Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Aku Juga Sedih


__ADS_3

"Ya, Ayah. Harus besok malam aku perginya?" terbangun tengah malam, tugas yang tidak bisa dia tolak. "Baiklah, apa aku pergi bersama Saka?" diam lagi. "Oh, dia sudah ke luar negeri rupanya, jadi aku hanya bersama Pian?" diam lagi. "Hem, tidak masalah. Nanti, aku tanyakan padanya, A-isyah sedang sholat malam seperti biasa," jelasnya sebelum mengakhiri panggilan.


Aisyah menoleh begitu namanya disebut, tadi dia pelan-pelan lepas dari lingkaran tangan sang suami, dilihatnya Baskara terbangun juga saat ini.


"Ayah mencariku?"


"Mencemaskan lebih tepatnya."


"Ada apa dengan aku?" bingung, duduk di tepi ranjang, dia pandangi wajah bantal suaminya itu.


"Besok sore, aku pergi ke luar kota, A-isyah. Aku di sana lebih dari tiga hari, ayah pikir kalau kamu kesepian di sini, untuk sementara menginap di rumah ayah, semua terserah kamu, saja, lebih memilih di sini atau di rumah ayah, hem?"


Dengar dan lihat, jangan salahkan Aisyah bila dia selalu mengambil jeda saat berbicara dengan Baskara, di luar sana suara pria itu sangat tegas dan cenderung mencekik lawan bicaranya, sedang saat berdua begini, tak urung mengalahkan sejuknya embun, belum lagi sorot matanya itu.


"Mau di mana, A-isyah?" ulangnya.


"Di rumah ini tidak masalah, Kak. Tapi, nanti aku akan berkunjung ke rumah ayah, bisa dua hari di sana dan hari terakhir sebelum Kakak pulang, aku kembali ke sini."


Baskara mengangguk, dia kabarkan itu pada ayahnya segera, tengah malam mereka masih harus siaga bekerja, menjadi petinggi bukan yang bisa seenaknya tidur, justru mereka jauh lebih banyak terjaga karena banyak hal yang harus diperhatikan.


A-isyah mau ke mana?


Kebiasan Aisyah sambil menunggu waktu shubuh tiba, dia akan turun ke bawah, membuat apa di dapur yang bisa menghangatkan tubuh, lalu kembali ke kamar dan membaca beberapa buku.


Begitu Aisyah kembali masuk ke kamar, Baskara pejamkan matanya, dia intip sedikit memastikan kesibukan apa yang Aisyah lakukan, wajah seindah rembulan itu tampak lebih indah dari apapun, sesekali Aisyah tersenyum dalam bacaannya, tapi juga dia menitihkan air mata.


"Kakak butuh sesuatu?"


"Iya, kamu."


"Hem?"


"Eh, ahahahahah, maksudnya ... kamu kenapa menangis, A-isyah?" hampir saja salah bicara.


"Ada bacaan yang menyentuh, Kakak mau ikut baca?"


Jangan mendekat, A-isyah. Kalau tidak, bisa-bisa waktu shubuhmu mundur karena aku ... ya, ampun pikiranku!


Aisyah beringsut mendekat, dia bawa buku itu, merangkak naik hingga duduk tepat di sisi Baskara, lututnya sejajar dengan kepala Baskara.


"Lihat ini!" pintanya, Aisyah tepuk kedua lututnya. "Kakak pindah sini kepalanya!"

__ADS_1


Waduh!


Baskara menurut, dia letakkan kepalanya di pangkuan Aisyah, sementara buku itu ada di depannya, suara Aisyah begitu ramah di telinganya, bisa-bisa dia terlelap di pangkuan Aisyah.


"Ahahahahaha, ini lucu kan, Kak!" Aisyah tertawa, dia yang membaca, dia juga yang tertawa.


Baskara mengangguk, dia tidak fokus sama sekali, ingin dia tarik wajah Aisyah hingga bisa dia cium bibir merah kecil itu, lalu dia habiskan sisa malamnya bersama Aisyah dengan penuh cinta.


Tapi,


"Dengar, sudah mau masuk waktu shubuh, jangan tidur ya!" ujar Aisyah begitu suara radio masjid terdengar sampai rumahnya.


"Iy-iya, A-isyah. Bacakan yang lain lagi, mana yang membuatmu sedih?" selagi, aku juga sedih ini.


