
Panci, ember dan semuanya mohon disimpan baik di rumah, jangan sampai melayang ke sini, Bas bisa balikin sekali tiup.
Napasnya kayak angin beliung loh! ahahahah.
****
Apa aku boleh melepasnya di rumah ini? Apa boleh? Hmm, apa boleh?
Aisyah maju-mundur mau melepas hijabnya, rumah ini hanya ada dia dan Baskara, yang lewat dan sering bertemunya juga maid wanita yang sudah seperti ibu baginya.
"Aku lepas saja, kakak bilang kalau sedang bersamanya tidak masalah kan, nanti kalau aku tetap memakainya, dia bisa salah paham, dikira aku tidak patuh pada suami," ujar Aisyah bergumam, dia biarkan rambutnya tampak jelas di sini.
Maid yang lewat sambil membawa bahan masakan sontak membuka matanya lebar, bahkan mulutnya endak berbicara, tapi tak mengeluarkan suara.
Apa ada titisan bidadari di rumah ini?
Langkah kecil dan pelannya membelah lantai rumah ini, hampir tak bisa didengar kalau dirinya tengah berjalan, hanya pondasi rumah ini yang bisa merasakan getarannya, dia terlalu malu hingga memelankan hentakan kakinya.
"Hem, nanti sore akan aku aturkan pertemuan kalian, aku sudah bicara padanya. Kenapa?"
Kakak sedang bicara dengan siapa?
"Hentikan omong kosongmu itu, A-isyah sudah mau bertemu denganmu saja itu bagus, sialan!"
Oh, pasti itu kak Sena. Kakak tampan sekali kalau marah ya, ehehehehhe.
Aisyah senyum-senyum sendiri di balik lemari besar itu, menunduk sambil memilin jemarinya, wajah tampan Baskara baru kali ini dia lihat begitu jelas, wajahnya sampai memanas memandang wajah tegas dan tampan itu.
Jantungnya berdebar tidak karuan sampai dia tidak sadar Baskara telah menyelesaikan percakapannya, berbalik dan masuk ke rumah itu bersama salah seorang tangan kanannya, pemuda yang sering ke sini, tapi Aisyah tak pernah sekalipun memandang wajahnya dengan jelas.
Brak!
Kenapa aku didorong?
Aisyah terhenyak, wajahnya menempel pada kain jas gelap dengan wangi yang begitu dia kenal.
Dia pun mendongak, memastikan siapa yang mendorong dan menekannya. Kakak!
"Sudah aku katakan, lepas hijabmu kalau bersamaku saja, apa kamu tuli?" gumam Baskara ketus.
Aisyah mengintip sedikit, bukan hanya ada satu orang tangan kanan Baskara, melainkan tiga orang pemuda lainnya ikut masuk dan tengah sibuk melihat ke arah lain seolah mereka menghindari Aisyah daripada ke luar dalam kondisi buta.
"Tu-tuan, astaga, ampuni saya!" penjaga langsung pergi.
Bagaimana bisa mataku melihat Tuan sedang bermesraan dengan Nona sih, bodohnya aku ini!
__ADS_1
Eh, mereka tadi apa sedang berciuman? Ahahahahah, mesra sekali di depan tamu, ahahahah.
Penjaga sampai terjungkal berulang kali berlarian ke luar rumah, masa bodoh dengan apa yang endak dia berikan pada Baskara tadi, yang penting dia lari dan menjauh.
"Mmm, Aku pinjam jasnya Kakak saja, bisa aku pakai ke kamar." Aisyah tidak kuat sedekat ini dengan Baskara.
****, apa yang aku lakukan? Mereka pasti mengira aku sedang memaksa A-isyah, bagaimana kalau setelah ini A-isyah jadi takut denganku, bodoh!
Baskara lepas jasnya, dia tutupkan ke kepala Aisyah dengan cepat, memutar tubuh kecil itu dan meminta semua orang tak berbalik sebelum Aisyah sampai ke kamarnya.
Gila, Baskara raba dadanya, tadi ujung hidungnya hampir menyentuh rambut Aisyah, matanya memandang Aisyah lama, bahkan Aisyah malu-malu membalas tatapannya.
Apa yang aku lakukan? Dasar jantung bodoh!
Tapi, A-isyah ... dia cantik sekali. Dasar bodoh, kendalikan dirimu!
