
Dua jam menunggu akhirnya si pepes datang juga, tak bisa Saka pungkiri kalau memang sang istri sangat menginginkan ini.
Bukan hanya bumbu lengkap, sepertinya di sana mereka sedang pesta pepes sampai bisa memberikan Saka banyak yang matang.
Dengan senang hati saka bawa ke kamar, sejak tadi sampai kepala atas dan bawahnya nyut-nyutan, Arsy selalu mengesahkan nama pepes, kerinduan yang di bawah sana masih diabaikan, Saka memang harus mengendalikan dirinya dengan baik.
"Sayang, ini pepesnya." Saka membusungkan dada, dia tak pernah gagal menjadi suami dan teman yang baik bagi istrinya meskipun tadi nanggung mau lepas pusaka, tak jadi karena Arsy mual hebat. "Ini ada yang udah mateng, mereka kayaknya pesta pepes, jadi dikasih banyak sekalian sama bumbu khas sana, kita bisa simpen. Abang suapin ya?"
Arsy mengangguk, dia ubah posisinya menjadi duduk, bersandar pada dua bantal yang ditumpuk di belakang punggungnya, dia pun membuka mulut lebar ketika tangan kanan Saka mendekat dan berhasil menyuapkan perlahan.
Hmm, dahsyat!
Suapan demi suapan masuk ke mulutnya, Arsy menerima dengan baik, dia bukan tipe yang menyia-nyiakan makanan seperti kisah yang Saka dengar, biasanya ibu hamil akan menolak makanan yang mereka inginkan sementara makanan itu datangnya terlambat, nyatanya keringat di kening Saka berbalas dengan kemauan Arsy dalam menikmati santapannya, Arsy benar menghabiskan satu porsi utuh beserta nasi.
"Enak banget, Baaang, apalagi disuapin kamu. Yakin deh anaknya Appa di dalem sini seneng bukan main, eh anak-anak kan ya, ada dua, ammanya lupa!"
Saka terkekeh sembari mengusak rambut Arsy, dia kecup sebelum akhirnya melenggang ke luar, perut ibu hamil itu sudah kenyang, dia bisa memejamkan mata dengan nyenyak, berbeda dengan Saka yang entah karena apa mewajibkannya meluruhkan tubuh dengan air dingin, melihat Arsy menjilati jemarinya membuat hasrat itu bangkit kembali dan sialnya semakin hebat.
Ah, Saka lupa sudah puasa lama, tapi dia cukup sadar diri untuk tak memaksa kehendak pada Arsy, ibu hamil itu sangat butuh zona ternyaman di rumah ini dan dukungannya, dia harus tampil kuat.
Dengan cepat Saka keringkan rambutnya, dia merangkak naik ke ranjang berinisiatif menyusul sang istri tidur, memeluk Arsy dari belakang sembari memutar telapak tangannya di depan perut, mengusap terus tanpa henti hingga siempunya terganggu, menoleh ke belakang dan mendapati Saka telah memejamkan mata.
"Abang habis mandi ini, kasihan banget belum bisa jenguk si kembar, besok ya sama-sama jenguknya ya, Abang, maaf ya... kangen juga loh Arsy ditindihin Abang, ahahahaha...."
Ya ampun kalimatnya terlalu vulgar saat ini, untung saja Saka sudah terlelap, coba kalau belum, yakin bibirnya akan habis sekali raup kasar pria bermata gelap dan tajam itu, titisan darah mafia masih ada dalam diri Saka, sekalinya macam-macam, Saka bisa kesetanan dan tak pandang bulu.
Arsy usap perutnya. "Kamu mau kayak kakek Hans atau Aksara, hem? Atau kalian mau seperti keduanya, tapi Amma lebih suka yang keras kayak kakek Hans, eh, Hendrawan, eh ahahahah... namanya siapa sih-"
"Hendrawan, Arsy!" Saka membuka matanya.
Kedua mata Arsy membola, semua ocehannya masuk ke telinga siaga Saka, dengan gerakan cepat Saka sudah memposisikan dirinya berada di atas Arsy, ******* bibir itu lembut dan singkat.
"Kamu ngomong apa aja tadi, hem? Kenapa bawa-bawa nama kakek Hans dan ayah?"
Eh, Arsy cengar-cengir, masa iya dia menjelaskan kalau suka pria yang keras dan panas seperti kakek Saka? Oh My God, Arsy!
