Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Sah!


__ADS_3

Saka berbaring di kamar ibunya, meletakkan kepala tepat di pangkuan wanita terhormat sepanjang masa, mendapatkan usapan sayang sebelum hari esok dia akan sah menjadi suami dari anak gadis orang.


"Ibu, mau tinggal di sini sendirian?"


"Kan, ada Sofi sama Nakula, kenapa sendirian?"


"Kalau mereka ke luar kota atau apa gitu?" Saka menerawang jauh, karena dia tak ada di sini, dia menetap di luar negeri bersama Arsy. "Ibu ikut aku saja bagaimana?"


Ibu bergeleng, "Nanti, kalau ayahmu mencari Ibu bagaimana, dia kan tidak mau Ibu ke mana-mana, bisa digentayangin nanti, ahahahahah ... Jingga, jangan ninggalin aku!"


"Ahahahahah, aku cemas kalau Ibu sendirian di rumah cuman sama maid saja, kan tidak ada yang menghibur Ibu nanti jadinya," ujar Saka menatap sendu ibunya.


"Heh, kalau Ibu ikut kamu pun pasti sendirian juga, kamu kan sama Arsy bakal keliling, jadi lebih baik Ibu di sini, ada anaknya Bas, Rasyah mulai suka ajakin bundanya begadang, kalau Aisyah repot, kan harus ada Ibu di sana ... belum lagi, kalau Bas mau nambah anak, ada loh yang baru berapa bulan sudah hamil lagi istrinya," jelas ibu.


Saka berdecak, dia sudah mengatakan pada kakaknya kalau harus menahan sampai dia berhasil membuat Arsy hamil, harus sama rata dulu beranak satu, baru kakaknya itu boleh membuahi sang istri.


Malam ini, sengaja dia mau bersama ibunya, sejenak sebelum ibu istirahat karena Saka mau mendengar nasehat yang banyak untuk menjadi kepala rumah tangga yang baik.


Ibu memberikan beberapa refrensi, bukan dari saudara kandung Saka, melainkan dari saudara sepupu tertua mereka, pemegang usaha Narendra dengan semua kelembutan, ketegasan dan rendah hatinya.


"Jadi, aku besok harus tanya lagi ke Babang?"


"Iya, dia itu yang paling bijak, jadi tanya ke dia, minta saran ke dia, siapa tahu ucapannya bisa kamu terapkan, karena dia kan sering mondar-mandir bawa istri dan anak-anaknya, lalu kadang pisah, bagaimana keteguhan dan caranya, biar keluarga itu semakin kuat, tanya sama dia, supaya kamu dapat masukan banyak, bukan cuman dari sekelilingmu saja!"


"Oke, besok habis nikahan, aku ketemu babang, mau aku kejar dia, ahahahahah!"


Ibu usap-usap rambut lembut anaknya itu, lahirnya Saka adalah bukti kuat cintanya pada ayah, bukti kalau mereka telah menjadi suami dan istri yang sempurna, hubungan yang tak mereka bayangkan, namun mereka harapkan akhirnya terwujud akan hadirnya Saka.


Bocah lelaki yang menjadi ikatan batin keduanya, walau Saka tak menonjol seperti Baskara, percayalah Saka pun menerima kasih sayang yang sama, memang untuk Shafiyah terkhususkan akan ayah padanya, anak gadis kesayangan ayah yang dijaga sampai mati.

__ADS_1


"Bu, aku kembali ke kamar, ingat kalau butuh apa-apa, hubungi aku!"


"Iya, Ibumu ini belum tua-tua banget, masih bisa berulah, ahahahahah."


"Aku sayang Ibu!"


"Iya, Ibu jauh lebih sayang sama kamu, banyak doa ya, jangan lupa dijaga sholatnya, minta yang benar-benar terbaik, supaya besok dilancarkan, Sayang!"


Satu kecupan mendarat di pipi ibu, anak lelakinya akan menjadi sosok yang dewasa, begitu Saka lenyap, ibu luruskan kedua kakinya, dia pandang foto lama itu, dia bersama ayah masih duduk bersama dengan tiga anak yang masih kecil, Baskara yang paling tinggi dan Shafiyah yang paling mini


Yah, anaknya besok mau nikah, titipanmu sudah aku jaga sampai dia menikah, jangan lirik bidadari loh di sana, aku jewer!


