
"Ayaaaahhhhhh, ikut ke rumah sakit tidak?" seru ibu kelabakan, ada-ada saja memang ulah pasangan muda di rumah sana, Aisyah merasakan sakit yang hebat pada perutnya setelah makan rujak buah. "Ayaaaaaahhh, mantunya mau lahiran itu loh!"
Blar!
Ayah sontak berbalik, dia baru saja mau ganti baju karena bau keringat, sudah dibuat terkejut karena suara sang istrinya, terlebih membawa kabar sang menantu yang endak melahirkan.
Cucunya akan segera hadir ke dunia, cucu lelaki yang akan jagoan dalam hidupnya, garis turunannya bersama istri pertama akan segera hadir dan lengkap.
"Ayaaaaaaahh!"
"Iya, Jingga, tunggu!" buru-buru mengambil baji terbaik, tak lupa tas kecilnya, isian dompet di sana semua, mau membelikan balon untuk cucunya nanti. "Kapan lahirannya, Jingga?"
Ibu berlari sampai nafasnya kejar-kejaran, "Ayah jangan lama-lama, Bas ketakutan itu di rumah sakit, telpon aku terus, ayo buruan berangkat, nanti urusan Saka sama Arsy sudah aku kasih tahu Sofi sama Nakula, ada kerabat lain kayak Pian sama Yoga, ini yang lebih utama!"
Ayah menurut, dia tahu kenapa sampai Baskara ketakutan, ada dua hal yang Baskara takutkan, diantaranya dia takut mendengar kabar buruk seperti yang ayah ya alami dulu di mana ibu kandungnya meninggal dunia setelah melahirkan, lalu kabar buruk kedua adalah anaknya membutuhkan ibu sedang Baskara tak ingin membagi cinta atau melirik wanita selain Aisyah, dia tidak akan bisa menemukan sosok seperti ibu Jingga yang kedua, ibu sambung yang baik dan peduli itu sulit ditemukan, yang ada hanya peduli pada suami saja, anak-anak nomor kesekian.
Baskara mondar-mandir, selepas BAB memang tadi Aisyah, perkiraan masih di minggu depan lagi, tapi mungkin efek asam atau sakit perutnya, dia tidak paham akan ucapan dokter tadi memancing kontraksi, kalau ibu bilang memang sudah waktunya minta ke luar anak itu, ingin ikut acara lamaran dari pamannya, Saka.
Dia belum mau masuk sampai suster datang kepadanya mengabarkan kalau Aisyah menangis.
"Ya, A-isyah ... aku di sini, aku bersamamu, mana yang sakit lagi?"
"Sudah hilang, tapi nanti ada lagi."
"Kamu menangis kenapa?"
"Kakak tidak ada di sini, maksudku Yanda di depan, aku takut Yanda marah dan aku tidak mendapatkan relanya Yanda di sini, pasti akan sulit." dia menitihkan air mata lagi.
"Aku di sini, tenang saja, aku hanya menunggu ibu dan ayah, mereka mau ke sini, aku temani, sayang."
Aisyah baru merasa tenang, dia genggam tangan suaminya itu, tak ada hal lain yang bisa dia harapkan kecuali dari kerelaan dan maaf dari suaminya itu, dia sudah membiarkan bibirnya basah terus akan doa, bahkan tak berhenti sekalipun tangisnya meledak karena rasa sakit itu, denyutan yang menyiksa perut dan membuatnya hampir menyerah, tulang ekornya seperti mau patah saja.
"Yandaaaaa, sssstttttthhhh!" dia usap punggungnya lagi. "Sakit, Yanda!"
"Iya, mana yang sakit, biar aku usap, sabar ya, sabar ya ... Nak, bantu ya, pelan-pelan ya ...."
Aisyah terus mendesis sebelum akhirnya meminta minum dan tenang sebentar, dia hapus air matanya, lalu kembali berbincang, tak lama dia harus kesakitan lagi kesekian kalinya, kakinya sampai dingin begitu Baskara pegang.
"Perut ke bawah kayak mau lepas saja ini, huuuhhh, huuuhhh, iya, iya, tidak apa Adek ke luar ya, pelan ya ...."
