Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Bulu Dada


__ADS_3

"Baaaang, bangun atau aku cabutin bulu dadanya?!" Arsy merangkak naik ke ranjang, jam enam lagi, suaminya kembali berbaring dan memejamkan mata, semalam lelah tidak terkira. "Abaaang, tidak mau bangun, aku cabutin bulu dadanya, biar sakit loh ya!"


Saka tak bergeming, masih sibuk dengan mimpinya, semalam begadang, pagi ini dia mau lembur tidur, lagipula acara bersama keluarga yang hadir kemarin masih siang hari.


Entah mau dikatakan beruntung atau tidak, mempunyai istri yang aktif seperti ini harus siap akan semua resikonya, Arsy mulai menari-narikan jemarinya dia atas dada Saka, dia sisir helai demi helai bulu tipis dan panjang di sana, rasa gatal mau dia cabut satu per satu sampai sang suami terbangun.


Ctul!


"Auh!" pekik Saka, matanya terbuka lebar. "Sakit, Sayang, apa ini?" dia gosok-gosok dadanya.


Arsy angkat tinggi tangannya, ada dua bulu yang dia cabut sekaligus, membuat Saka menganga karena baru ini ada yang mencabut bulu di dadanya, simbol raja hutan seolah lenyap pagi ini di tangan sang istri.


"Cengar-cengir, sakit tahu!" Saka tarik kepala Arsy hingga wajah itu melesak ke dadanya, sengaja agar hidung Arsy terasa gatal karena bulu dadanya itu. "Biar, gatal mau bersin, rasain, salahnya cabutin bulu orang, hayo!"


"Hacih, hacih, Ab-hacih!"


Saka tergelak kencang, dia yang tadinya mau terlelap sejenak meregangkan otot di tubuhnya, justru dibuat bangun. Kalau saja ponselnya tak berdering, tentu saat ini dia sudah membawa Arsy kembali ke puncak nirwana, sayangnya panggilan penting harus dia terima dan sang istri mencebik karena terus bersin berulang kali.


Hidung mancung dan kecil Arsy memerah, dia bersumpah akan membuat perhitungan pada suaminya itu, sosok yang berbeda bila sedang bekerja dan menjadi suami, kehangatan Saka seolah padam saat panggilan itu terhubung, wajahnya berubah serius, bahkan Saka tak tersenyum sama sekali saat Arsy memeluk tubuh wangi itu dari belakang dan memainkan hidungnya di punggung terbuka Saka.


"Abang mau kerja, tidak ada kesempatan berduaan sama aku?"


"Ada dong, kan sudah cuti, cuman tetap kalau ada hal yang harus aku putusin, mau tidak mau ya harus diterima, padahal tadi sudah panas mau main, ahahahahahah!"


"Hush, sudah, capek Arsy tahu diajak main terus, kan nanti bakal ikut Abang ke luar negeri. Tapi, Arsy masih mau di sini, Bang ... sama kak Ais, sama Sofi, sama ibu!" mata Arsy menerawang jauh, dia suka keluarga yang lengkap.


Saka usap kepala Arsy dan mengecupnya, dia putar hingga mereka saling berhadapan, Arsy masih tersipu malu kalau wajahnya dibuat setara dengan dada terbuka indah itu, tangannya jadi gatal lagi mau cabut bulu.


"Hei, kenapa suka gitu kalau hadap-hadapan gini?"


"Jantungnya Arsy mau meledak tahu, Bang. Kamu tuh bikin aku entahlah tidak bisa komen apapun!"

__ADS_1


"Ahahaahahah, suka ya gitu, bikin suami gemeter!" Saka angkut istrinya beralih ke sofa dekat jendela, meminta Arsy duduk di pangkuannya sambil memainkan rambut panjang menjuntai itu. "Wangi rambutnya, cieee."


"Ya wangi, kan mandi terus sama kamu, doyan!"


Astaga, Saka tergelak sekali lagi karena ocehan istrinya itu, menjawab ringan tanpa ada beban, kalau begini caranya dia bisa bersemangat walau pekerjaan sedang banyak-banyaknya.


Terik matahari pagi ini tak membuat keduanya bosan berada di kamar yang hanya penuh dengan bayangan ranjang dan ranjang, Arsy punya semua cara agar di kamar ini tak membosankan.


