
Tahan!
Apa yang ditahan dan siapa yang bisa tahan kalau yang ada di pangkuan modelnya seperti ini.
Nakula pasrah di bawah kendali istrinya, kancing bajunya sudah terlepas, bahkan sabuk kulitnya sudah dilempar Shafiyah entah ke mana.
Hah, huh, hah, huh, hah, huh ... begitu terus sampai Shafiyah ambruk di sampingnya.
Apa sudah selesai?
Jawabannya belum, belum ada yang dirobek malam ini, gadis itu hanya memanjakan Nakula dengan ciuman di sekujur tubuh atas, hanya Nakula yang melepas bajunya, punya Shafiyah belum.
Gadis yang tengah dia nikahi itu terlelap, mungkin seperti ini cara istrinya mencari moment mengantuk yang tepat hingga tidur dengan mudah, bergerak terlalu banyak sampai dia lelah.
"Aku yang tidak mengantuk sekarang, Shaf, bagaimana kamu sudah membuat dia bangun dan tidak bisa tidur dengan mudah, hei?" Dia bingkai wajah pulas Shafiyah, tidak ada balasan dari bibir merah muda itu.
Nakula dekatkan wajahnya, dia menjadi berani saat istrinya itu terlelap, berbeda dari yang diawal tadi di mana dia takut dan pasrah, kali ini, dia lepaskan celana panjangnya, tersisa hanya celana kolor pendek diatas lutut.
Tubuh kecil itu dia geser hingga berada di bawahnya, perlahan Nakula tindih sebagian hingga pinggang mereka sama-sama bertemu, benda keras itu mulai menyapa calon rumahnya sedikit demi sedikit.
"Huhh, sesak!" keluh Nakula, akhirnya dia lepas semua.
Bukan hanya celananya, melainkan apa yang melekat pada Shafiyah, dia lepaskan juga, tak bersisa di tubuh kecil nan putih itu.
Dia seperti melihat boneka tanpa busana sekarang, wajahnya imut sekali tanpa make up.
"Eheheheh, geli, aaaah, nyamuk ini!" gumam Shafiyah, matanya masih terpejam.
"Eh, geliiiiiii, sana gigit yang lain saja, jangan Sofi!"
Lagi,
"Uuhhhhh, nyamuk sekarang kok pinter gigitnya enak, hem. Lagiiiii, mukkk, nyamukk, yang sebelah sini belum!"
Nakula menurut, anggap saja dia nyamuk yang sedang bedah rumah, menyusuri setiap inci kulit putih istrinya dan membuat bekas merah juga basah di sana.
Tubuh Shafiyah menggeliat hebat, dia berguling ke kanan dan kiri, Nakula pun mengikutinya, punggung itu juga mendapatkan jatah kecupan dari Nakula.
Lama-lama, dia mulai merasa aneh, mana ada nyamuk yang menyerang dengan nikmat dan enak begitu, Shafiyah buka matanya, yang dia lihat pertama kali adalah rambut, di bawah, hampir dekat inti tubuhnya, sedikit di bawah pusar.
Hup,
"Emmmmmm." Shafiyah paksa dirinya duduk hingga bisa menakup wajah samar yang sedang menuju pintu surganya itu, dia angkat dan alangkah terkejutnya.
"KAK ULA!"
"AAAAAARRGGHHHHHHHHHH ... KAMU NGAPAIN? SOFI DIAPAIN SAMA KAMU? AYAAAAAAAAAAAAAAHHH, BAJUNYA SOFI DILEPAS, SOFI MAU DIPERKOSA, AYAAAAAAAHH, AKU-"
Nakula tindih lagi dan bekap bibir Shafiyah, dia ***** dan gigit kecil-kecil hingga gadis itu terpancing mengikuti gerakan decapan bibir dan lidahnya.
Tak menunggu waktu lama, berhasil dia membuat Shafiyah terlena, kedua tangannya bahkan diarahkan ke bukit menjulang itu, bisa Nakula rasakan tubuhnya semakin panas, dia tidak bisa menahan lebih lama lagi.
__ADS_1
"Shaf, boleh ya?"
"Heeeem, pelan-pelan, Sofi takut sama pedangnya itu!" suara serak yang semakin seksi.
Nakula mengangguk, dia mulai menata kedua kakinya, melebarkan sedikit kaki sang istri dan memulai aksi kenalan di bawah sana.
"Auh!"
"Belum, Shaf!"
"Eheheheh, Sofi demam malam pertama, Kak. Jadi, sakit-sakit sendiri," balasnya, senyum-senyum.
"Sekarang ya, tahan!"
Jleb!