"Oh, itu saat Nabi di perang-...." Aisyah kisahkan seperti yang dia baca, benar saja dia menangis lagi.


Aku juga mau menangis, A-isyah. Bagaimana aku mengatakannya kalau ... aku ingin, A-isyah?


***


"Kakak," panggil Aisyah kesekian kalinya. "Aku jemput saja kalau begitu!"


Sedari tadi tak ada jawaban dan suaminya itu belum juga ke luar kamar, padahal Aisyah ingat sudah menyiapkan semuanya, apa yang akan Baskara bawa ke kantor, bahkan isian tasnya sudah Aisyah periksa.


"Kak, ayo Ais bantu!" Aisyah berjongkok, dia endak memakaikan sepatu itu.


"A-isyah, aku mencintaimu."


"Hem?" Aisyah menatap bingung. "Kakak bilang apa?"


"Aku mencintaimu, A-isyah." dia usap pipi merah Aisyah lembut.


Ini bukan seperti suaminya, Aisyah kenal bagaimana sorot mata Baskara ketika dia di dalam atau di luar rumah, pagi ini berbeda, lembutnya tak seperti biasanya.


"Kakak lapar?" takut suaminya kelaparan.


Baskara bergeleng, dia tarik lengan Aisyah, membuat Aisyah duduk di sampingnya, lalu dia peluk dan sandarkan kepalanya di bahu Aisyah, seolah Baskara yang menjadi anak gadis di sini.


"Apa ada yang sakit?" Aisyah angkat tangannya, dia pijat sedikit punggung lebar itu. "Coba bilang ke Ais, ada apa!"


Baskara naikkan wajahnya, dia sejajarkan bibirnya pada telinga Aisyah.

__ADS_1


"A-isyah, apa aku akan kamu benci kalau aku menginginkan hakku atasmu?" dia benar-benar tidak mau Aisyah merasa tidak nyaman.


Aisyah jauhkan sedikit wajahnya hingga mereka saling berhadapan, jarak mereka sangat dekat.


Aisyah menggelengkan kepalanya sebagai bentuk jawaban atas apa yang suaminya katakan. Hak Baskara adalah semua yang ada pada dirinya, termasuk tubuh yang selalu dia tutup kain besar dan panjang itu.


"Kakak menginginkan hal itu?" tanyanya lirih seolah berbisik.


"Iya, maaf, A-isyah." sungguh, dia tidak mau melukai Aisyah karena perasaannya.


Aisyah tersenyum, dia dekatkan pipinya hingga bisa Baskara kecup.


"Bagaimana bisa aku tidak mencintai dan menolak apa yang Kakak inginkan, sedangkan Kakak begitu memikirkan dan menjaga perasaanku, hem?" dia tertawa kecil. "Kasihan sekali sih, mau bicara seperti ini saja sampai galau-galau, ahahahahah."


Walau malu, Baskara ikut tertawa juga, mau bagaimana lagi, ini jauh lebih sulit dibandingkan dia melakukan semacam razia, banyak ketakutan yang dia libatkan, semua jangan sampai melukai dan membuat Aisyah tidak nyaman.


"Aduh!"


Baskara jauhkan bibirnya, "Salah ya?"


"Kakak mau jadi drakula apa, kok digigit lehernya?!" gosok-gosok, panas dan perih, mau marah juga mau tertawa. "Coba lagi sini, tapi jangan pakai gigi ya!"


"Iya." menurut, seketika jadi anak ayam.


Tuk!


"Salah lagi ya?"


"Ahahahahahahah, lihat giginya sini!"


Eh, beralih profesi menjadi dokter gigi, mengulur waktu sarapan dengan menjadi pasien dan dokter gigi pribadi, Aisyah buka mulut suaminya dan melihat bagaimana gigi depan Baskara.


"Aubuwandlakula!" aku bukan drakula, maksudnya.


"Tapi, kok gigit leher, Kakak titisan apa?!" masih operasi gigi.


Acara sarapan mundur satu jam lamanya, sepulang dari dinas, Aisyah berjanji akan menunggu Baskara di kamar ini, memberikan apa yang menjadi hak suaminya, pagi ini jadwal sudah banyak yang mundur, lagipula Baskara harus segera pergi sore nanti.


"Non, itu kenapa lehernya?"


Ups, Aisyah naikkan lagi tangannya.

__ADS_1


"Ehehehe, kena kuku Ais, Bik. Kukunya panjang-panjang ini!"


__ADS_2