Ibu cekikikan sendiri sebelum akhirnya terlelap dengan dengkuran yang sangat halus.


Saka masih berkutat dengan ponselnya, wajah basah karena basuhan air wudhu sebelum tidur itu mengulas senyum, ada saja pesan yang calon istrinya kirimkan, berhasil membuat dia tertawa sendiri, Arsy dengan semua keunikannya.


Besok mau menikah, mau dinikahkan ayahnya, tapi masih sempat bertengkar di rumah, saling meledek lalu berbaikan.


Hari besar itu tiba, hari yang ayah harapkan di mana ibu bisa mengantarkan Saka ke pelaminan.


Di pagi cerah ini, Arsy dan keluarganya sudah tiba di rumah utama, disambut begitu meriah dan tak kurang-kurang, parasnya yang cantik dan bersinar seperti matahari membuat siapa saja yang melihat berkerut ingin mengajak Arsy berbicara, pesona radio berjalan yang Saka suka.


Ekhem,


Saka bersiap di depan penghulu, sebelum dia duduk di sini, lebih dulu dia berlutut di depan ibunya, lalu ke Baskara, dan terakhir dia memeluk adiknya yang tak rela kalau kakaknya menikah, dia mau dinomor satukan, Saka berjanji itu, Shafiyah adalah yang utama dalam dirinya dan hidupnya, Arsy pun hukumnya wajib sayang pada Shafiyah.


Tanpa hukum pun, Arsy sayang dan disayang, ahahahah.... Arsy.


Saksi dihadirkan, sepupu yang ditunjuk menjadi saksi di dekat Saka, anak kedua dari pasangan Aksara dan Jingga ini siap untuk mengucap kalimat sakral pernikahan.

__ADS_1


Arsy gemetaran tiba giliran penghulu menuntun Saka mengikuti apa yang diucapkan, gemetar lagi karena maharnya tak main-main, pria itu mempersiapkan semuanya dengan matang dan menjadikan dia berlian yang dinilai mahal, bukan Arsy yang dar-der di mana-mana.


"Sah?"


Semua berdiri dan bersorak, "SAH!"


Baskara putar tubuh adiknya itu, dia peluk dan Shafiyah pun berlari mendekat, dia mau dipeluk juga, tak luput ibu menjadi tempat sasaran mereka bersimpuh, duduk bertiga di bawah dan berfoto bersama, lalu mengajak pasangan masing-masing.


Ayah, anaknya sudah menikah semua ini!


"Bas, adiknya dipangku itu, jangan duduk di bawah, Sofinya!" titah ibu.


Baskara rebut Shafiyah yang endak Nakula raih, dia julurkan lidahnya, selalu saja kakak dan suami berebut urusan Shafiyah, tapi walau begitu Nakula tak sakit hati, dia justru terkekeh karena ulah Baskara dan Saka.


Jadilah, Aisyah dan Arsy berdiri di samping ibu, sedangkan di depan para wanita ini, ada Saka, Baskara dan Nakula, Shafiyah duduk di pangkuan Saka dan Baskara, semakin lucu saat Saka meletakkan kepala Nakula ke bahunya.


"Suami yang malang!"


"Ahahahahaahha," gelak tawa Nakula. "Tapi, aku mau jadi ayah!"


"Iya, iya, aku habis ini nyusul. Nanti, langsung buat ya, Arsy!" seru Saka.


Plak!


Ibu memukul lebih dulu, banyak tamu kok sudah bahas buat anak, sementara Arsy memeluk ibu seperti ibunya sendiri, wanita itu punya dua menantu perempuan, satu lembut dan satu lagi ramai, satu menantu laki-laki yang lembut dan pengertian.


"Nenek, Rasyah mau ikut ini!" Aisyah gendong anaknya, lupa tidak diajak foto.


"Ayo, sini cucu Nenek tersayang, foto bersama, biar Ibu yang gendong, Is!"

__ADS_1


Aisyah berikan, bocah gembul dengan mata yang menurun ayahnya, sekali lirik hancur peradaban.


__ADS_2