Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Tamu Ibu Hamil


__ADS_3

Suara denting sendok dan piring tak urung membuat Baskara terbangun, ini bukan rumah besar mereka di mana dapur ada di lantai satu dan dia tidur di lantai dua, ini dalam satu lantai dan semua yang terjadi di sini akan terdengar jelas.


Tampak Aisyah tengah menikmati menu sahur malamnya, wajah itu benar-benar mengalahkan rembulan, ditemani ponsel yang menyiarkan kisah kesukaannya, Aisyah melahap habis, bahkan ada dua jenis minuman yang baru saja dia habiskan.


"A-isyah," panggil Baskara sambil menepuk bahu.


Aisyah terperanjat, menoleh dengan mata melotot dan bibirnya masih dalam posisi menggigit tahu keju favoritnya.


"Ahahahahahahahh, bagi tahunya!" langsung mengambil yang menggantung di bibir Aisyah. "Haummm, enak juga tahu kejunya, tahu sama garam kan ini, iya kan?"


"Iy-iya," jawab Aisyah sambil mengunyah sisa yang ada di mulutnya, dia lirik Baskara, itu potongan tahu terakhir, dilahap begitu saja. "Kakak, mau?"


"Apa?"


"Itu, tahunya aku!"


"Hem?" gluk, dia telan. "Yang ini?" menunjuk mulutnya.


"Iya, kan itu yang Ais potong terakhir, kalau mau buat lagi nunggu buka puasa, itu enak!" cemberut, mau dia ambil kalau bisa dari perut Baskara. "Aku mau itu!"


Tidak mungkin, baru saja Baskara telan, mau dia muntahkan juga tidak bisa, mana mungkin ke luar bentuk tahu lagi, itu juga hanya potongan.


"Mau aku belikan saja?"


"Tidak ada di sini."


"Nanti, aku yang buat, kamu buka tinggal masak, hem?" tidak bisa, kan sudah di perutnya, di bibir sisa minyak saja dan baunya kalau baru makan tahu. "Ya, A-isyah, nanti aku buatkan sebelum pergi kerja, mau kan?"


Rasa bersalah menyeruak di dalam dada, tapi bisa apa dia, mana tahu kalau istrinya begitu ingin dan tidak mau dibagi, dia juga berpikir positif saja kalau Aisyah akan suka bila dia rebut, lalu dia cium sekaligus, bayangannya salah kalau begitu.


Aisyah masih cemberut, dia habiskan kurmanya, sesekali melirik sebal Baskara, sampai-sampai Baskara mau minum saja kembali menyimpan gelasnya, mata Aisyah mengancamnya lebih dari biasanya.


Tidak ada cara lain, hanya tersisa minyak tahu di bibirnya. Baskara lantas berdiri, memeluk Aisyah dari belakang sebentar sebelum dia putar hingga mereka berhadapan.


"K-kaaak, ma-mau apa?" satu jam lagi waktu sahurnya selesai, takut suaminya minta yang lain.

__ADS_1


"Kamu mau tahunya, kan?"


Aisyah mengangguk, kedua tangannya sedikit memberontak di depan dada Baskara, tapi jelas dia kalah kuat.


"-Mmmmm!"


Sisa minyak tahu itu, menggelikan memang, tapi itu salah satu cara agar Baskara mendapatkan keadilan dan kerelaan sang istri, biarkan minyak tahu itu yang berbicara dan menjelaskan pada Aisyah akan rasa bersalah juga enaknya tahu tadi.


Kedua tangan Aisyah yang tadinya di depan dada Baskara, perlahan naik dan melingkar ke leher, dia tautkan di sana, menyeimbangkan diri dengan decapan sang suami.


Baskara kedipkan matanya, "Sudah aku bagi tahunya, jadi tidak boleh marah!" dia usap bibir basah Aisyah dengan jemarinya, lalu dia kecup singkat. "Kalau marah, kembalikan lagi sini tahu yang aku bagi, bisa tidak?"


Aisyah bergeleng, tidak bisa yang dia maksud, wajahnya memerah begitu mata Baskara menghujamnya.


"Masih ada waktu'kan, A-isyah?" dia angkat Aisyah hingga kedua kakinya melingkar di pinggang Baskara.


Aisyah hela napas sejenak, lalu dia jatuhkan kepalanya di bahu Baskara.


