
"Ahahahahh, aku bisa duluin kak Bas, Bu!" Saka menepuk dadanya bangga.
"Kamu ini, udah jangan bikin dia kebakaran jenggot, bisa-bisa Aisyah disuruh hamil lagi dalam waktu dekat, atau nekat dia minta anak langsung dua, dikiranya hamil sama kucing apa! Kamu jangan bakarin dia, Ka!"
"Iya, ahahaha, aku nggak janji. Tapi, Ibu bisa kasih tahu aku gimana nenangin ibu hamil, Arsy jadi sensi banget, Saka takut aja kalau ngomong bisa nyakitin dia. Apalagi, Ibu kan tahu kalau aku kerja di luar itu sekeras apa, gimana?"
Ibu berpikir sejenak, dia ingat akan moment kehamilannya saat mengandung Saka dan Shafiyah, mendadak dia tersenyum sembari menahan air mata yang menggenang.
"Ayahmu dulu juga pusing kok, tapi kalau Ibu lagi rewel palingan ayahmu diem, habis itu kalau marah ya diajak ke kasur, ahahahahahahah, ini kan Ibu blak-blakan aja, ayahmu suka begitu, diem kalau cewek ngomel, nanti kalau Ibu udah puas, ayah lanjutin yang lain, udah adem ayem, atau kalau nggak ayahmu jawab sampe Ibu lega, dia gentle banget, Ka...."
Saka tahu wanita di seberang sana merindukan sang suami, yang tak lain ayah Saka sendiri, dia yakin ibunya tengah menahan tangis karena rindu yang tak terbendung.
Menjadi janda dua kali dengan suami yang sangat perhatian dan mau berjuang tentu membuat hati yang terluka dihiasi banyak cinta. Ibu mendapatkan obat dari ayah, begitupun sebaliknya di mana ayah selalu menantikan ibu mengobati semua lukanya, menjadi wanita terbaik yang selalu mengerti akan dirinya.
Huh, Saka ingin memeluk ibunya saja, kalau dekat, sudah dipastikan dia membawa Arsy ke rumah utama dan tinggal bersama ibunya.
"Kak Bas ke rumah tadi?"
"Iya, dia tiap hari ke sini bawa Rasyah, eheheheh, anak itu udah nggak bisa diem, kayak Bas kecil, udah nempel sama bundanya, bikin punggung bundanya nyeri, tapi Aisyah sendiri nggak bisa kalau jauh, kayak Ibu sama Bas dulu, 11 12 lah, Sayang ... Ke rumah bareng, nanti Bas kerja, habis itu dijemput."
"Tapi, Ibu nggak kecapekan kan?"
"Nggak, justru Ibu seneng, ilang penatnya, ada Sofi ada Aisyah, ada cucu, ahahaha, tinggal kamu yang belum gabung, kalau kamu pulang, Ibu masakin yang banyak!"
Saka terkekeh, dia sendiri ingin pulang, tapi kandungan Arsy belum siap bila dia bawa ke sana, apalagi anak kembar yang tengah tumbuh di sana, membuat Saka harus berpikir dua kali sebelum akhirnya nanti pulang.
"Ibu doain kamu sama Arsy sehat-sehat, terus calon cucu kembarnya Ibu juga sehat, kalian segera ke sini, nunggu lahiran ya nggak apa, kayaknya barengan nanti sama Aisyah ya, Ibu ke sana kalau Aisyah udah enakan ya, Saka?"
__ADS_1
"Iya, kapanpun Ibu ke sini aku bakal siap, kalau bisa ya aku yang ke sana, biar Ibu nggak capek ke sini, perjalanan jauh."
"Namanya orang tua pengen nengok anaknya, Ka. Yaudah, kamu sama Arsy istirahat, jangan terbawa emosi dan dilatih sabarnya, oke Sayang."
"Hem, makasi, Bu. Love you."
"Love you too, Sayangku ... salam buat menantu sama cucu-cucunya Ibu ya," balas ibu
Saka mengangguk seolah ibu ada di depannya, dia merasa sesak bukan main, wanita itu belahan jiwanya, sepanjang malam dia merindukan usapan di kepala dari ibu, di tanah jauh ini dia akan berjuang mewujudkan apa yang ayahnya mau dan tentu menjadi bagian mimpi sang ibu.
