Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Ketakutan Baskara (Belum periksa)


__ADS_3

"Apanya?" ayah turunkan satu kaki yang sedari tadi di atas meja. "Apa yang kau katakan, hah?!"


Sebelum mereka menjalankan tugas di sini, Baskara tak mau menjadi masalah karena dia tidak fokus nanti, maka dia sampaikan kegelisahannya pada ayah sekarang.


"Bagaimana, Ayah?"


Ayah berdecih, "Memangnya apa yang kau takutkan di sini, bukankah itu bagus kalau Aisyah hamil anakmu?"


Bukan itu, walau belum terbukti dan belum dia periksakan akan kondisi Aisyah, ketakutannya sudah memuncak.


"Bas, umur manusia tidak ada yang tahu, kalau Tuhan sudah memberimu amanah ya terima saja, jangan takut, ketakutanmu itu sama saja tidak mempercayai-Nya, kau ragu pada-Nya. Ya, memang kematian itu kejutan yang menyakitkan, tapi kalau Dia memberimu sakit, tentu diberi obatnya!"


"Aku tidak mau menikah lagi, Ayah!"


"Siapa yang menyuruhmu menikah lagi, bodoh?!" ayah gatal sekali mau memukul anaknya satu ini. "Memangnya kau yakin Aisyah akan mati setelah melahirkan?"


Tik, tuk, tik, tuk ....


"Kan, tidak tahu kapan dia mati, kenapa sudah bingung tidak mau menikah lagi, lagipula kau belum memastikan Aisyah itu hamil atau tidak, pikiranmu sudah ke mana-mana!" ayah mengomel sekaligus meledek.


Mereka baru berhenti berdebat setelah Saka tiba, kedatangannya menjadi titik tumpul di mana mereka harus segera menjalankan tugasnya, ayah yang memimpin kali ini karena memang ayah yang mengambil pekerjaan ini, sedang keduanya hanya ikut membantu di belakang.


Namun, dalam pekerjaan apapun, selalu saja nantinya Baskara akan pulang dengan kemeja kusut, dia suka sekali bergulung-gulung kala menggalih sumber informasi.


Apa Kakak seorang detektif atau mafia atau badan intelegent negara?


Pertanyaan itu terus berputar di kepala Aisyah, yang dia tahu suaminya itu selama ini hanya bertugas menjamin keamanan daripada perusahaan besar keluarga, mengusut orang yang terlibat kerjasama dengan mereka demi mengentas kecurangan, tapi ya begitu dia selalu melihat suaminya pulang dengan baju yang kotor seolah-olah suaminya itu menjadi mata-mata bawah tanah.


"Ya, Ibu?" Aisyah terima telfon ibu mertuanya.


"Is, kata Bas kamu sakit?"


"Tidak, Ais tidak sakit, kakak yang berlebihan, Ais hanya banyak makan saja, Bu."


"Lah, Bas itu memang kok, Ibu sampai cari resep buat kamu, tanya ke mama Fya-mu, dasar anak itu!" ibu mengomel. "Tapi, sekarang kamu baik-baik saja ya, di sana cocok kan sama udaranya?"


"Cocok kok, Bu. Ais kan hanya di dalam ini, eheheheh, tadi Ais sudah bertemu ayah dan Saka, sebentar saja."


"Iya, mereka kerja bertiga, ini adikmu si Sofi ngambek di rumah, dia mau ikutan, mana boleh sama ayahmu, anak ramai begini bisa ricuh di sana!" lagi, ibu mengadu, tapi lengkap dengan tawanya.

__ADS_1


Aisyah bereskan beberapa barang bawaannya di unit apartement ini, dia akan tinggal dalam waktu yang dikatakan lama sampai tugas suaminya selesai, setelah yang satu ini, katanya dia dengar masih ada tugas di kantor milik keluarga ibu mertuanya, Baskara bahkan turun tangan sendiri.


Dreett ....


[Ais, ini aku Dara, kamu lagi ikut Bas kerja? Ayo, ketemuan!] Dara.


Dara adalah salah satu sepupu Baskara, saudara kembar dari Reno, yang kemarin berkunjung ke rumahnya. Hati ingin sekali bertemu dengan Dara dan suaminya, hanya saja izin belum dia kantongi dari sang suami.


[Dara, besok aku kabari, kak Bas baru kembali nanti malam.] Aisyah.


