
Saka lirik kantong putih yang Baskara bawa, dia sembunyikan ke saku dengan cepat, melirik Saka sedikit mencoba menyembunyikan obat warna-warni itu.
"Itu pil KB kan, kenapa Kakak seperti membawa peluru saja?!"
Baskara keluarkan lagi, "Ini aib bagi pria yang membawanya, aku mau A-isyah hamil anakku lagi, tapi dia belum mau!" bibirnya melengkung, mengadu pada Saka.
Plak!
"Hentikan sudah, kan sudah ada jadwalnya dari Sofi, Kakak harus sabar, aku dan Arsy baru menikah loh!" Saka sudah menyetujui urutan yang Shafiyah buat.
"Kau tidak tahu bagaimana kalau wanita hamil itu bermanja, aku rindu istriku begitu-"
"Aku yang akan bilang ke kak Ais masalah manja itu, aku yakin dia akan memanjakanmu, jangan macam-macam menyalahi urutan kita ya!" Saka angkat dagunya, menantang sang kakak yang mau menyerobot gilirannya. "Kak Bas sudah dapat jatah satu, aku masih proses buat, itupun pekerjaanku banyak, kadang aku berhenti dulu demi menerima telpon, jadi jangan macam-macam!"
Baiklah, Baskara putuskan membawa bungkusan obat itu pada Aisyah, janji tetaplah janji, lagipula dia juga setuju kala itu, mendadak saja mau istrinya hamil lagi, lucu Aisyah kalau gemuk sambil menggendong Rasyah.
Hanya sebuah senyuman yang Baskara berikan pada ibunya saat memasuki teras rumah, wanita itu padahal mau menanyakan soal stok frozen di kulkas, biasanya kalau Baskara di sini, dia yang memegang kendali isian kulkas.
"Ibu jangan cemas padanya, kakak mau kak Ais hamil lagi, mau dia sembunyikan obat KB-nya tadi!"
"Apa, ahahahahahah, dia mau Aisyah hamil lagi, ya ampuuunn, beda sekali dengan ayahmu, hamil Sofi saja harus meluluhkan hatinya lama, kakakmu sudah mau saja, Rasyah masih guling-guling, ahahahahah ... Saka jangan keburu, nikmati saja, nanti Arsy stres kalau diburu soal anak loh!" tutur ibu.
Saka putar bola matanya jengah, bukan dia yang memburu, melainkan dia yang diburu, istrinya itu kalau tidak bisa tidur selalu membuat acara yang mampu menggagalkan kantuk Saka, panas bersama akhirnya.
Pernah suatu pagi, Saka asik mandi dan menikmati aroma sabun barunya dari sang adik, mendadak Arsy menyerobot masuk, ikut mandi dan menempel padanya.
Kalau pusakanya tak bangun, dia pasti dijuluki pria tidak normal, jelas melihat tubuh Arsy yang basah, Saka ingin menari bersama.
"Ahahahahahahahah, kamu ini!"
"Buuuu, istriku dulu doyan apaan sih, sampai dia begitu kalau sama aku, hah?" dia pun tertawa akan tingkah Arsy.
__ADS_1
"Tapi, kamu suka kan kalau Arsy goda gitu?"
"Hmm, iya."
"Soalnya dia tahu, dia tahu banget soal kamu, Saka. Kalau kamu sudah fokus sama kerjaan, terus tidak dipancing perhatian, kamu bisa lupa kalau ada Arsy yang harus kamu peluk-peluk, cocok tuh kamu dapat Arsy, dia tidak menunggu kamu senggol-senggol, dia yang nyenggol!"
Benar, apa yang ibu katakan sangat benar, Saka kalau sudah membidik pekerjaan, dia akan fokus di sana, tetap menyapa Arsy, tapi tidak senggol-senggol, sedang di sini Arsy melangkah lebih dulu, menjadi alarm Saka.
Biasanya para pria akan menyerang lebih dulu, tapi ada juga yang tipe seperti Saka, kalau tidak diserang, bisa sampai larut dalam pekerjaan.
"Arsy bakal aneh nggak sih sama aku, Bu?"
"Dia paham sama kamu, kalau diserang langsung siaga kan?" ibu mau menyemburkan tawa, tapi dia harus menjadi tempat berkeluh kesah anak-anaknya.