Suara itu sampai terdengar di depan, ayah dan ibu diperbolehkan masuk, begitu melihat Aisyah kesakitan, ayah langsung memalingkan wajahnya, sudah pengalaman, tapi masih takut, terlebih lagi di dekat ranjang itu ada anak lelakinya yang dikerumuni rasa takut luar biasa.
__ADS_1
Ayah tekan sedikit bahu Baskara, mengajak anaknya itu ke luar sebentar dan ibu yang mendampingi Aisyah, memberikan doa, minuman dan semangat, mengajak berbincang dengan pembawaan yang positif hingga Aisyah merasa kuat dan bersemangat menjalani prosesnya.
"Tidak, Ayah. Aku tidak memarahi A-isyah soal rujak itu, langsung aku bawa ke sini, aku panik, tidak sempat marah-marah, Yah." jelasnya.
"Bagus, jangan marahi istrimu, dia begitu juga sudah jalannya, awas kalau Ayah tahu kamu marah-marah, Ayah pukul di sini!"
"Iya, tapi aku takut kalau A-isyah, -" Baskara tak bisa melanjutkannya, tapi ayah paham akan ketakutan yang dia turunkan pada Baskara kala itu, anaknya kehilangan sang ibu saat baru dilahirkan, trauma itu masih melekat. "Ayah, aku tidak akan bisa menemukan yang sama seperti ibu Jingga, tidak ada, Yah!"
"Heh, memangnya Aisyah mau mati apa, dia pasti kuat dan sehat, anak kalian juga akan mendapatkan kasih sayang lengkap dari kalian, tidak akan kurang satu pun!"
Baskara sembunyi di balik bahu ayahnya, tidak kuasa menahan isak tangis yang ada dan ketakutan yang berlebih, dia bertekad baru mau masuk kalau Aisyah sudah siap melahirkan, saat ini biar ibunya saja yang di dalam.
Sesekali ayah usap kepala anak pertamanya itu, siapa lagi yang akan menguatkan kalau bukan dirinya, yang selalu ada dan membuat anaknya kuat.
Tidak akan ada pengganti bagi seorang istri, begitu pula tak ada yang bisa menjadi gantinya kalau bukan seperti istrinya saat ini, menerima dan bahkan jauh lebih mencintai anak yang dia bawa dibandingkan anaknya sendiri, seluruh jiwa raga ibu Jingga berikan pada Baskara sekalipun dia punya dua anak setelahnya.
"Sudah, nanti Aisyah jadi sedih kalau suaminya cengeng, kamu ini mau jadi penerus kok suka nangis sih, mau dipukuli lagi?"
"Jangan, nanti ibu marah loh!"
Kalah sudah ayah kalau diancam dengan amarah ibu, dia jelas tak akan berkutik sama sekali meskipun dia kesal pada anaknya.
Di dalam sana ibu berusaha menjadi pegangan dari menantunya itu, mengatakan kalau setelah pembukaan kelima pasti semua akan cepat dan baik, tidak akan berasa lagi.
Tapi, yang Aisyah rasakan lebih dari yang ibu bilang, dia atur nafasnya, berusaha tak banyak mengeluh agar semakin kuat mengejannya nanti.
"Ibu sakit lagi, Bu ... sakit lagi, ini!"
"Ibuu...."
Terus begitu sampai suster ke luar meminta Baskara segera masuk, sudah mendekati pembukaan puncak di mana dia harus berada di dekat sang istri, bisa saja anak mereka sudah siap didorong.
Tampak wajah lemah dan pucat Aisyah di sana, perutnya sudah semakin turun dan turun, Baskara duduk di dekat dada, dia kecup kening istrinya yang menelan saliva saja susah, hijab Aisyah pun basah karena keringat, menatap nanar pada Baskara sambil bergeleng lemah.
"Yanda, Yanda, Yanda ...."
"Iya, sebentar lagi ya, ketemu dedek ya, Nda sayang!"
Aisyah mengangguk, dia pejamkan matanya singkat, semakin merasa patah semua tulang-tulangnya, cengkraman pada sisi ranjang dan tangan Baskara pun semakin menguat, sedikit jeritan terlepas di sana.