Tiga pemuda itu menunggu, berdiri tegap seperti patung, memaki diri mereka sendiri yang seharusnya menunggu di depan saja, kalau begini mereka bisa diancam libur kerja.
"Apa yang kalian lihat?" Baskara berdiri tepat di belakang tiga pemuda itu.
"Kami, kami tidak melihat apapun, hanya sirip ikan koi yang indah itu, iya. Ahahahahahah ...."
"Naik ke ruang kerjaku!"
Lari!
***
Hari ini, Baskara akan membawanya bertemu dengan Sena.
Aku sudah menanyakannya berulang kali, tapi kakak selalu menjawab kalau kak Sena rindu padaku, huh!
Aisyah ambil warna coklat dengan manik-manik di ujung rok juga pergelangan tangan, tak ada yang berbeda dari penampilannya, hanya bedak tipis yang dia hamburkan di wajah itu, alisnya sudah tebal alami, bibirnya juga kemerahan tampak selalu segar dan berkilau seperti ada kristalnya.
"Cepat, A-isyah!"
"Iya." dia segera berlari ke luar, menjinjing roknya sampai lutut hingga terlihat celana panjang kain di dalamnya.
Bruk!
"A-isyah!" geram kebiasaan jatuh dan menabrak Aisyah. "Bisa tidak kalau jalan itu lihat yang benar, hah?" sergahnya
"Itu ... itu, maafkan aku!" takut.
"Ceroboh sekali!" gumam Baskara, tapi masih bisa Aisyah dengar.
__ADS_1
Bibir Aisyah berkedut, dia tak sengaja menabrak tadi, kalau bisa dia tentu akan menabrak lemari, bukan suaminya, tapi Baskara sampai kesal begitu padanya, bahkan nada bicaranya ketus sekali.
Tidak, dia tidak boleh menangis, memang suaminya itu menyeramkan, dia harus terbiasa, terlebih lagi dia mencintai suaminya, Baskara.
Aisyah duduk tepat di samping kemudi, sekilas Baskara lihat dari atas sampai bawah, gemerlip manik-manik itu membuat kepalanya berdenyut.
Dia dandan secantik ini bertemu dengan Sena? Huh, bagaimana aku tidak kesal sejak tadi, ternyata dia secantik ini, seindah ini, segemerlap ini, iya?
Baskara remat kemudinya, kedua tangan itu sampai menonjolkan otot hijau yang ada di sana, jejakan gasnya bahkan membuat Aisyah terkejut, sampai-sampai dia berpegengan kuat pada sabuk pengamannya.
Brumm, brum ....
Selama menikah dan dia ke luar bersama suaminya, tidak pernah tegang dan menakutkan begini, Aisyah benar-benar takut.
"Kak, jangan kencang-kencang, nanti-"
"Kenapa, takut bajumu rusak? Atau riasanmu hancur, hah?" nadanya terdengar sangat kesal.
Aisyah bergeleng, bukan itu yang dia maksudkan.
Lihat, kamu takut penampilanmu hancur di depan Sena, iya kan? Di depanku mana pernah kamu memakai baju indah begini, A-isyah. Demi Sena, ya demi bedebah sialan itu kamu secantik ini. Aku benci, A-isyah!
Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi, Aisyah terpelanting ke kanan dan kiri, bahkan ketika rem dipijak, dia ambruk ke depan.
"Kak, hati-hati!"
"Kaaaaakk, jangan begini, bahaya!"
"Kaaak!"
Aisyah sentuh tangan kiri Baskara, tepat di kemudi itu, dia goyangkan dengan rematan kecil, terasa dingin di kulit Baskara.
Seperti air yang mampu mematikan api, begitu sentuhan tangan Aisyah padanya, luapan kesal dan cemburu di dalam dirinya lenyap karena Aisyah menyentuh tangannya.
Baskara pandangi tangan itu, kulitnya sangat putih mengalahkan air susu, jarinya begitu lentik dan indah.
"A-isyah," panggilnya bersuara pelan, kemudinya kembali normal.
Eh, tanganku, Kakak nanti marah, sini!
Aisyah tarik tangannya, melepas rematan di tangan Baskara yang tanpa sadar itu.
Eh, kenapa Kakak menariknya kembali? Tanganku!
"Jangan dilepas, A-isyah!" pinta Baskara bersuara pelan, hilang kesalnya.
__ADS_1
Hem?