Nggak, Nak.. Amma ya takut kalau kamu jadi mafia!
***
Baskara menghela nafas panjang, hirup embus terus begitu bergatian dan seterusnya, hot daddy satu ini baru saja menyelesaikan olahraga lari paginya, tak jauh-jauh hanya di sekitar komplek sembari ditunggu istri dan anak lelakinya yang sudah mulai berjalan pelan sambil terjatuh-jatuh, belum lagi ocehannya dan tatapan tajam yang menurun dari Baskara secara langsung.
"Yanda, minum dulu!"
__ADS_1
"Terima kasih, Nda. Rasyah mainan apa itu?"
Aisyah cengar-cengir, sambil mengusap perutnya dia berjalan menghampiri sang anak, bocah lelaki tampan dengan wajah seindah rembulan, tapi matanya setajam sinar matahari, sayangnya Aisyah bocah ini.
"Mainan pacil, Yanda... anaknya lagi mainan pacil, selagi ketemu pacil jadi mainan, ahahahah," jawab Aisyah menirukan suara anak kecil dan logatnya. "Yanda, usap keringatnya, tambah ganteng dan aku cemburu!"
Aung, mode galaknya muncul.
Baskara terkekeh, melihat istrinya hamil sembari menemani anak pertama mereka rasanya ingin juga hamil kembar, gara-gara ocehan Saka dan kesombongannya di sana, dia panas dingin, mau anak dua sekaligus juga.
Tapi, rejeki itu belum padanya, kalau Aisyah sudah melahirkan nanti, dia akan membuat lagi, kalau bisa kembar tiga.
"Yanda kenapa lihatin aku gitu?"
Baskara tarik senyumnya, senyum seperti mau membunuh tanpa ampun lawan di depannya. Dia berdiri sembari mengguyur kepalanya dengan air dingin, pemandangan epik yang sontak menarik perhatian Rasyah, bocah itu berjalan setengah berlari sampai hampir jatuh ke dekat Baskara, endak memainkan air dingin yang menetes dari kepala sang ayah, tapi tangan kecil itu justru terampas cepat dan tubuhnya dibuat melayang, Rasyah bukan hanya mendapatkan tetesan air karena Baskara menaikkan tubuh kecil itu ke punggungnya, kedua tangan kecil itu langsung mengacak dan memainkan rambut Baskara gemas.
"Hei, Rasyah... boleh pegang tapi tidak mukul Yanda ya, Sayang..." Aisyah memperingati anaknya, sebelum namanya bocah akan banyak asal tepuk kalau sudah asik.
"Tidak masalah, aku tidak akan kesakitan dengan tangan kecilnya itu, Nda...."
"Bukan masalah itu, Yanda. Rasyah harus tahu kalau kepala bagian penting, tidak boleh dipukul asal, apalagi orang tua, biar sampai besar dia kebiasaan begitu, sopan!" Aisyah cubit perut kotak-kotak suaminya. "Naaak, sini sama Bunda saja ya, nanti kakinya kena wajahnya Yanda, ayo, sini, kan sepatunya Rasyah kotor, sini Sayang!"
Perlahan Baskara membungkuk, dengan hati-hati dia pindahkan Rasyah ke tangan Aisyah yang sigap, memeluk dan mencium bocah tampan itu, terkekeh kecil sambil membalas kecupan Baskara di hitungnya.
"Nurut sama Bundamu, kalau dia kesal, matahari tidak akan mau terbit lagi, oke Boy?!"
"Yanda mau balas?"
Baskara menyeringai. "Sakit loh dicubit gitu, nanti Yanda cubit yang lain mau?"
"Yandaaaa," Aisyah memanjangkan panggilannya. "Aku tahu arahnya ke mana, tidak bisa ya, lupa sama ucapan dokter ini Yanda, tidak bisa mendadak nambah anak di perut, Yanda!"
"Kalau begitu, setelah ini kamu hamil lagi, Oke!"
"Oce!" sahut Rasyah.
"Good answer, anak Yanda yang pintar dan baik, klop banget!" Baskara kecup pipi putih Rasyah, berkedip genit penuh kemenangan pada Aisyah yang cemberut. "Bunda senyum dong!"
