu itu.
__ADS_1
Suara gelak tawa dan jeritan takut akan ancaman Baskara terdengar begitu nyaring meskipun pintu ruang kerja itu ditutup, dua orang tangan kanan Baskara memang tak ada ampun di medan tugas mereka, tapi kalau sudah bertemu santai begini, mereka suka bercanda.
"Di mana A-isyah?"
Wah, mereka sehati. Bik Nur.
"Nona di kamarnya, Tuan. Tadi, Nona bilang mau siap-siap ke toko," jawabnya jujur.
"Ke toko?" ulang Baskara sambil jarinya mengisyaratkan kalau bik Nur boleh pergi. "Untuk apa dia ke toko? Tidak bilang padaku tadi."
Wira menimpali, "Toko itu kan punya Aisyah, dikelolah sudah lama, dia sering ke sana, Bas. Kenapa merasa aneh kalau dia ke sana?"
"Iya, apa mau mengantarnya ke toko, memastikan semua baik-baik saja, tidak ada duri di jalanan Aisyah, hah?" Nando.
"Brengsek!"
"Ahahahahahahah, ampun, Bas, ampun!" keduanya langsung merosot minta ampun, tapi masih tertawa dan saling memukul. "Maafkan kami, maafkan kam-"
Baskara sudah berdiri, meninggalkan keduanya endak menyusul ke kamar Aisyah, tadi Aisyah tidak berkata apapun padanya, mendadak saja ingin ke toko di hari libur tanpa izin darinya.
Aku kan di rumah, A-isyah. Aku bahkan tidak mengambil pekerjaan akhir pekan ini, hanya ada dua bedebah itu saja.
Jeglek, pintu kamar Aisyah terbuka.
"Tidak ada yang boleh ke luar rumah, A-isyah."
"Mmm, ak-aku hanya mau ke toko." dia takut.
"Apa kamu tuli?"
Aisyah bergeleng, dia remat roknya.
"Ganti bajumu, diam di rumah!" titahnya.
Kamu sedang sakit hati karena Sena, bagaimana kalau di jalan dan toko melamun, lalu terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, hah?
Aisyah langsung mengangguk, dia masuk kembali, tidak jadi ke toko, duduk di dalam kamar menyelesaikan getaran takutnya karena efek suara Baskara tadi.
Aku tidak mau sampai kamu kenapa-napa, orang sakit hati itu mudah terpengaruh dan mengambil jalan bodoh, bagaimana kalau kamu melihat sungai besar di perjalanan dan berniat bunuh diri? Jangan, A-isyah.
***
"Hem, apa aku tidak salah dengar?" Aisyah mengeraskan volume ponselnya. "Kapan kak Bas ke sana?" diam. "Siang ini?"
__ADS_1
Tanpa sepengetahuan Aisyah, Baskara bersama dua tangan kanannya itu berkunjung ke toko yang bangunannya tidak jauh dari kantor Baskara, setiap hari kalau Baskara bekerja dan Aisyah ke toko, dari ruangan tinggi itu bisa memantau toko Aisyah, cctv pun tersambung.
Baskara mengatur laju stok dan memeriksa bahan baku yang ada, membuat pengiriman hari ini lancar, baik produk makanan ataupun baju, selesai dengan baik.
"Bibik tahu di mana tuan muda?" Aisyah buru-buru ke dapur.
"Tuan baru saja tiba, ada di ruang kerja, Nona."
Aku harus ke sana!
Aisyah berganti arah, dia naik lagi menuju sisi kanan bangunan lantai dua itu, ruang paling ujung di mana setiap orang yang masuk ke sana akan berkata ampun pada suaminya.
Untuk apa dia melakukan semua ini? Dia juga tidak memberitahu aku!
Pintu terbuka begitu Aisyah sampai di depannya, belum sampai mengetuk atau memangil Baskara, pandangan mereka bertemu sebelum akhirnya Aisyah menunduk melihat kedua kakinya yang gemetar.
"Tunggu!" Aisyah memberanikan diri. "Kenapa Kakak ke toko dan mengatur semuanya, tadi bukannya Kakak melarang aku ke sana, kenapa Kakak yang ke sana?" napasnya kejar-kejaran.
Karena aku khawatir kamu di jalan kenapa-napa, A-isyah. Kamu sedang sakit hati.
"Kenapa Kakak melakukan itu?" ulangnya.
"Kenapa memangnya?" balas Baskara menyebalkan.
"Kenapa? Ya, it-itu kan tokonya, Ais, Kak!" dia ingin sekali saja berteriak.
Baskara tertawa, kaki Aisyah semakin gemetar, dirasa lantai ikut bergoyang.
"Siapa yang membeli dan membangun toko itu, A-isyah?"
"Kakak."
"Siapa yang mengurus relasi bisnis itu, A-isyah?"
"Kakak." aku kalah.
"Jadi, toko itu adalah tokonya?" Baskara melangkah mendekat, membuat Aisyah mundur gentar.
"Tok-toko, tokonya ... tokoku yang dibantu Kakak!"
Aisyah sontak merosot, berlutut sambil menutup wajahnya, dia takut.
Manis sekali sih dia. Baskara.
__ADS_1