
Saka berdecak melihat adik iparnya itu, tiba-tiba ke kamarnya dan memohon untuk segera kembali, melaporkan kalau Shafiyah membuat ulah agar dia ingin pulang.
Mau tertawa itu nanti dia juga akan mengalami hal yang sama, mau marah, rasanya tidak pantas mengingat memang mereka masih pengantin baru, Saka hanya membiarkan adik iparnya blingsatan sendiri, sampai tenang dan kembali ke kamarnya.
"Sofi ini memang minta digigit anaknya, kok bisa buat suaminya yang lagi training gagal total ingin pulang, mana di sini aku masih banyak kerjaan, biarin!"
Saka tegaskan kalau Nakula belum akan kembali, kemungkinan seperti yang Baskara perhitungkan itu, hampir mendekati Aisyah melahirkan karena di sana Saka juga akan mengurus urusannya, jadi semua tugas harus diselesaikan detik ini juga.
Pandangan Saka kembali pada foto keluarga mereka, seiring berjalannya waktu foto itu semakin berisi saja di mana anggota keluarga sudah akan bertambah, nanti kalau anak Baskara dan Aisyah lahir, maka akan ada anggota yang ditambahkan, lalu matanya melirik pada bagian foto lama di mana kakek dan neneknya masih ada, wajah tegas dan lembut bersatu di sana, menurun pada mereka semua.
Kakek Hans dan Nenek Niel, dia rindu akan kehadiran dua orang itu, merekalah yang kerap menolong kalau ayah sedang marah besar di rumah, entah nanti siapa yang akan menolong anak mereka kalau tinggal berjauhan seperti ini.
"Kakak sangat mirip dengan kakek, kejamnya hampir sama, tapi karena sering bersama ibu, jadinya mudah tersentuh, sedangkan Sofi, dia ibu sekali, kalau aku lebih pada wajah ayah yang mirip dengan nenek itu, apa aku sekejam kak Bas?" dia tekuk alisnya, rasanya tidak karena dia sama sekali tidak menyeramkan di sini, hanya saja kalau sudah dekat dengan dua orang lelaki di keluarganya itu dipastikan dia akan ikut terlihat garang.
"Bibi, semoga tenang di sana ...."
Saka kembali mengenang wanita yang berwajah mirip dengan kakeknya, kakak dari sang ayah, lebih dulu terpanggil karena sakit, Saka jadi merindukan bagaimana masakan dan dua sepupunya yang tinggal di kota lain ikut bersama ayah mereka.
"Huh, banyak yang akan datang dan banyak yang pergi, aku harap baik di sini dan di sana semua akan baik-baik saja, bisa bertemu lagi di surga-Nya, aamiin."
Sebentar lagi dia akan menikah, membawa seorang gadis baru yang jelas nanti menambah sisi ramai di keluarga ini, pandangannya beralih pada foto ibu dan ayah, mendadak dia menangis, takut bila nanti kedua orang tuanya itu telah tiada, rasanya yang dia raih tak akan ada gunanya bila tak ada mereka.
"Bu, Yah ... aku rindu, mau pulang!"
Loh, dia sekarang yang mau pulang, tadi Nakula.
Jangan-Jangan Nakula menangis juga karena mau jatah dari istrinya itu!
Saka hubungi ibunya, biar saja kalau wanita itu mengomel karena terbangun, dia ingin mendengar suara dari ibunya itu, sekarang.
"Ya, Nak?"
"Ibu sedang apa?"
"Memijat kepala Ayahmu ini, pusing kalau ditinggal Sofi, mana anaknya sudah molor di kamar sana, pasti kamu mau cerita ini, cerita apa?"
__ADS_1
Ibu dengarkan keluh kesahnya, sungguh cuman suara wanita ini yang bisa menenangkan Saka, senyum dan tawanya menenangkan jiwa, tidak peduli ayahnya cemburu.
"Ayah, kan sama anaknya sendiri, jangan gitu, dia belum nikah!"
"Biar, malam itu jatahku!" ayah keukeh.
Plak!
Kan, ibu kalau sudah gemas ya akan seperti ini, kesal sudah kalau ayah tidak bisa diberitahu, yang ada akan merah semua kena pukulan.
