
Baskara menoleh pada ayahnya, pagi ini dia sudah ada di rumah utama, bahkan matanya masih merah, dia kurang tidur.
"Ada apa, Ayah?"
"Adikmu, antar dia ke kampusnya, dia tidak mau bersama Nakula!"
"Nakula melakukan kesalahan?" setahunya, Nakula itu orang yang bisa dipercaya, baru ini dia mendengar ada aksi protes dari adiknya. "Dia mengecewakan Sofi dalam hal apa?"
Ibu memotong pembicaraan dua pria utamanya itu, "Kemarin mereka ke mall, terus, biasa kan Sofi itu godain Nakula mau diajak kenalan sama cewek cantik, Nakula nolak, dia bilang kalau sudah punya yang idaman dan siap melamar, Sofi syok."
"Syok kenapa?" Baskara cium pipi ibunya lebih dulu, kebiasaan yang tidak bisa dia tinggalkan dan selalu berhasil membuat ayah melotot, tidak terima meskipun anaknya sendiri. "Wek!" Baskara ledek halus.
"Bas, selama ini kamu dan Saka, terus teman lainnya selalu menjodohkan dia kan ke Nakula, jadi ada sengatan gitu, dia kira Nakula ya ada sengatan, ternyata Nakula punya gadis idaman. Dia tidak mau kalau sampai saling menyakiti," jelas ibu.
Ah, Baskara paham arahnya ke mana, begitu juga dengan ayah.
Gadis perawakan kecil dan berambut coklat kesayangan semua pria di rumah ini sepertinya tengah memahamkan diri akan sebuah rasa lain di hati.
Sebut saja, Shafiyah tengah menengadahkan hatinya untuk Nakula, sedang mendadak gersang karena Nakula mengatakan telah mempunyai idaman lainnya dan siap melamar kalau sudah waktunya.
Tok, tok, tok ...
"Sofi, Kakak datang, boleh masuk?" Baskara ketuk pintu kamar adiknya, sejak semalam katanya tidak mau tidur dengan ayah yang belum menyetujui permintaannya berganti orang, soal Nakula. "Sofi, ada kue dari A-isyah, kue model anak kecil, mau tidak?"
Jeglek,
Mata sabit itu menyambut Baskara dengan kedipan cepatnya, membuka pintu sedikit lebih lebar hingga tubuh besar sang kakak bisa masuk, dia pun hanya mengizinkan Baskara pagi ini, dia mode demo pada ayahnya yang sudah pusing di bawah sana, semalam tidak bisa menimang anak gadisnya.
"Bu, bagaimana kalau Sofiku-"
"Hush, sudah, Bas bisa merayunya!" potong ibu, di rumah ini jadi galau semua.
Di kamarnya,
__ADS_1
Baskara biarkan Shafiyah duduk sambil memeluk bantal di pangkuannya, hal yang sudah sangat biasa bagi kakak beradik satu ini, terlebih lagi kalau Saka pulang, pasti apapun kondisinya mau dipangkuan Saka.
"Katakan, ada apa!" pinta Baskara.
Shafiyah bergeleng, dia tidak mau kakaknya mendengar dari bibirnya, dia masih takut akan hal asing yang mulai dia rasakan itu.
"Kalau tidak mau mengatakan apa masalahnya, hari ini juga Kakak pecat Nakula dan memutus hubungan kerja dengan keluarganya, biar mereka terpuruk, bagaimana?"
"Apa yang Kakak lakukan?" baru dia mau bersuara. "Jangan lakukan hal konyol itu!"
Baskara tersenyum, "Sekarang katakan yang jujur, apa adik kecilku yang manjanya minta ampun ini, anak kesayangan ayah Aksara dan adik tercintanya Baskara juga Saka, sudah tahu tentang rasa suka atau cinta?"
Pipi mengembang Shafiyah sontak memerah, dia menunduk dan tak mau menunjukan kelemahannya, sebuah rahasia yang dia sendiri belum paham, takut bila dia mengatakannya, akan berdampak lebih.
Baskara takup wajah mungil itu, kecupan di kening setidaknya bisa membuat adiknya yakin kalau dalam kondisi apapun, dua kakak lelakinya akan selalu ada.
"Kau menyukainya?"