Jewerrr, selalu saja membahad hal sensitif masalah anak, kalau sudah begini yang ada Aisyah memerah gemas pada suaminya.
Bukan tak mau hamil lagi, yang dia pikirkan adalah jaraknya, anak pertama masih membutuhkan banyak perhatian, belum anak kedua, sudah mau menambah anak ketiga karena tak mau didahului adik-adiknya, ingin Aisyah cabuti saja bulu kaki Baskara itu.
Sampai mereka bermain bertiga di kamar pun Baskara belum mendapatkan senyuman manis Aisyah, hot daddy satu ini selalu kelabakan kalau sudah menggoda, sementara istrinya tersentil dan marah, pasti semua tanya jawabnya tak akan dijawab lugas, Aisyah hanya melirik dan memperhatikan anak mereka, lain dengan dirinya yang langsung memalingkan wajah.
__ADS_1
"Nda, sudah itu marahnya, kan Yanda cuman bercanda," ujarnya merayu.
"Bercanda apanya, kalau beneran Yanda gitu ke aku, apa tidak gelagapan sama tiga anak, hem? Yanda harus sayang dong sama anaknya, mereka kan butuh perhatian Ais di sini, kalau nambah dekat lagi, nanti Rasyah waktunya lincah, tidak ada yang menemani dia karena aku sibuk sama tubuhku sendiri, Ais sensi kalau Yanda kelewatan!" manyun, marahnya Aisyah tetap pakai suara lembut, tidak berapi-api, cuman pipinya memerah begitu saja sambil bibirnya manyun minta Baskara cium.
eiisss, Bas!
Baskara julurkan tangannya, menggapai pinggang yang sudah mengembang karena hamil anak kedua, bukan, sebenarnya ini yang ketiga karena mereka pernah kehilangan calon anak pertama sebelum dilahirkan, bisa Baskara katakan cukup seharusnya, tapi dia mau yang bisa dilihat.
Kecupan di pundak terbalut jilbab itu terasa hangat, bibirnya yang tebal dan ada bulu kecil di sana menggesek kasar kain yang tidak terlalu tebal karena di rumah, Aisyah meringis, dia tahu suaminya ahli dalam merayu.
"Yanda, iya, tidak marah lagi, sudah sana!"
"Mana buktinya kalau sudah baikan, masih cemberut?"
Aisyah lebarkan dan tarik kedua sudut bibirnya, membuat pria satu ini puas dengan senyuman miliknya.
"Sudah ya, sana lepasin aku!" Aisyah memberontak kecil. "Yanda, anaknya jatuh itu kalau tidak diawasi, lepaskan!"
Cup!
Aisyah tercengang, bisa-bisanya langsung mengecup tanpa aba-aba, benar-benar hot daddy kalau tidak Aisyah bungkus dengan benar, ribuan wanita akan menyerbu rumahnya, Minta dinikahi Baskara.
Dengan kedua tangannya yang besar, Baskara masih mengunci pergerakan Aisyah, menatap wanita yang tengah hamil anaknya itu dengan dalam dan penuh arti, lalu ******* lembut dia berikan yang mampu membuat Aisyah mendesis.
"Yandaaaaa, ada anaknya loh!" semakin cemberut, mau pergi ditarik lagi. "Terus ya Yanda sampai matahari tenggelam?!"
"Ahahahahah, kalau matahari tenggelam, jelas aku ada di atasmu, A-isyah!"
Gluk,
Mata Aisyah membulat sempurna, pria di depannya ini benar-benar mampu membuat dia kelabakan, belum lagi anak-anaknya, Aisyah blingsatan selayaknya cacing kena garam, panas semua dan memucat.
"Yanda, stop!" Aisyah mengingatkan lagi, ada anak mereka sedang mainan di ruangan ini, bisa saja melihat ke arah mereka, tapi Baskara tak peduli, dia sering melihat ibu dan ayahnya dulu begini. "Yandaaaaaa, jangaaan!" Aisyah merengek seperti anak kecil.
Baskara jauhkan wajahnya, dia pun tertawa. "A-isyah, aku rasa kau tidak pantas disebut ibu-ibu!"
"Terus?"
"Gadis muda yang menggoda aku, ahahahahahah-"
Hush!
Aisyah bekap, tawa suaminya bisa membawa gelombang air laut tinggi.
__ADS_1
***
Punten Baskara lewat bentar ya,