Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Gaya Baru


__ADS_3

"Ndaa ..." wajah Baskara melesak ke bukit empuk itu, kedua tangannya berpegangan pada pinggang dan pinggul Aisyah, sebisa mungkin menjaga tempo yang ada.


Ini gaya baru yang dia bilang, sekali coba sudah blingsatan.


Sementara Aisyah memilih memejamkan matanya, mendekap erat kepala yang ada di depan dadanya itu dan perlahan bergerak menyiksa sang suami, setelah sebelumnya dia bingung mau bagaimaja duduk di atas suaminya, takut berat dan membuat kaki lecet mungkin.


Mendekati puncaknya, Baskara putar sedikit, dia baringkan dan berganti dia yang di atas, senyumnya mengembang melihat keindahan makhluk di bawahnya yang tengah mengandung buah hatinya itu, dia kembali menghujam hati-hati, tidak brutal seperti sedang mengejar lawan, jangan sampai menyakiti anaknya.


"Boleh di dalam, Nda?" dia ingat apa yang dokter katakan akan pengaruh semburannya pada sang anak, bisa mempercepat kontraksi katanya, atau mungkin beresiko keguguran.


Aisyah mengangguk, tapi karena Baskara bimbang dan dia masih mau membaca ulang kembali apa yang dia dengar, di detik terakhir dia cabut senjatanya, lalu menumpahkannya ke tempat lain.


Selamat jalan anak-anak Yanda.


Nafas Aisyah memburu, matanya terus menelisik apa yang suaminya lakukan, pria berwajah garang itu tampak lucu kalau bingung, ada saja ulahnya.


"Emuah, aku bantu bersihkan, Nda!" dia gendong tubuh Aisyah ke kamar mandi, tidak dia biarkan lama berbaring sampai tertidur, sedang masih kotor dan penuh keringat. "Airnya hangat kok, kamu tidak akan kedinginan!"


"Yanda, kenapa tadi lari gitu, kan belum selesai kamunya?"


"Aku akan membacanya lagi, takut membahayakan dia yang masih baru, jadi aku tuntaskan di luar." Baskara mendekat dan berbisik, "Kamu sudah sampai kan tadi? Sudah melelehkan?" maksudnya sampai puncak.


Malu-malu Aisyah mengangguk, cuman dia memikirkan suaminya yang berlari ketika mencapai puncaknya sendiri.


"Gaya begitu enak tidak?" tidak tahu malu bertanya, ikut masuk ke bath up.


"Ish, kenapa pakai ditanya sih?!" wajah Aisyah tak bisa dikondisikan.


"Ahahahahaha, kamu malu gitu artinya enak, aku tahu, Nda!"


Aisyah percikan air ke wajah suaminya itu, dia lebih suka wajah garang dibandingkan seimut kucing begini, tidak pas sekali dengan mata tajamnya yang dipaksakan ikut tersenyum genit.


Usai keduanya membersihkan diri, Baskara rengkuh tubuh kecil itu, tubuh yang tengah mengandung anaknya, dia ciumi setiap kulit yang terbuka, membuat empunya hanya bisa bergumam meminta Baskara diam.


Besok malam tidak akan ada yang bisa mendekat, kalaupun Baskara pulang, dia akan lebih lama di ruang kerja, baru menemui Aisyah keesokan harinya.


"Yanda kenapa jadi lunak begitu?"


"Lunak apanya?"

__ADS_1


"Ais kangen sama yang garang-garang serem!"


"Ya di luar aku serem, Nda. Kalau di rumah sama kamu ya tidak, kenapa harus seram di rumah, kan aku mau dimanja!"


"Tapi, bagus serem kamu itu, matanya kasihan sudah tajam, tapi senyum-senyum. Kan, Ais mau anaknya serem juga kayak Yanda!" manyun, ngidam mirip Baskara anaknya.


Baskara terkekeh, dia malah ingin anaknya itu seperti Aisyah, semua orang suka walau dia tak pernah terlalu menampakkan diri, kalau dia kan ditakuti.


"Mau aku pandang tajam bagaimana, hem? Mau tidur sambil meluk tembak? Tembak yang mana, Nda?"


Duh, salah kapra!


"Ahahahah, tembak yang asli dong, masa iya tembak yang segini?!" menumpuk kedua tangannya yang digenggam.


"Nda, ukurannya lebih besar dari itu atau pas segitu?"


