
"Aku hamil, sayang!"
"Mamaaaaaa, aku hamil!"
Sena dan mama Ira berlari ke kamar, suara teriakan Gina membuat mereka berlarian, hampir saja saling menabrak.
"Gin." Sena tekan bahu Gina, istrinya itu tengah duduk di lantai dengan wajah basah yang senang. "Ada apa?"
Gina tunjukkan hasil tespeknya, dua garis merah di sana dan jelas saja kalau itu berarti Gina tengah mengandung anak Sena, dia berhasil hamil lagi setelah keguguran waktu itu, bahkan sampai melewati banyak masalah dan hampir berpisah.
"Anak kita, sayang!"
"Emuah, hati-hati!" Sena bantu berdiri, dia pegangi dan berniat menggendong kalau tidak ada mama Ira, malu. "Awas, jangan duduk asal gitu, kamu harus jagain dia yang baik, aku tidak mau kehilangan dia lagi!"
Wajah mendung Sena mengingatkan Gina pada proses perceraian yang hampir mereka lewati kala itu, Gina cium pipi Sena, dia berkedip genit dan memastikan kalau dia akan hati-hati.
Mama Ira berikan ucapan selamat di sini, mereka selangkah lebih maju dibandingkan pasangan Aisyah dan Baskara, takdir memang seadil itu, pikir mama Ira.
Dia bagikan kamar kehamilan Gina pada anak tirinya, yang tak lain istri dari sepupu Baskara, lewat sana akan dirasa lebih mudah menusuk keluarga besar yang menurutnya sok suci itu pusing bukan kepalang, Gina lebih dulu diberi dibandingkan Aisyah.
"Sen, jaga istrinya, kalau perlu kamu minta izin kerja, biar kalau anter Gina kontrol itu langsung kamu, atau misal tidak bisa, kan kamu bisa izin sekalian buat ajak dia ke kantor, ya?"
"Jangan, Ma. Nanti, malah jadi omongan yang gimana kalau-"
"Kenapa? Omongan apa? Kalau ada yang tidak terima sama kehamilan aku ya mereka tidak berhak menghakimi dong, kalau iri ya suruh buat sendiri, kalau lama belum dikasih anak ya, suruh ngaca apa salahnya sampai Tuhan tidak segera memberi dia anak!"
Sena diam, dia tak mau membuat masalah yang sekiranya bisa memancing emosi sang istri, jangan sampai terulang apa yang terjadi waktu itu hingga membawanya ke ladang perpisahan.
Memang Sena berpikir pada Aisyah, tapi bukan terpusat pada itu saja, melainkan di kantornya ya banyak yang belum dikaruniai anak meskipun sudah usaha ke sana-sini.
Namun, dia yakin itu tak akan diterima Gina, pasti hanya Aisyah yang menjadi pusatnya.
__ADS_1
"Ya sudah, kamu mau makan apa? Jangan capek-capek, kalau mau apa-apa, kamu bisa panggil dan minta ke aku!" ujar Sena posesif.
Gina tersenyum, dia peluk perut suaminya itu, mengusel gemas dan bermanja, dia mau dimanja selama kehamilan kedua ini, tak mau disia-siakan seperti dulu, dia mau dicintai sepenuhnya.
Mama Ira tersenyum puas, pesannya sudah mendapat tanggapan dari sang anak tiri, sebentar lagi pasti tersebar sampai ke ujung kaki keluarga besar itu.
"Mama kabari Disa?"
"Iya, biar mereka yang katanya keluarga penuh peduli itu ke sini, masa iya ada iparnya berkabar baik, mereka tidak datang menjenguk, kan ini harus mereka perhatikan juga!"
"Ya, aku tidak masalah sih, cuman kan kehamilan Gina ini masih muda, apa tidak sebaiknya nanti kalau sudah besaran saja, maksudku sampai empat bulan biar kita simpan seperti yang orang-"
Tidak, mama Ira tak mau setuju akan usulan itu, dia mau dan akan menegur Disa kalau sampai Disa tidak menyebarkan, lalu keluarga besar suami Disa itu tidak datang.
