
"Mau aku suapi, A-isyah?" Baskara tiba-tiba saja berdiri di belakangnya.
Aisyah berbalik, dia baru saja mengoles selai nanas di roti tawar tanpa kulitnya, endak menggigit, suara Baskara membuat giginya enggan terlihat.
Baskara rebut roti itu, lalu dia ambil potongan kecil.
"Buka mulutmu!" pintanya.
Aisyah menurut, dia membuka mulut kecilnya, melahap apa yang Baskara gantungkan dan tawarkan. Masih memandangi wajah Baskara yang terus mengamatinya, ada yang berbeda seolah sedang memperhatikan sesuatu.
Bibir itu, Baskara melihatnya, bentuk mulut Aisyah yang kecil dan warna bibirnya yang merah alami tampak begitu segar, mengalahkan buah semangka. Dia tersenyum samar dibuatnya, begini rasanya menyuapi pasangan, apalagi yang dia suka.
Baskara berikan lagi, Aisyah pun menerimanya, dia suka melihat Aisyah menurut sekalipun sedang bingung dan tak mengerti untuk apa dia melakukan hal ini.
"Minum, Ais mau minum!" Aisyah tepuk dadanya.
"Ini."
Aisyah terima, sekali lagi Aisyah menerima gelas yang tak lain gelas milik Baskara, suaminya itu sedang hobby memberikan gelas bekasnya, Aisyah sendiri meskipun tahu juga tidak menolaknya.
"Kakak mau rotinya?"
"Tidak."
"Sungguh?" bertanya sambil mencuci gelas Baskara yang baru dia pakai. "Kalau mau, aku buatkan, tadi dua teman Kakak masih menyisakan dua lembar, eheheehehe."
"Dua? Bukankah temanku ada tiga, A-isyah. Kenapa tidak mau menyebut nama Sena?"
"Hmm, itu-" bibir Aisyah terkatup. "Aku rasa dia bukan teman Kakak, mau rotinya tidak?"
"Apa kamu masih sakit hati karena dia, A-isyah?"
Tidak, sama sekali tidak.
Aisyah hanya menjawab dalam hati, dia takut salah menjawab di depan suaminya, tidak penting juga membahas Sena.
Baskara manggut-manggut, "Aku tidak akan membawamu bertemu Sena lagi, jangan khawatir soal hari ini, tidak akan terulang lagi. Kamu tidak perlu menahan rasa sakit itu," ujarnya.
"Kak-"
"Aku simpati atas rasa cintamu pada bedebah itu, A-isyah." Baskara memotong sebelum akhirnya pergi ke kamar, dia terlelap lebih dulu.
Aisyah ingin mengejar dan menjelaskan, tapi dia terlalu lemah untuk itu, terlalu takut kalau sampai dia tak bisa menahan perasaannya, bila dia sampaikan, akan menjadi beban Baskara bertambah.
__ADS_1
Pria itu sudah menikahinya, menghormatinya, memperlakukan dia dengan baik, memberinya kedudukan sebagai istri, Aisyah merasa tak pantas memaksa Baskara untuk mencintainya juga.
Sungguh, ingin Aisyah katakan bahwa dia sangat mencintai Baskara, bahkan telah lama rasa itu dia pendam dalam hati, hanya saja ketakutannya jauh lebih besar.
Jam berapa ini? A-isyah menangis lagi? Pasti hari ini berat untuknya, bedebah itu kenapa juga ke sini!
Baskara merangkak turun, dia dekati Aisyah yang tengah bersimpuh, dia tepuk bahu kecil Aisyah.
"Kakak," sebutnya sambil menangis, wajah itu basah di depan Baskara. "Kakak, yang tadi-"
"Sudah, jangan dibahas lagi, jangan ingat wajah bedebah itu!" Baskara rengkuh dalam pelukannya. "Dia atau siapapun setelah ini tidak akan ada yang bisa menyakitimu, percayalah!"
Bukan itu, Kak, bukan!
Baskara jauhkan wajah Aisyah, dia takup dan bingkai utuh, menenggelamkan pandangan mereka satu sama lainnya.
"Tenanglah, A-isyah!" Baskara cium kening itu, entah dia tidak tahu apa, yang dia ingin lakukan saat ini adalah membuat Aisyah tenang, lalu dia tatap lagi Aisyah. "Jangan menangisi Sena lagi!"
Tidak, sungguh bukan itu, kalimat Aisyah tertahan. Dia menangis bukan karena Sena, melainkan untuk pria yang tengah memeluknya ini.
