Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Banyak Ciuman


__ADS_3

Dua wanita ada di rumah, lalu bertambah lagi dari keluarga kakeknya, mereka membuat banyak kue untuk bingkisan sebelum pergi, semua harus disiapkan secara cepat.


Ibu ikut menitihkan air mata saat anak-anak datang ke rumah Aisyah, memeluk dan berharap bisa mendapatkan guru sebaik Aisyah, bahkan bisa mengajari mereka mengaji dengan cepat, tugas sekolah tak tertinggal dan pelajaran tambahan pun mereka dapatkan.


"Kamu jangan capek-capek, sudah biar Ibu sama yang lain saja yang kerjain, duduk sana!" ibu halangi Aisyah yang endak ikut membuat adonan.


"Baik, Bu." dia tidak bisa menolak, ini juga pasti aturan dari ayah mertuanya, kalau dia masih bisa berbicara atau bernego pada sang suami, lain halnya dari ayah mertua, tidak ada penolakan di sana.


Aisyah duduk sambil melipat kardus untuk wadah jajanan yang sore nanti mereka bagikan, beberapa tetangga datang menyapa ibu dan yang lain, bertukar kabar akan kebaikan dan saling meminta maaf bila selama di sini Baskara sekeluarga membuat repot atau apa.


"Tidak sama sekali, mereka berdua selalu ada disaat kamu butuh, bahkan menawarkan bantuan sekalipun kami tidak meminta, anak kami juga suka ke sini siang hari, nilai-nilai mereka jadi bagus semua, terima kasih!"


"Sama-sama, nanti sore jangan lupa mampir ke sini ya, kita ada syukuran kecil-kecilan sebelum kembali ke kota, bilang sama yang lain juga ya, Bu!"


"Iya, nanti saya sampaikan, Bu Jingga, terima kasih banyak. Mari Aisyah!"


Aisyah tersenyum sambil mengangguk, ingat dia harus duduk, ibu melarangnya berdiri berulang kali hanya untuk menyambut tetangga yang bertamu.


Sementara yang tengah ada di tempat penggilingan, semua mata tertuju pada ayah dan Shafiyah, pria itu sangat posesif pada anak gadisnya hingga bukannya mengalihkan perhatian, mereka justru menjadi pusat perhatian.


Bahkan, ayah sempat menahan geram ketika ada teman Baskara menanyakan apa itu benar adiknya Baskara dan apa masih single, mereka ingin kenalan, tangan ayah sudah mau terkepal hebat.


"Ayah cuman tenang kalau aku bersama kak Nakula, tidak pernah ayah marah seperti itu meskipun aku pulang lebih dari janjiku, Kak!"


"Kamu suka sama Nakula?"


Shafiyah mengangkat kedua bahunya, lalu melorot lagi. Baskara tahu soal hati memang tidak bisa dipaksakan, Shafiyah bukan berarti tidak suka, dia hanya belum mau mengenal rasa itu, hatinya masih ayah dan kedua kakaknya, belum dia buka pada sosok yang lain.


"Kalau kamu suka sama Nakula, lalu ayah cocok dengannya, kenapa tidak bersama Nakula saja?"


"Kak Bas kan tahu aku tidak suka pria pendiam dan malu-malu begitu, dia pemalu sekali, coba Kakak lihat kalau dia bersamaku, menjadi pengawalku ... Iya, Shafiyah, aku bisa membantu apa, maafkan aku Shafiyah, silakan jalan dulu Shafiyah, kenapa dia tidak memanggilku Sofi seperti yang lain, dia memanggil nama asliku seperti baru kenal saja!" cemberut, tidak suka gaya Nakula, bukan tipenya pemalu dan terlalu formal begitu.

__ADS_1


Baskara tak bisa menahan tawanya, dia kenal siapa Nakula, sejak dulu Nakula dan Nabila selalu memanggil Shafiyah, bukan Sofi seperti yang lain, itu hanya masalah kebiasaan saja.


Satu usakan Baskara antarkan pada adiknya, membuat wajah gemas itu menoleh dan tersenyum padanya.


"Kakak jangan meminta aku menikah ya, aku masih mau keliling ke sana ke mari, biar kak Saka yang menikah lebih dulu!" dia paham arti pandangan Baskara.


