Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Jatah Adil


__ADS_3

"Oh, no ... Kak Baaasss, kamu sudah datang pagi ini, mau mencicipi rendang pedas ibu?" Shafiyah dengan semua kehebohannya meskipun akan menjadi ibu, berjalan cepat sembari menahan perutnya, menyambut ke depan di mana kakak tertuanya datang seorang diri. "Mana kak Ais?"


Baskara tarik pelan tubuh itu, membuat sejajar dengan dirinya, satu tangan melingkar di pinggang yang cukup jauh di bawahnya, bisa dibayangkan betapa mungilnya tubuh Shafiyah, persis ibu mereka.


"Mana ada rendang?" Baskara menunduk, menjangkau tatapan adiknya. "Apa ibu membuat rendang, untuk siapa?"


"Untuk kak Saka yang mau pulang, mau ibu siapkan semua, bisa ibu frozen, dinsum udang pun juga ibu buat, aku kesal!"


"Kenapa ibu hamil satu ini kesal?" Baskara suka memandang manik mata adiknya, dia mau anak perempuannya juga mungil begini, belum lagi kalau malu-malu seperti istrinya.


Shafiyah menoleh pada kakaknya yang sudah berdiri sejajar, dia lantas berbisik untuk siapa ibu membuat banyak stok makanan beku, memang sengaja dibekukan dan tak mau beli, dibuat oleh kedua tangannya sendiri.


Baskara manggut-manggut, dia anak tertua, baginya tak ada iri karena sampai usia lima tahun dia mendapatkan kasih sayang ibu tanpa ada pengganggu, ibu sepenuhnya milik dia, beda kalau ayah, selalu ada kata cemburu dari pria satu itu.

__ADS_1


Ah, dia sejenak mengingat ayahnya, sudah lama rumah ini kehilangan suara bentakan dan tinggi ayah mereka, bukan marah, memang begitu caranya berbicara.


Baskara ingat saat dia dimasa pelatihan, keningnya bercucuran darah, ayah menyekanya, tak mengizinkan mengadu pada selain diri sendiri dan dia, usapan tangan besar ayah masih terasa hingga kini, darah yang mengucur sontak berhenti, sejak itu Baskara tahu, apapun rintangan ke depan, bila di hati kita yakin ini semua untuk keluarga dan baik, semua yang menghalangi akan pergi jauh memutar arah.


Bas, cukup yakin pada dirimu, kau pasti berdoa sebelum melakukan hal itu, kalau tak yakin, doamu sia-sia. Dan, ingat ibumu itu saja!


Kenapa bukan ingat ayah?


"Karena Ibu selalu punya waktu mendoakan anaknya," ujar ibu sambil kunyah-kunyah, mereka sedang membahas Saka, tapi ucapan ibu itu persis dengan ayah, lelaki itu mengatakan hal yang sama hingga hati Baskara kuat dan yakin.


Ibu mengangguk, melirik Nakula sedikit yang sontak melengkungkan bibirnya ke bawah, dia senang mengerjai menantu lelaki satu-satunya itu.


Dengan senang hati Baskara tusuk satu potong daging itu dan menggigitnya, satu tangan lagi menarik piring kecil berisi rendang penuh, di dekatkan ke depannya semakin membuat Nakula bersedih, dia mau menangis nanah sekarang.

__ADS_1


Nakula menunduk, dia yakin harinya akan hancur, dia mau rendang, bukan hareudang bersama Shafiyah saat ini, bibirnya bergetar, dia terus menunduk sambil memilin jemarinya, tidak nafsu makan apapun.


Sret...


"Makanlah, jangan menangis seperti anak kecil, istrimu mau melahirkan!" Baskara geser piring berisi rendang itu ke depan Nakula. "Ibu tidak pernah melupakan anaknya, habiskan!"


Nakula mendongak, rendang itu di depan mata, menoleh pada semua orang di sana, termasuk ibu dan Shafiyah.


"Kak Ula makan saja, yang jelas bukan hasil tanganku, aku tidak bisa, ahahahah ... Ibu punya dua kulkas, jadi kita dapat jatah semua, tenang!" Shafiyah menepuk bahu suaminya lembut.


Ibu terkekeh. "Sudah makan, kaciaaan sekali anak mantunya Ibu ini, atutuuuhhhhh ...."


Ayah, hari ini dan seterusnya mungkin akan sedikit sulit, tapi kesulitanku tak ada apa-apanya dibandingkan senyuman dan wajah cerah ibu. Lihatlah, senyumnya semakin lebar, entah nanti saat Saka tiba, aku yakin ibu bisa menari, aahahah ... Apa ayah mau rendang?

__ADS_1


Eh, Baskara merinding.


__ADS_2