Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Akan Berpisah (Sena)


__ADS_3

"Aisyah tidak ada di rumah?" tampaknya Sena tidak percaya, dia sedikit berjinjit.


"Iya, Tuan. Nona sedang ada di rumah utama, rumah tuan Aksara, sampai tuan muda kembali."


Sena mengangguk, dia berikan bingkisan kue dan nasi itu ke tangan bik Nur, sengaja dia datang untuk mengantarkan itu saja sebagai bentuk peringatan kepergian calon bayinya.


Tadi, dia sudah berharap bisa melihat Aisyah dari kejauhan, sayangnya tidak bisa, pintu rumah itu tertutup rapat dan gadis yang dicintainya sedang tidak ada.


Apa aku lihat saja ke rumah utama? Baskara pasti sedang di luar kota kalau begini, ibunya tidak mungkin menolak kehadiranku, bukan?


Sena lantas berteriak, membuat bik Nur ke luar lagi, dengan tanpa malunya dia minta bingkisan yang tadi dia berikan.


"Akan aku berikan ke Aisyah saja di sana, maaf ya tidak jadi Bibik makan!" buru-buru dia pergi mengendarai motornya.


Bik Nur tersenyum kecut, tadi mau dia ambil pisangnya, untung masih mau, belum jadi, sebal.


"Siapa, Nur?"


"Biasa, tamu!"


"Ya tahu kalau tamu, masa hantu kamu bukain pagar, kan bisa nembus!"


"Malas ngomongnya!" bik Nur masih dendam masalah pisang.


Mamang rapatkan lagi pagar rumahnya, berhubungan Aisyah tak ada di rumah ini, untuk menemani bik Nur yang mengurus rumah, penjaga mendapatkan izin tidur di salah satu kamar rumah belakang, 24 jam dia di sini dan tak ada jam pulang selama Baskara tidak ada di rumah.


"Perempuan kalau sudah lama membujang ya begitu, sensitif!" gumamnya meledek bik Nur.


Di rumah utama,


Suara tawa Shafiyah dan senyuman Aisyah seakan mewarnai semua dinding hingga berkilauan, sambil menunggu dua ibu memasak bersama maid, Shafiyah mengajak Aisyah berkeliling rumah dan bercanda, tak jarang dia membuat Aisyah begitu malu.


"Kak Ais kenapa tidak melepasnya saja, kan hanya ada aku di sini?" menunjuk hijab Aisyah.


Aisyah perbaiki, ada sedikit rambutnya yang ke luar.


"Kakak bilang, selama dia tidak di rumah, aku tidak boleh melepasnya atau mengubah penampilanku, Sofi."


"Se-posesif itu dia?"


"Iya, eheheheh. Tapi, memang yang benar begitu, laki-laki harus posesif ke wanitanya," jawab Aisyah.

__ADS_1


"Aku tahu kenapa kak Bas suka sama Kak Ais, itu karena cuman dia yang jadi satu-satunya yang bisa lihat Kak Ais utuh, begitu?" tebak Shafiyah, Aisyah mengangguk malu. "Aaaaaarrrghhhhh, nanti kalau ayahku pulang, aku mau bilang ke ayah, aku mau berubah seperti Kak Ais, boleh tidak ya?" jatuh ke pangkuan Aisyah.


Aisyah tahan sambil tertawa kecil, dia jelaskan bagaimana kesiapannya dan tentu bermacam tekanan yang nanti akan dia terima semasa berubah, sesekali Shafiyah melawan dengan pertanyaan, tapi dia juga meyakini patuh ketika Aisyah jelaskan.


"Ayah pernah membahas itu, dulu, tapi aku hanya mengira ayah bergurau saja. Waktu itu, setelah ayah memukul dan menghajar kak Bas, sebelum kalian menikah," akunya. "Ayah pasti senang kalau aku berniat baik ini, iya kan?"


Aisyah mengangguk, "Bukan senang lagi, ayah bakal meluk Sofi dan milih suami yang terbaik untuk Sofi, tidak akan yang asal-asalan!"


"Aaarrrghhhh, kan aku jadi mau nangis, selama kak Bas di luar kota, tidur sama aku ya!" sudah mengikat, tidak mau ditolak. "Kalau kak Bas vcall, aku tidak mau tutup telinga, aku ikut dengar!"


Aisyah tertawa, bisa bahaya kalau suaminya mendadak jadi tulang lunak, mana sekarang suka bilang cinta, bisa pecah gendang telinga Shafiyah nanti.