"Baiklah kalau tidak mau mengaku, aku akan bertanya langsung pada Nak-"
"Jangan, apa yang akan Kakak lakukan kalau Di menjawab tidak menyukaiku, hem? Apa mau Kakak gantung dan tembak? Biarkan dia menjalani hidupnya dengan baik, memilih orang yang dia suka dan tidak bersama orang karena paksaan!"
"Ahahahaahah,-" Baskara tatap tajam akhirnya. "Bagaimana kalau saat aku tanya, dia menyukaimu? Mau menikah bulan depan?"
"Kakak!"
"Aku tidak suka adikku berjalan tidak jelas seperti anak muda lainnya, bergandengan tangan dalam ikatan pacaran, omong kosong, kalau kalian saling suka, menikah saja, itu lebih baik!"
Shafiyah memilin jemarinya, dia tidak bisa menjawab, dia masih muda saat ini, sedang Nakula seusia Baskara yang jauh lebih tua.
Tapi, keputusan kakaknya juga tak bisa dia tolak, hatinya berkata iya, dia mau kalau seandainya Nakula juga suka, bukan paksaan.
Di bawah sana, ayah langsung berdiri saat Baskara turun, tangannya menjadi tempat bersandar Shafiyah.
__ADS_1
Gadis itu takut, bila dia jatuh cinta lalu bersama pria lain, ayahnya akan sedih, dia tidak mau membuat ayahnya sedih dan kesepian karena ada sosok lain di hatinya.
"Ayah," sapanya sambil berlari, memeluk ayahnya yang sontak membalas lebih hangat.
Ibu senggol Baskara, keduanya tersenyum, tahu tanpa harus berkata-kata, ikatan batin mereka memang sangat kuat.
"Ayah lebih sedih kalau lelaki itu hanya mengajakmu jalan-jalan tanpa ada kejelasan, Sofi ... Setelah Ayah tua dan masa berlalu, siapa yang menjagamu, itu yang Ayah pikirkan. Tidak mungkin kau menginap di rumah Bas dan Saka, mereka tak akan menolak, tapi bukan itu hal yang benar," jelas ayah. "Bas, temui Nakula dan tanyakan hal itu, kalau dia menyukai Sofi, katakan padanya, aku menunggu kedatangannya, kalau dia tidak berani, suruh dia pergi!"
Kabar gembira sekaligus ancaman bila tak bisa membuat anaknya bahagia, Baskara mengangguk, dia akan selesaikan dengan segera.
Obrolan semalam,
"Tubuhku semakin lemah, rentan dan memang aku tidak muda lagi, Jingga. Yang aku takutkan, aku meninggalkan Sofi, sedang dia belum menikah, belum ada pria tepat yang bersamanya, aku ingin lelaki itu menikahi Sofi atas izinku, akan aku tanggung senang dan duka Sofi hingga dia bahagia ... tanggung jawabku belum selesai, bila Sofi belum menikah," tutur ayah.
Ibu tersenyum, dia pijat lengan suaminya.
"Dia pasti akan menikah, jangan terlalu khawatir, kita punya dua anak lelaki, kalau kita sudah tidak ada, punggung mereka yang akan mengangkut beban Sofi, mereka sayang sekali dan pasti mencari istri yang bisa menerima adiknya," balas ibu.
"Huuhhh, bagaimana kalau aku mati, kau mau menikah lagi?" tanya ayah.
"Bagaimana kalau aku balik, aku yang mati dulu, apa kau mau menikah lagi?"
"Tidak, lebih baik aku mati juga, sudah cukup dan yang kau berikan sudah lebih-lebih padaku!"
"Kalau begitu sama, aku akan jadi hantu kalau kau berani menikah lagi, ahahahahahah." ibu jatuhkan kepalanya di dada ayah, kedua orang itu tergelak sampai terlelap bersama.
Hati mereka mendoakan yang sama, agar Baskara dan Aisyah, Saka dan pasangannya, juga Shafiyah dengan pasangannya kelak menjadi keluarga yang utuh dan hanya maut yang memisahkan mereka.
***
"Yanda mau ketemu Nakula?" Aisyah lepas jas suaminya. "Malam-malam?"
"Hem, besok aku harus kerja, dia dan aku sama-sama punya waktu sekarang. Kamu masuk kamar, jangan ke luar!" emuah, dia sambar bibir itu sejenak.
__ADS_1