
"Zumba?" kedua alis tebal Baskara mengerut, dia tidak mungkin salah dengar, suara istrinya sangatlah jelas. "Nda, ibu dan Sofi benar melakukannya?"
"Iya, tadi mereka mampir ke sini, aku mau ikut, tapi aku tahu pasti dilarang sama Yanda, iya kan?" Aisyah terkekeh setelahnya.
Huh, ada-ada saja ibu dan adiknya itu, jelas dia akan larang Aisyah ikut Zumba, istrinya sedang hamil dan tingkat posesifnya semakin tinggi.
Nanti, bila kandungan itu sudah besar dan dirasa cukup, akan Baskara izinkan Aisyah mengikuti senam, itu pun khusus senam ibu hamil yang diadakan rumah sakit, dia juga akan terlibat di sana.
"Dia minta apa semalam, Nda?" tanya sambil mengusap perut Aisyah. "Aku tidak terlalu mendengar dengan jelas, jadi lupa pagi ini, katakan!"
"Dia mau dibuatin pastel abon sama Yanda, yang biasanya ada di hari lebaran, bau-bau puasa dan lebaran sudah terasa sekali, jadi mau itu!"
"Bagaimana cara membuatnya?"
Baskara benar-benar tidak tahu, selama ini dia pernah makan dan tak jarang, tapi urusan membuatnya, jelas bukan tangan Baskara, dia tinggal makan saja.
Dan sekarang, anaknya minta hanya Baskara yang membuatnya.
"Aku akan tanya Sofi nanti, dia masih sibuk dengan tugasnya, ini!" Baskara tunjukkan pesan Shafiyah di grup keluarga, Aisyah jarang bergabung.
Kalau mau tahu alasannya, tanyakan saja pada pria posesifnya ini, takut Aisyah terlalu sibuk dengan chat, lalu dia akan dilupakan, akhirnya ponsel Aisyah hanya berfungsi melihat cctv toko, menerima panggilan dan tanda tidak ketinggalan jaman.
Kehamilan menginjak bulan kedua, satu bulan terlewati dengan rasa takut yang membuncah dan mual menjadi pendukungnya, gerak Aisyah masih dibatasi, setidaknya sampai usia kandungan Aisyah diangka tujuh, selama itu mata Aisyah hanya akan fokus pada suaminya.
"Yanda, bik Nur beli apa saja?"
"Sebentar, biar bik Nur ke sini. Aku rasa dia lebih mampu."
"Ihhhh, gitu sekarang?" melirik tidak terima. "Kamu tidak percaya padaku, Nda, iya?"
Astaga, selain bertambah posesif, suaminya ini juga sensitif, jauh lebih sensitif Baskara dibandingkan Aisyah, ibu hamil hanya menjadi penengah saja.
Bahan-bahan telah Baskara siapkan, dia akan membuatnya nanti sepulang kerja, langkahnya melebar meraih bahu kecil yang mulai berisi itu, lalu dia putar hingga senyum Aisyah tampak jelas di depannya.
"Aku rindu sekali dipandang seperti ini, Nda."
"Dan aku rindu, Yanda yang menyeramkan, bukan lunak begini, ahahahahh, sudah, nanti telat loh. Jangan kasih contoh yang buruk sama pekerjanya, mereka kan pasti melihat pimpinan mereka datang dan bekerja seperti apa, love you!"
Blush,
Bunga ikut bermekaran saat pipi Baskara merona, bisa saja Aisyah mengutarakan cinta lebih dulu, mengambil haknya untuk mengusap pipi kemerahan bak buah apel di pipi Aisyah.
__ADS_1
"Yanda kerja dulu, jaga bundamu di rumah, nanti kalau minta apa-apa, tunggu Yanda pulang!"
"Iya, Yanda, siap. Minta pastel abon saja, tidak mau yang lain, harus dari tangan Yanda sendiri, deal?"
"Deal, emuah!"
Kan, suaminya ini membuat gemas saja, kalau dulu saja selalu mengejarnya dengan nama depan dan pandangannya sangat tegas, sekarang jangankan tegas, kucing manis saja kalah dengan Baskara.
Aisyah sedikit berjinjit melambaikan tangannya, dia usap-usap perut itu sebelum akhirnya kembali melangkah masuk, tuannya tak mengizinkan dia ke luar rumah dan menemui siapapun tanpa izinnya.