Pias, Aisyah segera berbalik, menutup wajahnya dengan bantal kecil, malu merundung tidak karuan, bisa-bisanya dijaili seperti ini, suaminya telah berubah sejak dia hamil.


"Nda, besar mana?"


"Hush, jangan gitu, Ais lupa!"


"Mau diingatkan lagi?"


***


Side Story Saka,


"Bang Saka sungguh tidak mau meminumnya?"


Abang? cih, baru ini dia dipanggil Abang, selama ini hanya kakak dan Saka saja.


Saka melengos, tidak dia duga di sini akan bertemu dengan adik kelasnya yang dulu sempat berkuliah bersama.


Arsy Gangga, usianya lebih muda dua tahun dari Saka, dia sedang belajar sekaligus bekerja di sini, di benua yang berbeda dari tanah kelahirannya.


"Ya sudah kalau tidak mau meminumnya, Arsy minum saja!"


"Heh, kan tadi buat tujuannya buat siapa, kok diminum sendiri?!"

__ADS_1


Arsy berdiri, dia bawa cangkirnya, "Habis Bang Saka tidak mau minum, aku tuh buat ini ya jelas untuk kamu, mana ada orang ketemu terus buat minuman cuman untuk dia saja, jelas buat tamunya, Bang Saka aneh deh!" kibas-kibas rambut.


"Bang Saka mau ke mana?"


Saka mendengus, dia sedang bekerja, tapi di tengah jalan mobilnya berhenti hanya karena matanya menangkap wajah manis Arsy, gadis banyak tingkah dan heboh di kampusnya dulu, sempat menjadi satu tim di organisasi kampus, Arsy termasuk yang merepotkan.


"Buat apa?"


"Ya buat Abang di jalan, jangan marahan dong jadi orang, kan Arsy cuman bercanda jawabnya tadi, minum kopinya di jalan, habisin, ini Arsy buat dan dijamin enak!" Arsy serahkan tanpa mau ditolak.


Saka raup wajahnya, "Ngapain kerja di sini?" kan, matanya selalu tertuju pada hal lainnya.


"Ya, buat apa lagi kalau bukan tambahan uang bayar sekolah di sini, Abang kan tahu impian aku-"


"Cuman omong kosong impian kamu itu!" potong Saka.


"Eh, omong kosong apa, Arsy dari dulu punya cita-cita ke sini, sekolah dan-"


"Cuman senang-senang, Arsy. Kasihan banget orang tuamu ke luarin uang buat anak kayak kamu, cuman main-main saja!"


Arsy kepalkan kedua tangannya, dia menatap murka Saka.


"Arsy tidak pernah main-main sama mereka, tapi mereka yang mainin Arsy, mereka sibuk sendiri, selingkuh sana-sini, tinggalin aku di rumah sendiri, buat apa Arsy di sana, lebih baik uangnya yang kotor itu Arsy habisin buat hal yang tidak penting juga. Sudah, Abang puas dengernya, pergi sana, Arsy nyesel ketemu Abang di sini!" Arsy hentakkan kedua kakinya, berbalik endak meninggalkan Saka.


Brengsek!


Saka cekal tangan Arsy, gadis itu sejak dulu memang paling bisa mengoyak pertahanannya untuk tidak peduli pada wanita, ocehannya selalu memekik di telinga.


"Kenapa? Bang Saka mau minta maaf? Cowok memang begitu, habis marah-marah, dibalas ceweknya, lalu minta maaf!" kan, belum diajak bicara sudah bicara lebih dulu, hilang sudah niatan Saka minta maaf. "Kenapa diam, Abang batal minta maaf sama Arsy?"


Tapi, satu hebatnya, tadi dia marah, begitu dicekal Saka, dia bisa berbicara seperti ini lengkap dengan senyumannya.


"Ih, Sudah Arsy duga, Bang Saka sama kayak cowok-cowok itu, marah terus minta maaf, eh tahunya diam, biar apa, biar Arsy minta maaf balik, no way!"


Saka berdecih dalam hati, dia pandang wajah gadis banyak bicara itu.


"Apa?"


"Taruh lamaran kerja di kantor itu-" menunjuk kantor usaha keluarganya. "-jangan kerja sembarangan!" Saka lepaskan tangan gadis itu.

__ADS_1


"Arsy tidak mau kerja sama kamu, kamu jutek, kamu jahat!" teriak Arsy sambil hentak-hentak.


Sementara Saka menyembunyikan senyum tipisnya, lalu melajukan mobil meninggalkan Arsy.


__ADS_2