
Satu hari tak bertemu Baskara sama sekali, pria itu pergi pagi-pagi sekali dan pulang sangat larut, sampai-sampai Aisyah ketiduran menunggunya dengan pintu kamar yang terbuka, saat dia bangun, suaminya sudah di rumah.
Hari ini, mereka akan pergi bersama, untuk pertama kalinya Aisyah akan menemani Baskara ke luar kota setelah mereka menikah, pengalaman baru yang akan Aisyah lewati dan rasakan.
Aisyah menuruni anak tangga setengah berlari, begitu kakinya menapak lantai, Baskara menoleh sambil membawa secangkir lemon hangatnya, senyum mereka bertemu di sini.
"Semalam menungguku, A-isyah?"
"Iya, Kak. Kakak yang menutup pintu kamarku ya?"
"Hem." dia bawa lemon hangat itu ke teras belakang, duduk santai sejenak seperti biasanya.
Aisyah ikuti langkah itu, dia berdiri tepat di belakang tempat duduk Baskara, memandang dari belakang bagaimana suaminya terbiasa menghabiskan lemon hangat seorang diri di rumah ini.
"Duduklah!" Baskara menoleh singkat, memberi tanda juga dari gerakan matanya. "Duduklah, A-isyah!"
Buru-buru Aisyah duduk, dia miringkan kursinya agar mata itu tak memandang kaku wajah Baskara, dia malu sekali kalau sampai ketahuan mencuri pandang sekalipun itu haknya sebagai istri.
Gemericik air di kolam belakang membuat Aisyah tertawa kecil, dia merasakan hawa sejuk di sini, terlebih lagi di dekatnya ada sang suami, satu hari tak melihat Baskara rasanya ada yang kurang.
"A-isyah."
"Iya?" dia menoleh, merona melihat tatapan Baskara, sontak memalingkan wajah.
Kenapa pipinya langsung merah sih?!
"Ekhem, kalau kamu terpaksa dan ada keperluan lain, tidak masalah kalau tidak ikut aku ke luar kota," ujar Baskara, dia khawatir karena permintaan ibunya, Aisyah jadi terpaksa. "Di sana sepi, A-isyah. Kalau mau ke luar, harus menunggu aku pulang, tapi aku tidak janji itu," imbuhnya
"Tidak masalah, Kak. Ada bahan di rumah yang bisa aku bawa ke sana, lagipula di sana mungkin aku bisa jadi koki buat Kakak, waktu Kakak pulang kerja, bisa langsung makan, eheheheh."
"Bisa masak?" Baskara menantang.
"Bisa, tapi kalau tidak enak, jangan dibuang ya!" menutup wajahnya malu.
Baskara ajak saja kalau begitu, dia sendiri tidak terbiasa membawa wanita saat bertugas jauh, baru ini dan itu bersama Aisyah, dia tak khawatir akan dirinya, tapi lebih memikirkan Aisyah, bisa jadi seharian bekerja di sana membuatnya haus akan kabar Aisyah di unit sepetak itu.
Walau hubungan mereka masih dirasa hampa, setidaknya beberapa hari ini komunikasi mereka ada kemajuan, Baskara juga lebih sering tersenyum pada Aisyah.
__ADS_1
"Biar aku saja sini!" Baskara tarik koper kecil Aisyah.
"Terima kasih, Kak."
Pemandangan sedap sepanjang masa, maid dan penjaga rumah ini mendoakan agar keduanya semakin bersatu dan kembali ke rumah ini dalam kondisi yang jauh lebih baik lagi.
"Lama rasanya tidak melihat tuan muda senyum begitu ya?"
"Iya, Mang. Aku apalagi yang ada di sini sejak mereka menikah, tiap hari jantung rasanya mau lompat, mana non Ais itu ketemu tuan muda saja gemetaran, tuan muda sendiri kalau tahu non Ais ke luar kamar, sudah cari alasan pergi. Kita doakan saja mereka, Mang!"
"Iya, Nur, jelas itu!"
Mobil Baskara melaju ringan menuju kota tujuan, tapi sebelum itu dia sempatkan mampir ke rumah utama dan ke pemakaman sang ibu kandung.