"Yeah, dedek sama bunda masuk lagi ke kamar, sabar ya ... kalau sudah kuat dan yandamu yakin, terus dia libur, pasti kita jalan-jalan, sekarang baca-baca sambil tiduran saja, oke!"
Bik Nur terkekeh mendengar percakapan Aisyah dengan calon anak di perutnya itu, kebetulan dia tengah membersihkan debu di depan kamar, bila hanya ada bik Nur di rumah, maka pintu kamar itu sengaja Aisyah buka dan suaminya mengizinkan.
Anak muda ya gitu, sensitif kayak tespek saja, ahahaha!
"Eh, iya lupa, tidak boleh menyebutkan merk!" gumam bik Nur, dia lanjutkan lagi rutinitasnya.
Ting,
Jemari Aisyah lincah membolak-balik lembaran buku, lalu ketika dia bosan, dia akan mematuti layar ponselnya, mengirimkan pesan suara pada sang suami, dan membuka aplikasi belanja online yang ibu sarankan.
Ini, mata wanita akan selalu berbinar, apalagi tahu saldo pay-paynya sudah diisi suami, rasanya mau bersorak sampai satu komplek tahu.
Ddrrttt ...
[Nda, jangan iseng!]
"Hahahaahahah, didengerin ternyata, pasti belum masuk ruang meeting, kasihan!" Aisyah tahan jemarinya, bahkan mulutnya agar tak membalas pesan itu, kalau tidak, yang di sana tak akan mau kerja.
***
Adonan pastel sudah ada di depan mata, susah payah sampai butuh kipas angin di dapur, hanya membuat pastel, bukan merakit senjata, tapi keringat Baskara sangat banyak.
Tisu di kotak itu hampir habis, belum lagi mendengarkan ocehan Aisyah yang membahas tisu tinggal sedikit, pelakunya Baskara.
"Nanti, aku belikan, Nda."
Tidak cukup, wanita selalu penuh perhitungan, harusnya habis satu bulan, kalau sampai belum satu bulan habis, tentu mereka tak akan tinggal diam, mencari pelaku yang seenaknya memakai tisu, walau dikesempatan ini, tangan Aisyah sendiri yang mengambilnya.
"Yanda, jangan gosong!"
__ADS_1
"Iya, ini aku dulu biasa masak waktu pelatihan, Nda. Jangan khawatir, aku tahu batas matangnya!"
Duduk, dia minta Aisyah duduk saja, masak sambil mendengarkan netizen itu bisa membuat rasa campur aduk, tidak akan jelas dan kadang hambar meskipun hanya sebuah adonan.
Sreng, sreng, sreng ....
"Yanda, gorengnya biasa saja, nanti bisa bikin wajannya kegores, itu hadiah dari ibu loh!"
Ah, Iya.
"Yanda, minyaknya kebanyakan, nanti baunya beda kalau dibuat goreng lainnya!"
"Yanda, dilihat jangan sampao gosong!"
"Hayo, ini lipatan pastelnya tidak rapi, bisa lepas semua nanti kalau di goreng, harus rapi, lihat aku!"
Lagi goreng ini, Nda!
"Yanda, baunya sampai sini, pasti sudah ada yang matang, aku mau!" bumil berjalan ke dapur, tampak segar karena keinginannya terwujud.
Berbeda dari pria dewasa di sampingnya ini, semua aturan Aisyah membuatnya phsing, Baskara tiriskan hati-hati, Aisyah berkacak pinggang.
"Yanda," panggilan kesekian kalinya.
"Iya, Nda. Tinggal goreng yang terakhir, sabar ya ....!"
Kepalanya mengangguk, tapi hatinya tidak, tetap mau segera didengarkan.
"Yanda," panggilnya.
"Iya, Nda sayang?" kedua tangan memegang alat penggorengan.
"Mana yang sudah, aku mau cicipi!" bersemangat di samping Baskara.
"Tunggu situ dulu, aku masih goreng, Nda!"
"Aaaaaaa, aku mau cicipi sekarang!" plak, menepuk lengan suaminya. "Mana?"
"Panas loh!" Baskara jauhkan.
"Sekarang, mau sekarang!"
__ADS_1
Astaga, huh.