Jangan salahkan kalau Saka malam ini harus mendengar rintihan dan rengekan ayah meminta ampun dari ibu, dua pasangan yang membuatnya merasa ingin segera menikah dan tidak mau pergi dari rumah, sampai tua masih saja suka bercanda dan marahan gemas seperti ini.
Plak, plak, plak!
"Ada Saka loh, Bu. Nanti dia penasaran!"
"Biar, anaknya mau nikah, biar tahu kalau suami itu bisa dimarahin begini, suka usil sama istrinya, seenaknya sendiri kalau minta pijat, giliran aku yang minta pijat, malah diajak pijat-pijatan, kan capek, Ayah!"
Ahahahah, Saka tahu, bukan bagain tubuh ayah yang dipukul, melainkan bantal yang ayah dekap, ada-ada saja memang orang tuanya itu.
"Aaaaaaaahhhh, sudah ada Saka, Bu!" ayah masih ramai saja, padahal ibu tidak ada suaranya. "Buuuu, Jingggaaaaaaa, ayaaang!"
Sudah, Saka tutup saja, dia tidak mau mendengar lanjutannya, ayahnya itu memang tidak tahu malu, jangan sampai menurun pada anak-anaknya nanti, tidak tahu kalau Shafiyah.
Saka ingat Nakula tadi, ya ampun adiknya itu membuat pekerjaannya bertambah banyak setelah ini kalau Nakula tak fokus sama sekali.
[Sofi, kendalikan dirimu, Dek. Nakula kerja di sini sama Kakak!] Saka.
***
Aisyah mulai banyak berjalan demi persalinannya belum lagi ada senam yang harus dia ikuti bersama Baskara, suaminya justru menjadi suami idaman yang banyak diminati pejuang lahiran normal di sana.
"A-isyah mana, Bik?"
"Di depan, Tuan. Jalan-jalan katanya tadi sama mamang kok, mamang atur tanaman."
__ADS_1
Baskara ruap wajahnya, akhir pekan selepas subuh dia justru terlelap lagi karena kemarin lembur bersama timnya, pagi ini seharusnya dia menemani sang istri jalan-jalan agar menjelang kelahiran bisa lancar seperti yang diharapkan, dengan rasa bersalahnya, calon ayah itu berlari ke depan.
Rujak?
"Nda, beli apa?"
Aisyah cengar-cengir, dia ayunkan kedua kakinya yang menggantung itu, di dekat sana ada mamang yang tak bisa menahan rasa asam dari buah pemberian Aisyah, tapi harus dia makan demi menyenangkan hati bumil satu itu.
"Enak?" tanya Aisyah setelah menyuapi suaminya.
Blar, mata Baskara sontak terbuka lebar, rasa asam yang luar biasa itu berhasil mengusir kantuknya.
"Nda, kan jangan makan yang asam-asam, nanti kontraksi, sakit perutnya!"
"Aku ngidam, enak loh, dedeknya ya mau, cuman dikit, Yandaaaa ...."
"Iya, tapi bahaya, Nda sayang ... kalau sakit perut, ke rumah sakit loh ya, kurang bentar lagi, jangan aneh-aneh!" Baskara yang gemetaran.
Besok ada acara pertemuan Arsy di rumah utama, berharap mereka bisa ikut berdua dan belum menginap di rumah sakit, jadwal Saka yang mundur semakin membuat Baskara kelabakan, bayinya akan segera ke luar setelah ini.
Dia bantu istrinya masuk, pagi-pagi sudah makan rujak buah, ingin Baskara beli sekalian gerobaknya tadi, biar tidak lewat-lewat.
"Sabar, Bas, sabar ... yang salah istrimu, bukan penjualnya, sabar!" dia usap dada, menoleh pada istrinya yang tampak biasa saja, tidak berdosa sama sekali, sibuk meminum air putih agar sisa rasa asam itu menghilang.
Aduh!
"Nda!" berdiri, takut terjadi sesuatu.
"Mau BAB, Yanda!"
"Yang benar, itu BAB atau mau lahiran, bedain!"
"BAB, takut kentut, nanti ikut ke luar, ayo anterin!" menarik tangan Baskara ke toilet.
Baskara melarang istrinya menutup pintu, biar bau sekalian satu rumah, daripada salah arti sakit perut.
__ADS_1
"Nda, sudah belum?"
"Nda!"