Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Karena Lampu Mati


__ADS_3

Tepat pukul dua pagi, lampu rumah itu padam, entah karena apa.


Baskara berjalan ke luar kamarnya, rumah ini punya genset sendiri, seharusnya tidak sampai lama dibiarkan gelap.


"Ke mana penjaga rumah ini?" gumam Baskara sambil mengenakan kimono tidurnya, dia terbiasa tidur dengan celana panjang saja, dadanya dibiarkan terbuka. "Bik Nur?"


Bik Nur berhenti, tersenyum sekilas pada Baskara, di tangannya ada lilin dan korek api.


"Kenapa dibiarkan mati lama?"


"Maaf, Tuan. Pak Wan ketiduran tadi, ini sudah bangun jadi mau saya bantu, tunggu di bawah dulu, Tuan!"


Baskara mengangguk, bukannya duduk dia lantas bergegas ke kamar Aisyah, kalau Aisyah menutup rapat jendela kamar itu, tentu saja akan terasa panas dan seperti ikan di akuarium saja.


Tok, tok, tok.


"A-isyah," panggilnya.


Diam, tak ada jawaban.


"A-isyah, bangun!" dia ketuk lebih kencang sekali lagi.


"A-isyah!" suaranya mengalahkan gemuruh petir. "Buka, A-isyah!"


Cepat buka, A-isyah. Di dalam pasti panas!


Baskara mondar-mandir di depan pintu kamar itu, lampu belum juga menyala, dia masih merasakan panas di dalam rumah ini, rasanya tak ada angin sama sekali.


Tangan Baskara endak terangkat mengetuk pintu itu lagi, hampir saja jatuh ke wajah Aisyah yang mendadak membukanya tanpa sahutan sebelumnya.


"A-issssyah!" Baskara geram. "Kenapa lama sekali membukanya, hah? Apa di dalam tidak panas, apa yang kamu lakukan? Apa bisa tidur dalam kondisi panas begini, kamu mau mati kepanasan, hah?"


Baskara raup-raup wajahnya berulang kali, dia berada di puncak khawatir.


"Buat minuman sana!"


Aisyah mengangguk, dia tadi hanya memakai baju tidur pendek, tidak mungkin dia membuat jantung Baskara dan dirinya sama-sama melompat karena penampilan baru itu, keduanya kan belum pernah saling melihat jauh begitu.


Mulutnya tak menjawab Baskara sama sekali, tapi tangannya membuat apa yang Baskara inginkan. Jujur, dia salah tingkah melihat Baskara malam ini, dia terbiasa melihat Baskara memakai baju kerja, tapi malam ini dia melihat suaminya itu seperti haram untuk dia lihat, kimono satin itu membentuk lekuk tubuh Baskara.


Ah, pipiku jangan sampai merah!


"Ini, Kak." dia simpan di depan Baskara.


Baskara mengangguk, dia sesap sedikit demi sedikit, di dapur ini ada jendela besar, setidaknya mereka bisa merasakan semilir angin.


"Mana punyamu?"


"Aku?" Aisyah menunjuk dirinya, Baskara mengangguk. "Aku sudah minum tadi, Kak."


"Di kamar? Gelap begitu bisa minum?"


Aisyah bergeleng, "Sebelum lampu mati, aku sudah bangun, minum air rendaman kurma."

__ADS_1


Kedua alis Baskara terangkat, dia ingat jam berapa listrik di rumah ini padam dan ada gangguan rupanya pada genset di belakang, tapi Aisyah bilang sudah bangun.


"Kenapa tidak tidur?" tanya Baskara, anggap saja malam ini dia lagi suka berbicara. "Apa yang kamu lakukan?"


"Sholat," jawab Aisyah singkat, jantungnya berdebar.


Ah, itu, yang kamu lakukan setelah kita menikah sampai kamu menangis itu? Apa kamu menangisi Sena lagi?


Mereka terdiam cukup lama, sampai Aisyah mengambilkan buah potong untuk Baskara, menyajikan di dekat cangkir teh itu.


"Besok hari senin, apa aku boleh berpuasa?" tanya Aisyah, dia berdiri di samping tempat duduk Baskara.


"Lakukan apa yang kamu suka selama di rumah ini, kenapa bertanya padaku?"


Aisyah tersenyum, malu-malu dia menjawab, "Izin dari Kakak akan menjadi pahala yang besar untukku, sebaliknya kalau Kakak tidak mengizinkannya karena sesuatu hal, akan lebih baik aku tidak melakukannya."


Deg!