"Ais, Sofi!"


Keduanya melangkah cepat turun begitu suara ibu melambung tinggi, satu tangan Aisyah menjinjing roknya dan satu lagi berpegangan pada tangan Shafiyah.


Siapa yang datang dan ada apa?


Shafiyah masih menerka-nerka, pasalnya kenapa mereka berdua harus ikut turun, sedangkan di ruang chat keluarga tidak ada pesan apapun dari ayahnya, pria itu sedang sibuk akhir-akhir ini.


Bruk!


Shafiyah menangkap Aisyah yang hampir terjungkal ke depan, dia peluk dan tegakkan, masih dia peluk sampai mata Aisyah melihat siapa yang duduk di dekat mama Fya.


"Kak Ais di sampingku saja, sekalinya dia mengganggu, aku pukul pakai sandalku!" bisik Shafiyah, tahu pesan Baskara akan kegilaan Sena.


Walau lucu, Aisyah menurut saja, lagipula dia tidak mau ada salah paham lagi hingga suaminya pergi seperti waktu itu, merinding dia mengingatnya.


"Jadi, ini bingkisan dari acara pengajiannya si kecil, Sen?" mama Fya tersenyum menerimanya.


"Iya, Ma. Maaf, baru tahu kalau Aisyah di sini, jadi aku hanya membawa satu saja tadi, tahu begitu pasti membawa lebih banyak," jawab Sena sekaligus menyapa semuanya.


"Heh, tidak masalah, jangan repot-repot gitu!" ibu ikut bergabung. "Terus, kabar istri kamu bagaimana? Sudah membaik bekas operasinya?"


Sena tampak sedikit tidak suka membahas Gina, tapi dia anggukkan kepalanya.


"Sen, Mama berharap kamu sama Gina bisa kuat, setelah ini yakin sama Allah, bakal dikasih lagi, yang penting kalian sabar dan terus berusaha, satu lagi kalian tidak boleh mengel-"


"Kami mau berpisah setelah ini, Ma."


Hah!

__ADS_1


Mama Fya sontak menutup mulutnya, begitu juga dengan ibu. Sedangkan, Shafiyah berbalik memandang kakak iparnya, memastikan Aisyah.


***


Apa aku ini mau dijemput kematian?


Yoga rasa ada yang tidak beres dengan pelayanan di kantor cabang daerah ini, jauh dari mana-mana dan belum lagi dia harus tidur dalam satu ruangan bersama Baskara.


Brak!


"Aarrrrghhh!" melompat naik ke kasur. "Bas, kau kan itu?!"


Baskara lepas topinya, "Turun, itu kasurku juga!"


Yoga cepat melompat turun, resiko kerja bersama saudara sendiri, dipaksa satu kamar, anggap saja saat ini Yoga tengah menjaga keponakannya.


Atau aku yang sedang dijaga keponakanku? Gila.


"Paman!"


Astaga bocah ini!


"Ya, ya aku datang. Katakan, ada apa?!" mematung seketika, tahu apa yang Baskara bongkar.


Baskara angkat tinggi salah satu baju yang tadi dia simpan di lemari, itu jadi lemari mereka berdua selama bertugas.


Baju? Bukan, lebih tepatnya kain dijahit, kain permen karet.


"Jangan bilang kalau kau ke sini membawa wan-"


"Tidak, tidak ada yang membawa wanita, kau tahu aku suka minum, tapi tidak tidur dengan wanita, iya kan?" cengar-cengir. "Itu hanya baju renang, Bas!"


"Baju renang, apa kau jadi gadis saat berenang, hah? Untuk apa baju ini?"


"Ahahahahha, mati aku-" usap-usap dada. "-kau tahu kalau aku baik hati dan perhatian pada wanita kan, jadi ke mana-mana aku selalu siap sedia seperti itu, misal ada gadis yang lupa tak membawa baju renang, bisa pinjam punyaku, begitu ...."


"Baik kepalamu!" kreekkkkk, Baskara robek jadi tiga.


Yoga melongo melihatnya, "Waduh, Bas!"


"Baik hati, kan?" tanya Baskara. "Itu, sudah jadi tiga, sekalian pinjamkan ketiga wanita," ujarnya sebelum berlalu.

__ADS_1


Bedebah ini!


"Heh, Bas kurang ajar ... kalau Lyly atau siapa yang punya mencari bagaimana?" tunggu, ini punya siapa ya, Lyly atau Diana atau Sima atau siapa?


__ADS_2