
"Pertanyaan macam apa itu?" ayah syok.
Kedatangan Baskara ke rumah hari ini, diam di ruang kerja cukup lama hanya untuk bertanya akan stamina lelaki.
Antara mau pingsan dan tertawa melihat anaknya memikirkan hal itu, Baskara tampak bingung, bisa juga anaknya ini merasa tidak percaya diri.
"Ayah, kan Ayah sudah punya anak tiga, pasti Ayah tahu bagaimana menyenangkan wanita, iya kan? Aku rasa hal seperti ini tidak tabu untuk aku dan Ayah bahas," ujar Baskara.
Ayah kibas-kibas tangan, ya dia malu kalau dibahas masa lalu, jelas itu membuat dia mengingat moment di mana masih sangat panas bersama sang istri.
"Tunggu, memangnya selama ini kau merasa bagaimana?" baiklah, dia akan membuka kelas konsultasi. "Jelaskan pada Ayah apa yang biasanya kau lakukan!"
"Harus se-detail itu aku menjelaskan?"
Heuh?
"Bukan itu, maksud Ayah ... apa selama ini kau tidak memikirkab kepuasan istrimu, hanya berlaku egois?"
Ah, sepertinya iya.
"Sama, Ayah juga begitu. Jadi, begini, Bas ... ego itu memang penting, tapi kembali lagi semua itu usaha, mau dikasih kapan, kita tidak tahu. Sebisa mungkin, waktu seperti itu, jangan sampai pikirannya hanya jadi dan jadi, itu stres, jadi lakukan saja waktu ingin ya ingin, waktu tidak ya tidak!"
Baskara manggut-manggut memahami apa yang ayahnya jelaskan dan mencoba mencerna lebih baik lagi, menjabarkan dalam versinya.
"Jadi, maksud Ayah, mau aku spontan begitu saja. Jadi, tidak memikirkan harus jadi anak?"
Ayah mengangguk, "Apa selama ini kau begitu?"
"Tidak, mungkin A-isyah yang memikirkan, kalau aku langsung saja, ingin ya ingin, kan Ayah tahu saling ingin, pria mana mungkin tahan melihat istri pakai handuk!"
"Ahahahahah, sama ya, kok bisa sama sih!" ayah lepaskan tawanya dulu. "Jadi, kau harus kendalikan Aisyah, jangan stres, buat saja, fokus membuat, semoga di tempat itu pikirannya bisa lepas, jauh dari orang yang membuat dia merendahkan dirinya, Bas. Sudah, hentikan percakapan ini, memalukan!"
Baskara ikut tertawa, dia bergegas menggulung lengan jaketnya, anak ayah satu ini sudah dewasa, butuh hal seperti ini untuk mengikat batin satu sama lainnya.
Dekapan ayah menjadi dukungannya, doa yang Baskara terima yang kemungkinan besar menembus langit, terlebih lagi kalau ibu yang merestui.
Tinggal mengatur pola pikir Aisyah, tidak boleh stres saja, menjauh dari toxic yang membuat dia merasa down terus.
"Kakak, kenapa lama di atas?"
"Sudah rindu?"
"Ahahahaha, iya rindu." Aisyah lingkarkan tangannya ke lengan Baskara.
__ADS_1
"Ayah mendoakan perjalanan kita lancar dan dia beri bekal, sudah salaman sama ayah tadi?"
Aisyah mengangguk, dia bahkan sudah mendapatkan usapan di kepala dari ayah, pria yang jauh lebih garang dari suaminya, kekalahan ayah hanya pada ibu saja.
Dua maid rumah itu sudah menurunkan banyak persediaan yang Baskara dan Aisyah butuhkan, ibu yang mengaturkan semuanya.
"Di sana itu jauh dari mana-mana, jadi kalian harus membawa bekal sebanyak ini, kalau Ais ke luar sendirian kan kasihan meskipun di sana ada pedagang sayur keliling!" ibu tidak mau anaknya kerepotan nantinya.
"Tapi, kan Bu ... biar Ais punya teman banyak, ibu-ibu desa yang suka bikin bakwan kubis!" Baskara rangkul ibunya.
Ibu sikut perut Baskara, "Ya, belanja sekadarnya, pokok yang Ibu siapin ini harus dibawa ya, kalau sudah badan capek, sudah tidak akan bisa memikirkan hal itu!"
