
"Saka, punya pacar?" Dara tersentak mendengarnya. "Yang benar saja? Bagaimana bisa dan kenapa mengejutkan begini?"
Tidak ada yang menyangka, walau dia lebih bisa diajak bicara dibandingkan Baskara, tapi sekalipun Saka tak pernah membawa atau mengenalkan wanita sebagai teman dan kekasih, sejauh ini dia lebih suka sendiri menghadiri acara apapun, di dompetnya justru ada fotonya bersama Shafiyah, mencium pipi adiknya.
"Dia mirip mbak Disa?"
"Mungkin lebih parah mbak Disa, tapi ini hampir sama, tipenya bukan?" balas Satria.
"Yank, kamu-"
"Aku sudah taubat, bumil!"
"Ahahahaha, yasudah, bantu Saka kalau begitu, dia pasti kesulitan menjalin hubungan pertama kali!" Dara tergelak, menuduh suaminya itu menyenangkan karena pria itu akan memohon ampun padanya, terlebih lagi ada benih yang tumbuh di perut Dara. "I love you, Yank."
"Love you too, sweety!"
Kembali, dia bergegas menuju ruangan Saka, kabar ini harus segera dia beritahu meskipun staff tadi mengatakan itu perintah dari Saka sendiri, mereka hanya melakukan tugasnya untuk menolak Arsy.
Apa dia mau menyatakan cinta setelah membuat gadis itu sakit hati? Keren sekali kalau sampai itu terjadi.
Langkah Satria semakin melebar, selalu saja ada masalah diantara mereka kalau berurusan dengan wanita, terlebih lagi para pria calon penerus usaha keluarga ini.
Brak!
"Duh!" Satria dekap dadanya, baru sampai sudah disambut gebrakan pintu. "Sak-"
"Aku sudah tahu, di mana Arsy?"
"Arsy?" lupa sesaat. "Ah, gadis itu, yang ditolak karena tidak lancar bahasa asing, kekasihmu?"
Puurrfffttt ....
"Apa dia bilang begitu?"
Satria tepuk keningnya, "Aku tahu ini cuman ide gilamu, gadis itu di lobi, dia mau protes padamu, tapi bukan soal pekerjaan, katanya kau menggantungkan hubungan cinta dengannya, aku yakin banyak yang akan pingsan dan jatuh sakit di kantor ini karena kau laku!"
"Ahaahahahah, ikut aku, Kak!" ajaknya.
Saka dan Satria bergegas menuju lobi, lebih tepatnya disatu lantai atas lobi hingga mereka bisa melihat dan mendengarkan apa yang Arsy lakukan di sana.
Gadis yang tak kenal takut, dia benar-benar berdiri di tengah lobi sembari mengedarkan pandangan matanya yang membara, seperti orang yang terluka parah.
"Dengarkan aku!" serunya.
__ADS_1
Semua orang sontak menoleh dan berhenti begitu Arsy mengeluarkan suaranya, termasuk dua orang di atas sana, mereka ingin tahu apa lagi yang akan Arsy lakukan.
"Aku membawa kabar yang mungkin akan membuat kalian ragu dan tidak percaya, tapi ini kenyataannya, pimpinan muda kalian, yang namanya Bang Saka-maksudku tuan Saka, dia telah membuat aku sakit hati, dia menggantungkan hubunganku dengannya yang sangat suci, bahkan ketika aku datang ke sini, dia mengusirku, dia tidak memberikut kesempatan," ujar Arsy penuh drama.
Saka sunggingkan senyumnya disaat orang-orang menoleh padanya, siapa yang tidak tahu kalau ada wajah pimpinan muda itu di sini, selain Arsy yang tertutup amarahnya.
"Aku mencintainya, tapi dia seolah acuh padaku, hari ini dia berjanji akan bertemu denganku, tapi seperti yang kalian lihat, dia bahkan menelantarkan aku!"
"Arsy!"
Duar,
Suara keras Saka dan sunggingan senyumnya memecah semangat berkobar milik Arsy, dia kira Saka tak akan benar-benar ada di kantor ini, pimpinan muda biasanya sangat sibuk.
Dan sekarang Saka ada di sini, di kantor ini, mendengarkan ocehannya.
Saka jentikkan jemarinya, "Naik!" titahnya tanpa mau ditolak.