Aisyah berpegangan kuat pada Baskara saat menyebrangi beberapa area pemakaman hingga sampai ke sebuah makam yang dia dengar selalu tampak segar, makam itu dirawat dengan baik, makam ibu kandung suaminya yang juga menjadi ibu mertuanya.
"Ini Ibuku, A-isyah. Hmm, ibu kandungku." Baskara usap nisannya, kemudian dia kecup singkat sebelum membaca doa.
Aisyah ikuti itu, dia tidak menyangka akan diajak ke sini, dia jadi bisa melihat sisi lain dari suaminya yang dikenal garang dan seram, ini kunci keberhasilan suaminya selama bertugas.
"Ibu pasti cantik, dia juga pasti baik," ujar Aisyah lirih, dia taburkan bunga segar di atasnya.
Aisyah hentikan taburan bunga itu, dia dapati perubahan mimik wajah suaminya, masih beruntung dia sempat bercanda dengan ayah dan ibunya meskipun mereka telah tiada sekarang, suaminya itu bahkan mendengarkan suaranya saja tidak.
Satu tangan Aisyah mengusap lembut bahu Baskara, pria itu menunduk, menyembunyikan sisi lemahnya, sebelum dia berdiri dan memindahkan tangan Aisyah untuk kembali, satu usapan dan kecupan dia berikan ke nisan indah itu.
"Kita berangkat sekarang."
Aisyah mengangguk, sembari melangkah, dia rapatkan selipan tangannya di genggaman Baskara, walau wajah pria itu kembali tegas, sungguh Aisyah tahu dalamnya seperti apa, hatinya tertinggal di tempat ini.
***
Hanya ada satu kamar di apartemen ini, kamar satu lagi biasanya Baskara gunakan untuk pertemuan mendadak dengan rekan kerjanya.
"Kamu bisa tidur di sini, aku bisa di luar." Baskara geser koper Aisyah.
Aisyah kejar langkah itu, sungguh dia tak ada maksud apapun, yang dia tahu suaminya pasti akan lelah, tidak akan nyaman tidur di sofa meskipun itu besar dan panjang.
__ADS_1
"Jangan, A-isyah. Aku sudah biasa tidur di sofa," ujar Baskara, menolak halus usul Aisyah.
Baskara yakin dia bisa menahan diri dan tidak goyah satu kamar dengan Aisyah, hanya saja dia tidak mau sampai keberadaannya membuat Aisyah terpaksa dan sakit hati tanpa dia tahu, dia tidak mau Aisyah memaksakan hatinya yang sakit.
Kalau dia harus mengemis cinta pada Aisyah, itu akan dia lakukan, tapi bila Aisyah yang harus memaksakan diri mencintainya, tidak akan Baskara lakukan, perasaan Aisyah adalah nomor satu dalam dirinya tanpa peduli hatinya sendiri.
"A-isyah."
"Aku juga akan tidur di luar kalau Kakak tidak mau tidur di kamar itu!" ancamnya memupuk keberanian.
"Sejak kapan kamu berani membantah dan mengancam, A-isyah? Apa aku terlalu baik padamu?" Baskara duduk tepat di depan Aisyah. "Siapa yang mengajarimu berani, A-isyah?"
Tidak ada, Kak.
Aisyah menunduk, takut ucapannya membuat Baskara marah sekaligus bingung menjawab apa.
"Tidur di kamarmu, A-isyah!" titah Baskara, dia tunjuk kamar itu tanpa nego. "Bawa selimut itu, bantal itu juga, semuanya, A-isyah!"
Aisyah punguti, dia pindahkan satu persatu, menuruti apa yang suaminya katakan.
Dan entah keberanian darimana sampai mulutnya berkata hal yang lain, kalimat yang membuat Baskara tersentak kaget.
"Apa cuman kalau Kakak sakit saja, Kakak mau satu kasur dengan aku?"
Apa?!
Aisyah bergumam, tapi Baskara bisa mendengarnya.
Haaashhh!
Baskara berdiri, dia pijat kepalanya yang mendadak pusing, lantas dia ambil bantalnya, berjalan cepat masuk ke kamar yang sudah dia berikan pada Aisyah tadi.
Bruk!
Dia tengkurap di sana, di samping Aisyah.
"Kakak?"
__ADS_1
"Sudah tidur di sini, jangan bicara aneh-aneh!"
Eheheheheh .... Aisyah.