"Capek apa?"
Ibu melirik Baskara yang pura-pura tidak paham, satu sikutan dia dapatkan lagi, doa ibu bersamanya, selalu bersamanya.
***
Ssstt!
Aisyah bekap mulut suaminya yang endak bersiul, kalau saja dia bisa menghentikan siulan burung di teras rumah, pasti akan dia lakukan, sayangnya dia tidak bisa.
Dia bergeleng sembari mencubit hidung Baskara, berlari ketika suaminya menajamkaj mata dan endak membalas.
"Jangan berbohong lagi, Ais janji tidak akan ada beban di sana, ya Kak?"
"Hem, kita akan menjadi orang baru di sana. Kamu siap?"
Aisyah mengangguk, semalam suaminya tak sengaja membahas masalah bulan madu dan hal itu membuat Aisyah tahu sebenarnya di desa sana tak ada pekerjaan yang suaminya lakukan selain berfokus pada kegiatan baru dan berbulan madu.
Bukan pantai atau hamparan bukit yang indah, melainkan sebuah rumah di pedesaan yang masih sangat asri, harapan mereka ialah selain menyegarkan mata dan bisa berbulan madu untuk kelengkapan keluarga, tapi juga untuk lebih mensyukuri apa yang mereka dapatkan sekarang.
Kesusahan mencari apa yang mereka mau di sana, ayah dan ibu harapkan bisa melatih keduanya menjadi lebih ikhlas lagi. Melihat di sana pasti banyak orang yang jauh dari apa yang mereka dapatkan.
"Kalau ada gadis desa yang suka sama Kakak bagaimana?"
"Aku bilang kalau aku sudah beristri."
"Kalau dia nekat?"
"Aku bilang kalau aku cinta mati sama istriku."
"Kalau dia tidak mau kalah dan lebih dari istrimu?"
__ADS_1
"Aku bilang kalau aku tidak peduli."
"Kalau istrimu cemburu?"
Baskara menoleh sambil tersenyum, "A-isyah, sungguh kamu yang paling tahu apa yang aku lakukan kalau istriku cemburu," jawabnya.
"Ahahahahahah, aaaauuunggg, aaauuunggg!" Aisyah gigit bahu Baskara.
Dia jadi suka menggigit sekarang...
Satu mobil yang biasanya sangat longgar, kini terlihat sangat penuh, kabarnya di sana nanti mereka juga masih harus membeli beberapa perabotan, tentunya berbeda dari perabotan di rumah ini.
Beruntung di sana ada salah satu adik kakek Baskara yang menetap, setidaknya ketika ayah lepaskan keduanya, masih ada yang bisa mereka andalkan untuk keselamatan keduanya.
"Mamang sama Bibik tidak ikut?"
"Tidak, Non. Hati-hati ya, kami tunggu Non sama Tuan di sini, cepat kembali ya!"
Aisyah mengangguk, mobil yang ada di depannya itu melaju lebih dulu, dia dan Baskara masuk pada yang lainnya, sesuai rencana di mana Baskara mengajak istrinya menikmati jalur kereta api.
"Ini cukupkan buat nyamil di kereta selama 5 jam, Kakak tidak kurang?"
"Tidak, sayang. Nanti, kalau kurang, aku bisa beli di orang-"
"Hush, Ais bekalin sudah, jangan beli-beli, nanti Kakak kurang lagi, nasinya kalah banyak sama bawaan Ais!"
"Ahahahaahahh, mau berangkat sekarang, A-isyah?" Baskara takup wajah itu.
Aisyah mengangguk, dia cium tangan yang ada di wajahnya.
Ini babak baru perjalanan rumah tangga mereka, tak ada paksaan atau apa, yang ada hanya sanjungan cinta dan pengertian.
"Kak, katanya di sana dingin loh!"
"Kan, ada kamu. Justru enak kalau dingin, kamu sudah siap kan?"
Blush,
Aisyah merona, siap yang suaminya maksud adalah perjuangan mendapatkan buah hati, dia harus siap mengisi air di bak mandi setiap hari di sana.
Auh!
***
__ADS_1
Season 1 selesai, Season 2 otw jarinya buCil