"Jangan lama-lama ya, nanti tidak jadi puasanya!" bisiknya tak menolak.


Baskara gendong ke kamar, tahu keju yang membawa berkah, dia bisa mendapatkan lebih dari apa yang dia berikan tadi.


***


"Heh, Bas ... jangan melarangku lama-lama di sini, kan kamu kerja sampai malam, lagian aku itu tidak membuat Aisyah jadi manusia jahat, kan aku juga lagi hamil ini, siapa tahu nular ke Aisyah!" Dara usap-usap perutnya, ibu hamil ini datang sendiri. "Kalau kamu jahat ke aku, aku bilangin mbak Disa!"


Baskara mendengus, "Istrinya tuan muda Narendra itu, yang kalau bicara bisa sepanjang jalan tol?"


"Eh, kamu ledekin dia, aku laporin, biar deh kalian jambak-jambakan gitu!" Dara beringsut masuk, Aisyah cekikikan di ruang tengah melihat pertengkaran dua sepupu ini.


Baskara jentikkan jemarinya, bukan meminta Aisyah mendekat, melainkan berpamitan karena tak mungkin mencium Aisyah pagi ini, dia bisa membuat Aisyah batal puasa dan ibu hamil satu itu bisa ramai tidak karuan.


Apa!


"Is, kamu puasa, ya ampuunnnnn, kamu diam saja sih!" Dara sudah makan sesuka hati. "Kan, kalau gitu aku ke sini nanti sorean, Is!"

__ADS_1


"Eheheheh, tidak apa, di sini saja, lagian aku kesepian kalau kakak kerja. Makan terus di sini, aku punya film kisah bagus, mau?"


Dara mengangguk, bersama Aisyah tentu bukan film drama percintaan yang biasanya dia lihat, apa yang Aisyah sukai tentu tak jauh dari kebiasaannya, lebih ke film sejarah agama dan ruang lingkupnya.


Banyak sekali yang Aisyah jawab di sini, bahkan ilmu baru bagi Dara.


"Cariin aku nama buat anak aku, yang sama dan indah seperti namamu, oke!" Dara belum berhenti makan.


"Iya, nanti disengang waktu, Ais buat. Kamu mau minum apa, aku buatin ya," tawar Aisyah.


Ibu hamil yang tanpa beban, dia ikut ke mini pantry ruangan itu, sesekali dia berikan saran pada Aisyah akan beberapa jenis minuman yang menyegarkan dari bahan yang sederhana.


Aisyah sangat cocok dengan Dara mengingat karakter Dara yang aslinya lembut, tutur katanya tertata tak jauh beda dari Aisyah, terlebih lagi Dara tidak akan membahas apa yang tidak Aisyah bahas, pembawaan Dara sangat sopan.


"Tidak apa, kamu rebahan di sini, kakak tidak akan marah!" Aisyah kasihan melihat ibu hamil itu meluruskan kaki di sofa saja sedari tadi.


"Tapi, ini kan kamar kalian, aku tidak enak mau rebahan di sana, Is."


"Tidak apa, sungguh. Sudah aku tata kasurnya, kamu harus istirahat, jangan egois sama anaknya ya!" Aisyah paksa, dia yakin walau suaminya tampak dingin begitu pada Dara, tentu tak akan melarang hal semacam ini.


Tak lama dari itu, Aisyah dapati Dara terlelap sambil memeluk bantal berbentuk kaki yang kemarin dia bawa dari rumah, ibu hamil yang menggemaskan.


Aisyah usap perutnya, terbayang kalau nanti dia juga mempunyai perut yang berisi manusia kecil, pasti akan sangat menyenangkan, terlebih lagi membayangkan bagaimana Baskara setiap pulang kerja, ada yang dia rindukan melebihi apapun.


Semoga segera ada amanah


***


"Kayaknya Ais mau datang bulan ini, maju apa ya?" Aisyah lihat tanggalnya, mendadak perutnya nyeri sedikit dan terasa bercak basah. "Padahal kurang setengah jam lagi buka, ya sudah minum kalau gitu, eheheheeheheh."


Dara lebarkan matanya, dia bergegas mendekat, merebut botol minum Aisyah.


"Is, kan kamu puasa, lupa ya!"


***

__ADS_1


note: tap love juga novel "Jodohku duda muda" di ******.


__ADS_2