Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Maaf, Abang!


__ADS_3

Saka perhatikan dari atas sampai bawah, ini dia lelaki yang katanya mengajak Arsy kenalan dan ditolak dengan gaya elegan itu, ingin dia ajak bersalaman, kalau perlu adu panco sekalian.


"Pimpinan muda," sapanya.


"Iya, sedang apa kau di sini?" tahu di depan sana ada Lea dan Arsy yang sedang berceloteh entah apa, pemuda itu memperhatikan calon istrinya. "Melihat apa yang indah?"


"Tidak ada, Pimpinan muda. Saya hanya melihat daun muda yang mulai bersemi, sanhat meneduhkan mata dan membuat hati saya berbunga," jelasnya gamblang.


Meneduhkan mata dan membuat hati berbunga?


Kretek, Saka remat jemarinya hingga berbunyi keras, daun muda mana yang bisa menyejukkan mata kalau bukan wajah Arsy dan Lea itu, membuat hatinya berdenyut saja.


Saka ajak pemuda itu pindah tempat di mana wajah Arsy tak terlihat jelas, dia bisa mendidih lama-lama meninggalkan calon istrinya di sini.


Dengan langkah lebarnya, Saka hampiri Arsy dan Lea yang tengah asik mengoceh ria, bahkan tak sadar akan kehadirannya, Saka duduk di belakang dua gadis itu sambil meminum es jeruknya.


"Ahahahahahah, pengalamanku bersama pria itu luar biasa, Arsy. Mereka masuk ke kamarku, lalu meminta aku melepas baju, bisa dibayangkan betapa syoknya aku di sini, padahal aku mengunfang mereka tidak lain untuk makan!"


"Kalau mau mengundang makan kenapa tidak di rumah makan, kenapa di rumah?" balas Arsy.


Saka semakin memicing, takut Arsy ikut jejak Lea.


"Kalau di rumah bahannya lengkap, kan enak tinggal aku masakin saja, lagipula masakanku itu enak, mereka menikmati sampai yang tersisa di bibirku ini, dilumat dan didecap emuah-emuah!"


Arsy remat ciki di tangannya, bibir itu ikut manyun-manyun, ingin dilumat juga, mungkin rasa soto.


"Apa pimpinan muda kalau bertemu tidak mencumbumu?"


"Tidak, kami hanya melihat saja, itu sudah cukup!" jawab Arsy.


"Astaga, pimpinan muda itu apa tidak rindu padamu, memelukmu mungkin?"


"Tidak, aku tidak mau melakukannya kalau dia minta sekalipun. Aku harus jual mahal sampai dia menikahiku dulu, kalau tidak, pusing sekali, sepertimu mengundang pemuda datang dan masak, apa dia memberimu uang?" Lea bergeleng. "Nah, itu rugi namanya, kau masak banyak dan mengisi perutnya, tapi dia tidak memberi uang, enak sekali, apa dia akan menjadi pengemis dan kau tukang sedekah begitu? Kalau aku, menunggu abang Sakaku menikahi aku, dengan begitu kalau aku mau masak, aku minta uang padanya, tidak ada yang gratis di dunia ini!"

__ADS_1


Saka tersenyum, keteguhan yang baik, masuk akal.


"Dengarkan aku, Lea. Kurangi hoby mu memberi pemuda-pemuda itu makanan, mereka kan punya orang tua, atau saudara, minta makan sana sama keluarganya kalau mau memberi, cari orang benar butuhnya. Aku nanti mau jadi mentri keuangannya bang Saka, dia mau beli pulsa saja, harus acc aku!"


"Kau berani melakukannya?"


Arsy mengangguk yakin dia akan melakukan apa yang sudah dipastikan sekarang, tidak mau rugi.


"Dia setelah menikah akan mendapatkan jatah dariku, tidur bersamaku dan masak dari tanganku, sebagai gantinya, uangnya aku bawa, aku akan bergaya begini pada-" ngek, Arsy katupkan bibirnya, mendadak Saka memajukan wajah dan bisa Arsy lihat jelas siapa di belakang tempat duduknya itu.


Lea memalingkan wajah, mengutuk diri sendiri, bisa-bisanya dia mengajak Arsy bergosip masalah memberi makan pemuda liar.