Pria itu melangkah kembali ke kamar, lihatlah betapa malasnya ibu hamil dua anak itu, sedari tadi bergulung di kasur dan memutar remot, Arsy merasa tubuhnya lemah dan berat, maunya tiduran terus, sekalinya dia berdiri ada yang berputar di sisinya.
"Dapat salam dari ibu, Sayang." emuah, dia cium kening Arsy dan tak lupa menyapa anaknya di balik perut itu.
Arsy menjawab salam itu lebih dulu, lalu membalas kecupan dari suaminya, meminta tangan hangat itu mengelus punggungnya.
"Enggak, kayak capek banget punggungnya gitu, Bang."
"Abang pijitin ya, pelan-pelan sampe kamu enakan, sini Sayang!"
Oke, dia harus melatih banyak sabar di sini, di dalam perut itu adalah anak-anaknya, buah cintanya bersama Arsy yang harus dia tanggung jawab sampai nanti dan selamanya.
***
"Mana ada pepes di sini, Sayang...."
Arsy mengerucutkan bibirnya, kalau dia bisa, dia juga mau memasak sendiri, beli ikan tongkol atau pindang ke pasar terdekat, dalam bayangannya masih seperti pasar di tanah air, entah kenapa otaknya memihak pada semua makanan di tanah air.
__ADS_1
"Abang nggak mau nurutin mau anaknya ya, kok Abang jahat sih!"
"Abang mau, Sayang. Mau banget Abang bikinin kamu kalau bisa, tapi di sini nggak semudah itu bikin pepes, bumbunya sulit nyari, harus ke swalayan khusus, masih jam dua pagi, nggak ada yang buka, Sayang. Kamu mau nunggu?"
"Nggak mau, maunya sekarang bikinnya!" Arsy kembali mengerucutkan bibirnya, ibu hamil itu berbalik memunggungi Saka, tak peduli bagaimana caranya saat ini juga Saka harus menyediakan pepes di depan matanya, mau dia makan. "Abang nggak sayang sama aku dan anak-anak, maunya bikin doang, nggak mau tanggung jawab kalau mereka lapar, Abang tegaan!"
Oh, Noooo!
Saka bangkit dari tidurnya, yakin dia tidak akan bisa bekerja sebelum permintaan sang istri ini terpenuhi, Saka lantas mengambil ponselnya, masih ada harapan pada beberapa saudara yang tinggal cukup jauh dari tempat tinggalnya, mereka mungkin bisa mengirim lewat supir.
"Emm, Kakak bisa kirim sekarang bumbunya, iya istri aku ngidam itu, Kak... plis, bantuin aku!"
Arsy mencoba mendengarkan obrolan sang suami yang entah bersama kakak siapa, kemungkinan akan terpenuhi ngidamnya yang ini, dia tahu Saka akan menuruti dan berjuang untuknya.
"Hemm, Kakak kirim aja sekarang, supirnya ready kan, Kak? Atau dari aku aja yang kirim ke sa-oke, baik... makasi banyak ya, Kak. Nanti, kalau kandungannya udah kuat, aku ajak ke sana, dia masih harus di kasur aja, ehehehe, iya anak aku dua langsung." Saka terkekeh sejenak sebelum akhirnya panggilan itu berakhir.
Beruntung walau nanti harus menunggu dua jam lagi sampai ke rumahnya, paling tidak dia sudah berjuang dengan apa yang istrinya mau.
Pria itu kembali ke kamarnya, Arsy masih terjaga sambil mengusap perutnya yang masih terus menginginkan pepes, tak ada raut marah di sana, bersyukurlah Arsy karena sang suami punya pengendalian yang baik.
"Kamu nggak mau peluk suami kamu?"
'Mau, sini!" Arsy lebarkan kedua tangannya, sudah tak bisa memberi jatah, merepotkan lagi, Arsy terkekeh dalam hati. "Baaang, kamu kangen sama aku?"
Heh!
Pertanyaan yang intinya mau membunuh Saka perlahan.
__ADS_1
"Kangen apa?" deg.