[Aku boleh ke unitmu saja, tidak? Satria tidak akan ikut, hanya aku saja, aku tahu Bas melarang keras para pria datang menemuimu, ya?] Dara


Bagaimana ini?


[Aku senang sekali, tapi tunggu dulu, Dara. Aku tunggu izin dari kak Bas dulu, nanti kita ketemu ya, sabar ya.] Aisyah.


[Oke.] Dara.


Sudah, akan dirasa sia-sia merayu Aisyah untuk bertemu, di rumah asli sana saja dirasa sulit kalau Baskara tak ada di rumah, atau mungkin Aisyah ada di rumah utama bersama ibu mertua, izin suaminya itu butuh waktu dan kejelasan.


Aisyah baca pesan terakhir suaminya hari ini, di sana sudah jelas bahwa Baskara meminta dia sendirian di unit itu sampai Baskara kembali, kata sendirian sudah dipastikan tak ada teman, berkunjung pun tidak.


"Nanti, kalau ketemu Bas di kantor, aku kasih tahu soal kamu mau ketemu Aisyah. Dia tidak mau istrinya rumpi apa?" Satria mainkan pipi Dara.


"Iya kali ya, eheheheh, tapi kan aku tidak begitu, dia kira aku ikut mbak Disa kali, Yank. Padahal kan aku cuman mau ajakin dia bikin apa gitu," balas Dara.


"Vitaminmu sudah?"


"Sudah, dedeknya aman kok, makanya aku mau ketemu Aisyah, kan jenuh tahu!" Dara tepuk pipi suaminya. "Kamu jangan ikutan dingin kayak Bas ya, bukan kamu banget, Yank!"


"Ahahahahahahh, tahu saja kalau aku lagi cobain mirip Bas, ahahahahahahah," tawa membuncah Satria sambil memeluk istrinya, wanita yang dia dapatkan dengan penuh perjuangan.


Perjuangan menjadi manusia baik-baik.


***


Brak!


Eh, Baskara lupa kalau dia sedang bersama Aisyah di sini, begitu masuk langsung menendang pintunya.

__ADS_1


"Kak!" Aisyah ke luar kamar, memakai kain selimut di kepalanya.


Lega, dia kira yang datang tadi bukan suaminya, sampai selimut dibawa-bawa.


Baskara kibaskan tanganya yang basah, meraih dan memeluk Aisyah sejenak, melepaskan lelah yang ada pada dirinya.


"Kakak sudah makan?" mengintip wajah suaminya, lalu bersandar lagi.


"Belum, aku mau makan bersamamu saja. Dara tadi ke sini?"


Eh, suaminya tahu ternyata, padahal dia belum laporan sama sekali.


"Tadi suaminya bilang, aku ketemu sebentar, katanya lagi ngidam ketemu kamu!" cium lagi pipi Aisyah. "Jadi aku cemburu A-isyah!"


Plak!


Astaga, dikiranya jadi apa, ternyata cemburu.


Aisyah biarkan singa satu ini memeluk tubuhnya, meraba punggung kecilnya dan entah apa saja yang dilakukan di leher itu, dia diam sambil menikmati sentuhan sang suami, siapa tahu diamnya membuat suaminya itu melepas penat setelah sepak terjang di luar sana.


"Mau seberapa nasinya?"


"Tambah sedikit lagi ya," jawab Baskara, melihat Aisyah menjadi lapar lagi. "Duduk di sini, A-isyah, jangan ke kamar!"


"Iya, Ais duduk sini. Sudah, Kakak buruan makan, aku nyamil ini saja!"


Baskara pandangi wajah jelita itu, dia jentikkan jemarinya agar wajah Aisyah mendekat.


"Mmm-"


Baskara mengulas senyum, sebelum nasi yang dia lahap, tentu pemanis dari istrinya dulu.


"Aku mencintaimu, A-isyah."


"Eheheheheh, ayo makan, nanti nasinya iri sama Ais, ngambek loh dia!" makan, makan, makan, nasinya bukan Ais.


Satu suapan masuk ke mulut Baskara, matanya tak memindai hal selain Aisyah, seperti ini rasanya bekerja ditemani istri, setengah dari rasa lelah jadi hilang, dan akan hilang sempurna saat memeluknya.


"Besok kalau mau puasa, puasa lah karena aku tidak di rumah sampai malam!" bisik Baskara. "Bertemu Dara di sini juga boleh."

__ADS_1


Baru senyum Aisyah melebar.


__ADS_2