Arsy menganga, demi menjaga nama baiknya, Arsy ulang lagi kata-katanya.
"Baiklah, aku akan naik. Kalian lihat, seberapa acuh dia padaku, baru aku salahkan, dia mau muncul!"
Cih, Saka ingin sekali menarik dan mengucir bibir gadis itu, bisa-bisanya berbicara hal yang salah dan konyol, semua orang di kantor ini tahu siapa Saka dan kebiasaannya.
*Apa benar dia kekasihnya pimpinan muda?
Seperti itu kriteria gadis pimpinan muda, bukannya diantara kami ada yang jauh lebih cantik?
Pimpinan muda pasti sudah salah memilih, aku yakin itu!
Gayanya kampungan sekali, mana bisa diajak datang ke pertemuan penting?!
Lihat, kulitnya juga tidak seberapa cerah, pantas ditinggalkan dan tidak diakui, dia memalukan*!
Arsy berhenti sejenak, setiap langkahnya bukan dukungan yang dia dapatkan, memang dia bertingkah bodoh tadi, tidak dia sangka Saka tersimpan di hati mereka, kriteria wanita pun mereka bisa menilainya.
Suara-suara sumbang itu masih terus terdengar sampai kedua kaki Arsy ada di sebelah Saka, dia sempat menoleh pada Satria, decakan Arsy terdengar lirih, pasalnya yang membuat Saka ke luar pasti Satria, pria yang dia temui seusai interview, yang endak mengajaknya bicara.
"Kenapa, Abang tidak terima aku katakan seperti itu di depan umum?" tanyanya menantang. "Itu pantas Abang dapatkan, Abang sudah mempermainkan gadis seperti aku!"
"Apa ada yang mendukungmu, Arsy?" balas Saka, bukannya menjawab, justru dia bertanya.
"Ad, ada!" bohong, setiap langkahnya dimaki di sini, bahkan baru saja telinganya panas, tidak ada yang mendukungnya.
__ADS_1
"Huh, baiklah, sepertinya aku sangat kejam padamu, kekasih yang diabaikan. Tapi, Arsy, boleh aku bertanya pada semuanya soal kamu? Layak atau tidak bersamaku?"
Hei, kurang ajar itu namanya!
Kedua tangan Arsy terkepal, dia endak maju, tapi secepat kilat tangan Saka meraih tangannya dan dia genggam kuat, memutar Arsy sampai Gadis itu ada di depannya, memerangkap Arsy diantara batas lantai atas dengan tubuhnya.
"Kalian sudah mendengar apa yang dia katakan, jangan ada yang mengumpat tentangnya, aku tidak akan segan-segan menurunkan hukuman pada kalian, dia akan bekerja di sini, mengawasiku karena takut aku selingkuh, jadi hargai dia!" jelas Saka sekaligus memerintah.
So Sweet!
Pegawai wanita dibuat meronta-ronta atas apa yang Saka katakan, terlebih lagi posisi Saka saat ini seperti tengah memeluk Arsy saja, padahal ada jarak diantara keduanya, dada Saka tak menyentuh punggung Arsy sama sekali, hanya jari tangan mereka yang tertaut.
"Apa yang harus aku bantah?
"Kenapa Abang iyakan jadi pacar sih?!"
"Bukannya kamu yang mau?"
"Ish, itu cuman membalas penolakan Abang soal lamaran aku tadi, bukan mau di-"
"Jadi, kau mau ke luar dari kantor ini atau bekerja di sini?"
Sialan, pria satu ini selalu saja memegang kendali.
Saka lepaskan tautan jemarinya, melipat tangan ke depan dada, melihat Arsy dari atas sampai bawah.
"Kak Sat," panggilnya.
Satria mendekat, "Ada apa?"
"Kau yang paling tahu style wanita, bantu dia memilih baju di koperasi kita!"
"Hah, aku?"
"Kenapa?" kedua alis Saka tertekuk.
Dengan kedua tangan tertakup, Satria memohon.
"Wanita hamil itu sulit dibujuk, apalagi mau melahirkan, kalau marah, kalah injakan gajah!" maksud Satria itu cemburu istrinya.
Plak!
"Separah itu cemburunya kak Dara?"
__ADS_1
Satria manggut-manggut, mata Saka berputar pada Arsy, kalau yang lemah lembut seperti Dara saja menakutkan, apalagi yang seperti Arsy, hih.