Saka mengangguk tegas, jangankan diserang yang frontal, baru Arsy bermain di dadanya saja, pekerjaan hilang dari pikirannya, harus disentuh Arsy dulu.
Dek Arsy jadi harus aung-aung, nggak takut Bang Saka kepincut cewek lain!
"Baaang, kapan jadinya balik ke luar negeri?" Arsy melenggang masuk, menyapa suaminya yang sejenak dia tinggal ke dapur bersama ibu mertua dan Sofi. "Mau Arsy siapin gitu kira-kiranya apa, Bang. Kamu kasih tahu aku ya kalau mendekati harinya!"
Saka mengangguk, dia ulurkan tangannya hingga Arsy raih dan berputar mendekat padanya, dia cium dan kecup area wajah Arsy, membuat istrinya itu terkekeh geli dan minta ampun, wajahnya jadi basah semua.
Minggu depan mereka akan kembali ke tanah seberang, meninggalkan rumah yang ramai di sini dan berteman dengan sepi di seberang sana, Saka tak sendiri lagi atau mungkin tidur bersama teman yang lain.
Unit menyepinya akan ramai setelah ini, Arsy akan menetap bersamanya, kemungkinan kalau kedua orang tua Arsy mau, Saka akan menempati rumah keluarga yang ada di sana, untuk sementara hanya berdua.
"Abang tumben cium-,cium gini?"
"Kamu merasa terganggu?"
Arsy bergeleng, suaminya berbeda saja, biasa kan dia yang uyel-uyel sampai sang suami gemas dan terpancing, tapi sekarang berbeda Saka lebih dulu menciuminya.
__ADS_1
"Abang takut kamu ngerasa aneh, padahal aku tidak seperti yang kamu pikirin, aku mau dekat sama kamu, cuman ya begini, agak kaku!"
"Ya ampun, Bang. Tidak pernah ada pikiran gitu loh, Arsy tuh suka godain kamu, gatal kalau diam saja, jadi pas kalau Abang yang hobi kerja bertemu aku, karena aku sama sekali tidak hobi, aahahahaha ... Abang kerja, aku yang jadi penyemangat, nari di depan kamu, terus kamu ikut nari sampai basah semua!"
Saka tergelak, "Abang kira, kamu nilai Abang bukan pria normal!"
"Ahahahah, kalau tidak normal, mana mungkin Arsy sampai cakar-cakar gitu, hem?"
Sungguh, Saka tergelak sekali lagi, awalnya dia takut sang istri merasa aneh atau mungkin tak enak hati, merasa kurang puas dan lainnya.
Namun, pemikiran Arsy jauh berbeda dari pendapat Saka, penerimaan yang apa adanya dan pengertian yang ringan.
Kini, Arsy duduk di pangkuan Saka, membuat suaminya meletakkan benda pipih yang terus berkedip, pekerjaan suaminya banyak sejak ayah tidak ada, dia memegang penuh tanggung jawab itu, Arsy cukup paham suaminya kalau sudah bekerja bisa fokus pada satu titik itu saja, orang di sekitarnya terkadang tidak dianggap, bukan tidak sayang, hanya saja itu sudah hal yang melekat pada Saka.
"Bang, panas!"
"Ahahahahah, katanya capek?"
"Kamu itu suka diam, tapi kalau sudah dibakar gini, kamu bikin aku kalah!" jawab Arsy, wajahnya berubah sendu, tidak mau diciumi saja. "Abang sayang sama kamu, Sy!"
Arsy membuka matanya, "Arsy ya sayang, sayang banget, dan cuman aku yang sayang!"
Saka sambar bibir itu, "Tidak ada lagi, cuman kamu. Jadi, sekarang kerja sama hape atau sama kamu?"
"Lebih enak sama aku atau hape?" balas Arsy berkedip genit.
"Kamu, boleh minta yang lebih, Sy?"
Kedua kaki Arsy melingkar ke pinggang Saka, dia lantas berbisik, "Arsy ya mau yang lebih, ayo buat adek yang banyak, Bang!"
Kedua alis Saka terangkat, dia berjanji akan mulai membagi fokusnya, dia tidak mau Arsy terus yang memancing, dia harus bisa lebih dari Arsy.
__ADS_1