Ada yang menghantam jantung Baskara kencang, baru saja. Dia kehilangan kata-katanya karena jawaban Aisyah, hampir-hampir dia mau bernapas saja susah.


"A-isyah."


"Iya?" endak mengambil piring, bersiap sahur.


Baskara berdiri, dia mengambil langkah mendekat pada Aisyah, dua langkah di depan Aisyah.


"Apa kalau aku melarangmu berpuasa, akan kamu lakukan?"


"Kenapa? Tidak takut kehilangan pahalamu?"


Lagi, Aisyah tersenyum.


"Menuruti Kakak akan jauh lebih besar yang aku dapat dari-Nya, sejak menikah, aku belum berpuasa sama sekali, aku menunggu waktu bisa berbicara bersama Kakak," tuturnya.


Astaga, aku bisa mati mendengar jawabannya.


"Kalau begitu, aku melarangmu puasa!" putus Baskara.


"Baiklah." Aisyah letakkan kembali piring itu.


"Kamu tidak bertanya alasannya?"


Aisyah menggelengkan kepalanya.


"Kalau aku menyuruhmu terjun ke jurang, apa kamu mau dan tidak bertanya alasannya?" tanya Baskara lagi.


Aisyah mengangguk dan tertawa kecil, dia menunduk seperti biasa, dia malu.


"Jadi, kamu mau mati karena perintahku?" lagi dia bertanya.


Yang benar saja, A-isyah?!


Aisyah angkat wajahnya sedikit, lalu dia balas, "Apa Kakak akan melakukan hal itu padaku?" lagi dia tambahkan. "Apa Kakak, mau aku mati di jurang?"

__ADS_1


Duar!


Mulut Baskara sontak terkatup, balasan telak dari Aisyah membungkam dirinya. Jawabannya jelas tidak, sudah gila apa dia menyuruh Aisyah bunuh diri ke jurang, kalau saja Aisyah terdampar di lautan, dia pasti rela berenang demi menolong Aisyah.


Lampu rumah itu kembali menyala terang, tampak jelas wajah syok Baskara akan balasan Aisyah.


Aisyah berjalan melewati Baskara sambil menutup wajahnya, dia benar-benar malu membalas pertanyaan suaminya itu, baru kali ini mereka berbicara cukup lama.


Tawa kecil Aisyah seakan-akan mengutuk Baskara menjadi patung saat ini.


***


Beberapa hari kemudian,


"Ya, Ibu ... kenapa memaksa A-isyah untuk ikut bersamaku? Dia pasti sakit hat-" Baskara terkejut. "Ibu, nanti aku telfon lagi, aku tutup dulu!"


"Oke, sayang. Sampai ketemu di sana ya!"


Baskara rasa tidak ada gadis lain di rumah ini selain Aisyah, istrinya. Tapi, ada orang lain yang memakai baju panjang seperti Aisyah di ruang tamu rumahnya, sedang membelakangi Baskara.


"Siapa?" tanya Baskara bersuara tegas.


Gadis itu berbalik, wajahnya tertutup, hanya memperlihatkan sebagain kening dan area matanya.


"A-isyah?" mata indah itu, dia kenal.


Aisyah mengangguk, dia akan ikut dan hadir ke acara pernikahan Sena.


Dia memakai cadar? Apa karena ingin menutupi wajah sedihnya dan air matanya?


Baskara lihat sekali lagi, Aisyah tetap cantik menurutnya, baik wajah itu tampak atau tertutup seperti ini, tetap sama baginya, cahaya hati Aisyah tak pernah berubah.


"Kakak keberatan aku ikut?"


"Tidak." Baskara perhatikan lagi. "Kenapa kamu ikut?"


Kenapa juga memakai cadar itu?


Aisyah tersenyum, tampak dari kerutan di ujung matanya.


"Aku mau menemani, Kakak. Dan ini-" dia ingin menjelaskan masalah penutup wajahnya. "Ini karena di sana banyak tamu yang tidak aku kenal, aku malu dan tidak mungkin bersembunyi di belakang Kakak terus." merona seketika.


Di tempat acara,


Baskara ulurkan tangannya, begitu Aisyah raih sontak dia tarik ke belakang, membuat Aisyah berdiri tepat di belakangnya, berjarak sedikit sekali dari bahu tinggi kokoh itu.


Dia menoleh sedikit, manik mata Aisyah tersentak membalasnya.


"Sampai selesai, seperti ini juga, A-isyah!"


"Iya."


Aisyah biarkan tangannya digenggam Baskara dan dia sudah cukup menikmati keindahan di balik punggung suaminya itu.

__ADS_1


__ADS_2