"AYAAAAAAAAHHHHHH, MMMMMMMMMPPPT!!"
Dengan cepat Nakula bungkam sekali lagi bibir itu, dia terus berusaha mendorong di bawah sana, sedikit lagi, sudah dia rasakan basah.
Nakula lepas pagutannya. "Sedikit lagi, Shaf, tahan ya!"
Shafiyah bergeleng, "Tidak, sakit, sakit sekali, lepas, lepaskan dia dari aku!"
"Tidak mungkin, kurang sedikit, Shaf!"
"Aaaaaaahhh, sakiiiitttt, tidak mau, ini tidak enak, ini-" kedua matanya melotot, seolah mau lepas. "AAAAYAAAAAAA-MMMMMMMPPT!"
Nakula terus mendecap bibir itu, dia baru berhenti saat Shafiyah tak menjerit lagi dan menitihkan air mata.
"Sa-sakit, Kaaaak." sesenggukan dia, mau lapor ke ayahnya.
"Tidak, sakitnya cuman sebentar!"
"Jangan digerakin!"
"Harus gerak, Shaf. Tidak mungkin hanya di dalam situ saja, dia mau cari udara di luar, yakin deh tidak sakit!"
Shafiyah bergeleng, dia tetap menolak, dia tahan pinggul Nakula yang endak bergerak, sekuat mungkin dia tahan, tapi pada akhirnya dia kalah.
Gerakan itu mulai Nakula atur, dia tarik ulur dan dorong dengan sangat pelan juga dalam.
"Sakit?"
Shafiyah bergeleng, "Tidak, enak."
Puuurrfftttttttt ....
Lihat gayanya yang menantang Nakula tadi, tiba di intinya, harus berteriak dan mau melapor pada ayahnya, beruntung Nakula cepat tanggap, kalau tidak, bisa jadi kambing guling dia di rumah sana nanti.
Malam ini, biarlah mereka di hotel saja, menghabiskan madu pertama dengan kehangatan yang tak ada habisnya.
__ADS_1
"Lagi!"
"Hem?" Nakula tautkan kedua alisnya.
"Lagi, Kaaaakk, lagi itunya!"
"Ahahahahah, gitu ya, awas dibilangin ayah!"
Nakula gendong ke kamar mandi, bukan dia tidak mau ditawari lagi, tapi bekas percintaan itu lebih baik mereka bersihkan lebih dulu.
Sepanjang berjalan ke kamar mandi, Nakula sesap bibir merah muda itu, kalau sudah menikah begini, jangan bilang dia akan diam, waktu berdua tentu dia akan jauh lebih diam.
Diam di balik selimut, eheheheheh.
Bucil Plak!!
Jeritan itu kembali terdengar di kamar mandi, bukan karena ada penyatuan kembali, melainkan bekas robekan di inti tubuhnta yang membuat mantan gadis itu menjerit.
"Katanya mau lagi, hem?" Nakula goda. "Kok sekarang sudah berubah."
"Tidak, ini sakit, aku tidak bisa menyiramnya, aku tidak berani merabanya, Kaaaaakk ... sakit!" mengeluh, tapi suaminya jauh, dia tidak mau.
Nakula harus mengambil langkah ini, kalau istrinya tidak tega dan tidak berani menyentuh inti itu, maka dia yang akan melakukannya.
"Sa-sakit, Kaaak, sakiiit, sakiit!"
"Tidak, harus dibersihkan, biar tidak jadi sarang kuman." Nakula perlakukan dengan lembut, tangannya pun halus.
Sejenak rintihan sakit itu masih terdengar, tak berselang lama, berganti menjadi lenguhan yang menarik senyuman Nakula.
Huh, dia tidak akan tahan kalau di rumah ada boneka menggemaskan begini, untung sudah nikah.
"Sakit?"
"Enak, ehehehehehe."
"Kamu ini ya, jadi dibilangin ayah, aku?"
Shafiyah bergeleng, "Kalau aku kasih tahu ayah, yang ada tidak boleh bertemu dan begitu lagi, kan sayang sudah enak, habis sakit tadi, Kaaaak."
"Enak saja atau enak banget?" Nakula berdiri, dia balut tubuh di depannya itu dengan anduk.
"Eheheheh, malu ih!" wajahnya merona, tapi dia mau bertanya. "Kak Ula merasa bagaimana?"
Nakula dekatkan wajahnya, dia lantas berbisik, "Lebih enak dari yang kamu rasain!"
"Aaaaaaaaah, gituuu ... kalau gitu lagi, biar aku juga seenak kamu!"
"Katanya sakit," balas Nakula.
"Tidak apa, cuman semenit saja sakitnya, ayo!"
__ADS_1