Aku sayang sama Kakak, aku takut kehilangan Kakak, sungguh. Aku harus apa, Kak?
***
"Jadi, ke rumah mama?" Baskara memulai pembicaraan.
Aisyah menoleh, "Bisa besok saja ke rumah mama, Kak?"
"Kenapa?"
"Aku sedang tidak ingin bertemu mama dulu, bisa besok saja?" ulang Aisyah.
Baskara mengangguk, ini pasti karena Aisyah masih enggan membahas Sena, pasalnya bila bertemu dengan mama Fya, wanita itu pasti membahas masa lalu yang mau tidak mau mengingatkan Aisyah pada Sena.
Kalau saja waktu itu Sena dan Gina tak datang ke unitnya, Baskara yakin senyum dan wajah Aisyah pasti berseri-seri saat ini.
Sesampainya di rumah, Aisyah tak berbicara banyak, dia masuk ke kamarnya dan baru ke luar malam hari, mengambil makanan dan masuk lagi ke kamar.
"Berikan aku kunci cadangan kamar, A-isyah!"
"Iya, Tuan." bik Nur buru-buru mengambilnya. "Ini, Tuan. Ada apa sama non, Tuan?"
"Aku belum tahu, tapi tadi sekilas kata mamang pucat, Bik."
__ADS_1
Baskara buka pintu kamar Aisyah, beruntung setelah mengunci pintu, Aisyah selalu melepas kuncinya, Baskara bisa mudah masuk saat darurat begini.
A-isyah!
Baskara angkat tubuh lemah itu, Aisyah tergeletak di dekat ranjang, masih dengan mukenahnya, bahkan bekas tangisannya masih ada.
"A-isyah!" dia tepuk kecil pipi Aisyah.
"Bangun, A-isyah!"
"Dia demam lagi," gumam Baskara setelah menempelkan tangannya. "BIK, PANGGIL MAMANG, KITA KE RUMAH SAKIT!"
Tak menunggu lama, mobil itu melesat dalam sekejap ke rumah sakit, begitu datang sudah membuat keributan, salah seorang perawat datang ke ruangan Andreas dengan penuh keringat.
"Hah, kenapa dia malam-malam ke sini sih?" Andreas ikut berlari, dia baru saja mau pulang, bahkan jasnya sudah dia gantung. "Dia di mana? Siapa yang sakit dan apanya?"
"Istrinya, Dokter."
"Lah, istrinya yang sakit?" berhenti. "Apa tidak salah?"
"Tidak, tadi pimpinan muda itu menggendong istrinya!" entah, masa bodoh bingung mau menyebut Baskara siapa.
Andreas tarik baju perawat laki-laki itu, mereka tidak boleh terlambat atau susu anak-anak mereka dalam bahaya.
Suasana di IGD sudah memanas, Baskara tampak gusar karena Aisyah tak kunjung sadar, dia bahkan tanpa sadar mencium kening Aisyah berulang kali memastikan Aisyah-nya baik-baik saja.
"Di mana Andreas?!" bertanya setengah berteriak.
"HEH, AKU DATANG, AKU DATANG!" Andreas mengangkat tangannya tinggi, tidak peduli dia sudah memakai sandal japit.
***
Tadi, sebelum Aisyah menangis dan tidak sadarkan diri.
"Pesan dari siapa?" gumamnya, dia buka dan baca.
[Ais, jangan cemburu pada Gina, aku tidak mencintainya sama sekali dan jangan dengarkan ucapannya, itu semua bohong. Ais, aku punya rencana berpisah dengan Gina, setelah anak itu lahir, bagaimana kalau kita menikah. Kamu cinta sama aku kan? Jadi, aku rasa akan lebih baik kalau kamu meminta pisah dari Bas dan kita menikah, kamu setuju? Aku yakin mama-mu juga menerima semua ini, sampai detik ini aku yakin dia masih berharap aku menjadi menantunya.] Sena.
Satu pesan lagi,
[Besok kamu ada waktu, bagaimana kalau kita bertemu, aku rindu berbicara banyak denganmu seperti setelah aku melamarmu waktu itu, bisa kita bertemu? Kalau takut dengan Bas, kita bisa bertemu diam-diam, bagaimana?] Sena.
"Bagaimana kalau dia nekat dan kakak salah paham soal ini? Aku takut kakak marah, lalu pergi meninggalkan aku." Aisyah menangis terseduh-seduh.
__ADS_1