Bukan soal bergulat di ranjang saja, atau mungkin gendong-gendongan ke kamar mandi, tapi hal unik yang dia lakukan bersama Saka ialah membongkar isian lemari dan mengeluarkan semua baju Saka.


"Sy, banyak kali ini!"


"Kan, Abang bisa bagiin yang tidak Abang pakai, nanti kalau di lemari terus, jadi makanan rayap, yuk dipilah, Sayangku Abang!"


"Tapi, bonus ya nanti, main lama!"


"Ahahahahah, suka-suka Abang mau berapa lama, Arsy siap!"


Saka tak bisa membalasnya, dia hanya tersenyum dan membalas ciuman istrinya sebelum mereka kembali sibuk memilah pakaian.


Istrinya ini punya tempat penampungan banyak, beberapa teman kampus dulu akan membantu Arsy mengiringkan ke panti-panti yang membutuhkan, atau mungkin mereka gunakan sendiri bagi yang butuh juga.


"Sepupunya Abang mungkin ada yang mau, Abang nanya dulu deh!"


"Tidak ada, mereka jelas beli sendiri, Sy. Kamu kirimin semua saja, aku serahin ke kamu, Sayang!"


Arsy mengangguk, hari pertama menjadi suami dan istri, kegiatan mereka bukan hanya di ranjang, tapi berbagi baju yang bahkan belum Saka kenakan sama sekali. Bagaimana tidak, Saka baru membelinya, sedang dia diharuskan ke luar negeri, tidak mungkin menumpuk baju dari sini ke sana, selalu membawa diri saja saat pergi, di tempat sana dia sudah punya baju juga.


"Sy, tolong hapenya Abang, Sayang. Ada telpon masuk itu!"


Arsy berlari kecil ke dekat jendela, ponsel itu tergeletak di sana, dia kembali pada Saka, menempel, mau ikut mendengarkan.

__ADS_1


Tapi, posisinya membuat lengan Saka merasakan sanggahan empuk itu, Saka gerakkan lengannya agar Arsy paham, menjauh dulu, begitu maksudnya.


"Arsy mau dengerin juga!"


"Iya, nanti aku kasih tahu, tapi jangan dideketin ini, kesetrum aku, Sy!" melirik lengannya yang tengah diapit dua buah segar Arsy. "Ya kan?"


"Ih, Abang sukanya lihatin itu!" dia dekap dadanya.


"Loh, kamu yang nempel kok, aku kan tinggal lirik!"


"Abang suka intip!"


Saka terkekeh, dia rengkuh tubuh Arsy, sengaja dia keraskan volume ponselnya agar Arsy bisa mendengar pembahasan penting dengan bahasa asing itu, biar pusing sendiri mengartikannya.


"Aku beresin ini, sulit dengerin Abang!" putusnya kembali fokus pada baju-baju yang segera dikardus itu. "Abang lucu kali ya pakai baju kekecilan gini, mana besar semuanya sekarang, iuh!"


Arsy tepuk-tepuk pipinya, dia jadi ganas semalam, tidak tahu ke mana rasa sakit itu, pria di dekatnya ini memperlakukannya bak dewi, lembut hampir tak berasa lagi sampai minta lagi dan lagi.


Heh!


Arsy, sadar, hentikan berpikir masalah itu dan itu, ayo yang fokus, jangan lihatin bulu dada itu terus, nanti gatal!


Bulu dada yang menggoda, sayang untuk dilewatkan.


Ctul!


"Auh, Baby!" keluh Saka spontan, dia jauhkan ponselnya. "Hei, diulangi lagi, sakit tahu dicabutin itu, kan bukan bulu ketiak!" ujarnya pelan, takut jadi bahan pertanyaan rekan kerjanya.


"Ahahaahahah, gatal sama bulunya Abang tahu, dicukur saja ya, Arsy yang cukur, sama yang itu juga Arsy cukurin!"


"Heh, Abang lagi kerja ini, jangan macem-macem!" Saka tunjukkan ponselnya yang masih berada pada panggilan aktif.

__ADS_1


"Urusan Abang kalau itu, siap-siap aku gundulin!"


"Arsy, hei ... no, Baby!" seru Saka, dia kejar istrinya, masa bodoh dengan panggilan itu.


__ADS_2