Dua dokter wanita masuk beserta perawat lainnya, mereka mulai memberi arahan. Baskara sontak mengangguk, dia cium istrinya begitu Aisyah mengikuti arahan dari dokter di bawah sana.
__ADS_1
Doa mulai dia langitkan, air mata dari mata tajam itu terus menetes, meyaksikan istrinya berjuang demi buah hati yang sangat dia cintai dan dari bagian tubuhnya, Aisyah yang dia lindungi akan melahirkan sosok pelindung baginya, hanya untuknya.
"Sayang, kuat!" bisiknya.
***
Baskara gendong bayi mungil yang masih merah dan mendecap kecil itu, baru saja dia selesaikan tugasnya dan membantu Aisyah memberi susu pada bayi itu, wajahnya seindah wajah Aisyah, ibarat rembulan dibagi dua, tapi alis dan garis matanya sedikit mirip pada Baskara.
Ayah berulang kali mengambil gambar cucunya itu, dia bahkan tak mau mengalah kala cucunya menangis, mau dia timang juga, bergantian dengan ibu yang gemas minta ampun, mengingatkan dirinya untuk pertama kali menjadi ibu sambung Baskara, masih kecil mungil dan menangis di gendongannya.
"Mau apa, Nda?"
"Laper, Yanda, ehehehehe, habis terkuras tenanganya, kata suster boleh makan, aku lapar ahahahah."
Ibu baru ini kelaparan sampai mencari-cari rontokan kerupuk yang tadi suaminya makan, mereka sudah pindah ruangan yang jauh lebih segar dan bersih, ada ranjang penunggu di mana saat ini menjadi tempat ayah berbaring bersama cucu pertamanya, menyamai mata yang ada di sana, ingin dia pastikan bisa menjadi jagoan sama sepertinya.
"Aku bantu makannya, kalau kurang bilang ya, aku belikan lagi, Nda!"
"Iya, suapi, mau dimanja!"
Baskara tergelak, bisa-bisanya berlaku manja disaat dia tak bisa menyentuh lebih, bisa kepanasan menunggu 40 hari itu, selain menciun dan lainnya, alternatif lain maksudnya, dia harus mengurung tembak tak bertulangnya dengan baik.
"Ahahahaha, dia haus ini, cucuku haus, Jingga!" dengar, memanggil ibu yang seharusnya jadi nenek saja masih nama, ayah memang seenaknya sejak dulu, tapi sayang. "Dia haus mau minum, Jingga, bantu ke Aisyah!"
"Iya, tunggu, kakekmu ini cuman jaga saja, tidak mau bantu minta susu ya, sini biar nenek cubit, Syah!"
Rasyah, nama bayi kecil laki-laki Baskara dan Aisyah, boleh dipanggil Ras atau Syah, atau mau lengkap Rasyah pun tak masalah, turunan Yudistira hadir di sini, ibu timang dan berikan pada Aisyah.
"Ayah mau apa?"
"Tidur, aku mengantuk menunggu dia lahir, eheheheh." tak menunggu lama tidur juga di ranjang tunggu, mau ibu cubit juga dilarang anaknya, biar saja, ayah terlalu senang akan kelahiran cucunya itu.
Masih ada ringisan perih saat lidah bayi itu menyecap dan mengisap ASI, Aisyah pejamkan matanya sambil terus mengintip anaknya minum dengan baik di balik hijab besarnya itu.
Wajah Aisyah semakin cantik saja, membuat Baskara enggan berpaling dan terus memandanginya, tersenyum sendiri karena akhirnya dia bersama Aisyah menjadi sepasang orang tua, hal yang sangat tak dia duga.
"Yanda, bantu biar sendawa sini!"
"Iya, Nda. Sini biar aku bantu dia, anak laki sama Yanda saja, haik!" dia angkat sedikit, menepuk-nepuk punggung mungil itu sampai suara lucu dan gemas membuat mereka tertawa. "Besok bisa ikut paman lamaran ya, Syah, hem?"
Aisyah tersenyum, ibu pun masih menahan gemasnya pada cucu mungil itu, minta dicubit.
__ADS_1