Terutama pada Aisyah, akan dia pamerkan kehebatan anak lelakinya yang dia tolak dan menantunya yang direndahkan.
Memang siapa yang merendahkan Gina? Apa tidak terbalik?
***
Mereka terkejut karena ya memang ini kabar kejutan, kehamilan dalam sebuah pernikahan kan kejutan, kejutan yang membahagiakan, pikiran mereka tak seburuk mama Ira.
"Dis, kirim kadonya ya, nanti kita menyusul ke sana kalau semua bisa kumpul, tapi yang penting kadonya dari kita ini sampaikan ke mereka, terus sini kita rekam video bareng-bareng, kasih ucapan ke mereka!" bude Maya berikan saran.
Semua setuju, hadiah pertama pun mereka berikan, sebuah video ucapan selamat untuk Gina atas kehamilannya.
Ibu rangkul menantunya, menempelkan pipinya pada pipi lembut Aisyah, menyatukan senyum mereka, tidak ada Baskara di sini, mengingat harus ada salah satu yang dipilih, bekerja menjaga keluarganya atau diam makan-makan.
"Bu, nanti aku langsung pulang saja, kakak mau menjemput katanya, ibu sama Sofi bagaimana? Mau bareng?"
"Kalian duluan saja, Sofi kalau sudah ketemu sepupu yang lain pasti susah diajak pulang kalau tidak ayahnya yang datang ke sini, ayah kan pasti lebih malam lagi, jadi kalian duluan ya."
__ADS_1
Aisyah mengangguk, dia lanjutkan menikmati makanan yang baru saja ibu ambilkan, berbagi berdua tanpa ada batasan.
Ibu tidak mau sampai Aisyah merasa sendirian dan terasingkan di sini, walau tak ada yang mengasingkan, bisa saja Aisyah merasa yang bagaimana akan kabar kehamilan Gina.
"Kak," sapa Aisyah.
"Sayang, masuk!" Baskara turunkan kaca sambil mengulas senyum.
Aisyah masuk cepat, dia mendapatkan kecupan di pipi lima kali dari suaminya, padahal Baskara belum tahu ada apa di pertemuan kali ini, nalurinya saja ingin mendekat pada Aisyah.
"Ibu pulang malam sama Sofi?" tanyanya.
"Iya, tadi aku ajak bareng, tapi ibu bilang kalau Sofi tidak mau diajak pulang selain ayah, ahahahahah ... adiknya Kakak itu super duber deh, Ais sampai bingung mau nurutin dia apa, dia ke sana-sini buat semua sepupu bingung. Kenapa tadi tidak masuk dulu?"
Baskara pijat lengan kirinya singkat, "Hari ini lelah sekali, aku mau segera mandi dan istirahat. Ada yang mau memasak tidak ya?"
Aisyah sontak mengangkat satu tangannya tinggi, dia mengangguk, bersedia untuk membuatkan suaminya makanan.
Perihal kehamilan Gina memang belum Aisyah katakan, tapi nanti pasti Baskara akan membaca pesan di grup keluarga akan kesepakatan berkunjung ramai-ramai.
Untuk saat ini, Aisyah mau diam saja.
"A-isyah, ponselku mati, simpan di kamar saja!"
"Iya, aku simpan, Kakak mandi sekarang?"
"Hem, airnya penuh, aku jamin sudah siap mandi!"
Aisyah tertawa, awas kalau minta mandi yang lainnya, sekalipun berkata lelah, akan tetapi bila ditawari hal satu itu, pasti tak akan menolak.
Baskara nikmati air dinginnya, sebelum ponsel itu mati, dia sempat membaca pesan grup, wajar dia melihat gurat berbeda dari wajah Aisyah, tidak lain ada kabar dari pasangan heboh yang tak ada henti mengganggu istrinya.
__ADS_1
"Kaaak, airnya sudah!"
"Iya, sayang, tunggu!" balas Baskara berseru sambil berlarian naik. "A-isyah, jangan ke luar kamar!"