Sementara Arsy, gelagapan menanggapi wajah Saka yang menoleh padanya utuh, menyeringai dan mungkin sudah mendengarkan semuanya.


"Arsy, apa benar masih mau menjadi mentri keuangan?"


"Mmm, ahahahahah, ya ampun, aku bicara apa tadi?!" dia tertawa takut, pria di belakangnya ini mengintimidasi.


Tak ada wajah santai di sana, Saka memperhatikan dia seperti tim penyidik kepolisian.


"Abang, eheheheheh ... yang Abang dengarkan tadi-"


"Siapa yang mau jadi mentri keuangan?"


"Tidak, tidak ada. Aku hanya bercanda, pusing menjadi mentri, matematika saja aku sering dapat hukuman, sungguh!" cling, menampilkan deretan gigi putihnya. "Tadi, hanya khayalanku saja, sungguh Abang ...."


Arsy menakupkan kedua tangannya, dia berkedip cepat merayu pria di depannya ini, baru saja bertemu setelah beberapa bulan, sudah di sidang saja.


"Sungguh, aku tidak mengundang siapapun, Bang. Itu, Lea yang melakukannya, dia yang mengundang pemuda ke rumahnya, makan dan merugi bersama, kalau aku jelas tidak mau, kan mereka tidak bayar!"


"Kalau mereka bayar, kamu mau?"


"Hah?" menganga. "Tidak, tidak, aku tidak mau. Maksudku tadi, aku itu mau kalau sudah ada ikatan pasti, misal aku sama Abang sudah menikah, kan sesuka Abang mau di rumah sampai kapan, makan masakan aku sampai habis, bukan berarti-"

__ADS_1


"Kalau ada pemuda yang mau menikahimu bagaimana?"


"Abaaaaaaang, bukan begitu, sungguh!" dia raih tangan Saka, tapi segera Saka tarik dan membuat Arsy terkejut. "Ab-abang?" bibirnya berkedut, Saka marah padanya, tidak tahu harus apa setelah ini.


"Hei, Bang, Arsy serius sama kamu!" dia kejar ke sisi Saka, pria itu mengeraskan wajahnya.


"Abang!"


"Baaaaaang, Abang!"


"Kan, gitu ke Arsy!" dia tunjukkan wajah sedihnya. "Kemarin tuh ada yang mau kenalan, Arsy tolak loh, cuman karena Arsy yakin Abang bakal nikahin Arsy, sungguh!"


"Masalah Lea, aku tidak ikut-ikut, Abang tahu kan kalau aku lagi bicara itu bagaimana, jangan marah plis ... Arsy rela jomlo nunggu Abang di sini, padahal belum tahu di sana Abang bagaimana, Arsy serius!"


Saka benar-benar menahan tawanya yang mau meledak, melipat bibirnya dan dia tahan dengan deretan gigi depan, wajah Arsy lucu sekali, membawa status jomlo juga, siapa yang bisa menahan tawa terlalu lama.


"Plis, maaf, Abang!" dia mengejar wajah Saka yang berpaling dan menghindarinya. "Abang, jangan batalin niat nikahnya, Bang. Arsy nanti jadi perawan tua kalau ditinggal Abang, kasihan Arsy, Abang!"


Saka memalingkan wajahnya lagi.


"Abang, tidak kasihan kalau lihat Arsy datang kondangan sendirian, seumur hidup cuman diledekin yang lain, pada ada gandengan, Arsy naik ojek, Abang ... jangan Abang, jadi ya nikahin Arsy ya, janji tidak jadi mentri keuangan, Abang kasih berapapun mau!"


Purrffftttt!


"Sumpah, Abang, sungguh. Abang kasih satu juta juga tidak masalah, makan ikan lele!"


Saka tak bisa menahan lebih lama, dia semburkan tawa yang sudah meledak di dalam dada itu, kedua bahunya berguncang hebat.


"Abang!" Arsy pukul kaki dan tangan Saka, lelakinya itu masih tertawa, bahkan terbatuk-batuk karena tak berhenti lama.


Ekspresi Arsy sangat menggemaskan, pukulan gadis itu tak mempan bagi Saka, jelas Saka jauh lebih kuat dan sekali tarik saja, Arsy bisa berdiri tepat di depannya.


"Tanggung jawab, kalau Arsy jadi perawan tua, itu karena Abang!"

__ADS_1


__ADS_2