"Bukankah lebih bagus kalau kamu yang menikah dulu?"


"Tidak, aku akan menikah terakhir, biar kak Saka dan kamu membuat keponakan yang lucu-lucu, jangan mainan tembak saja, aku akan mengurus ayah. Itu dia baru saja selesai melihat mesin-mesin bising itu, aku harus ke sana, sebelum dia cemberut karena aku berduaan dengan Kakak!"


Baskara mengangguk, tapi sebelumnya dia rengkuh dulu dan mencium pipi kanan Shafiyah. Kalau ada yang bertanya siapa wanita yang mendapatkan Baskara utuh sejak lama, tidak lain gadis ini, boneka hidup ini, entah dicium berapa kali oleh Baskara.


"Ayah, sudah jangan terlalu dipikirkan, memangnya Ayah mau menggiling apa di rumah?" menggandeng tangan ayahnya.


"Mau usaha juga, nanti kalau kakakmu sudah memegang kendali perusahaan, ayah kan istirahat di rumah, mau usaha itu!"


"Tidak, sudah istirahat saja, di sana juga Ayah tidak ada sawah, okay!" mengajak ayahnya duduk. "Istirahat di masa tua sambil aku temani, ehehehehe, uluuuuuu, kasihan Ayahku kepanasan, sini aku usap keringatnya!"


"Siapa yang menciummu tadi?"


"Kak Bas, siapa lagi. Ayah sebelah kiri, kanan bekas kak Bas tadi, kalau ada kak Saka, dia nanti di keningku saja, ibu di bibir-"


"Tidak, tiga ini Ayah semua!" emuah, emuah, emuah, emuah, kanan disambar juga, yang dicium cuman bisa manyun-manyun.


"Ayah sudah, nanti dilihat banyak orang, malu!" menyembunyikan wajahnya ke dada ayah, tapi jari ayah yang menggelitik membuatnya tertawa tanpa henti. "Berhenti, Sofi bilang berhenti, hentikan, Ayah!" dia tergelak kencang sampai lemas. "Aku sayang padamu, only you!"


"Me too, my baby!" balas ayah berbisik


***


Aisyah jauhkan wajahnya, pria ini baru pulang sudah mengejutkan dirinya yang baru selesai mandi sore, bersiap membagikan kue ke tetangga dan bertemu mereka sejenak.

__ADS_1


"Kaaak, sudah. Nanti kalau cium terus, dia bangun lagi loh, hayo!" menunjuk celana Baskara.


"Eheheheheh, habis kamu cantik. Anakku bagaimana?" Baskara berjongkok, tepat di depan perut rata itu, dia ciumi sampai Aisyah geli sendiri, sudah dipastikan kalau dia perempuan, bisa mendapatkan perhatian yang melimpah, contohnya Shafiyah tadi. "Aku harap dia laki-laki, Nda."


Eh, Aisyah kira mau perempuan.


"Kakak mau laki-laki, kenapa?"


"Karena aku anak pertama, aku rasa laki-laki lebih kuat di posisiku, nanti kalau dia punya adik, baru perempuan, jadi dia bisa menjaga adiknya!"


"Kakak mau anak berapa?"


"Tidak tahu, ahahahah, yang penting aku buat sama kamu, Nda!" menciumi wajah Aisyah lagi. "Kamu jangan KB sebelum dapat lengkap laki perempuan, deal!"


Loh, membuat kesepakatan sendiri, mana bisa ditolak kalau donaturnya menyumbang benih terus nanti di rahim. Jadi, Aisyah harus siap kalau nanti hamil dalam jarak berdekatan, melihat suaminya keukeh begitu.


"Nda," panggilnya.


"Iya, Kak?"


"Nanti, di kota aku ajak beli yang lebih besar."


"Apanya?"


Baskara malu-malu menunjuk dada Aisyah, sontak istrinya berbalik menyembunyikan, malu.


"Aku bertanggung jawab membuatnya lebih besar, Nda. Besok aku belikan, eheheheh, aku yang pilih, Nda, titik!"


Tidak mau!


"Nda, jangan malu, kan aku tahu seberapa, ahahahahahaha!"

__ADS_1


"Kak!" memekik malu, bisa didengar ibu dan ayah mertua.


__ADS_2