Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Mandi Terus


__ADS_3

Jadi, apa dia parno selama ini akan kerja dan hubungan romantismenya?


Karena dengan alasan apapun, setelah dia menghubungi Arsy, justru membuatnya bersemangat ketika bekerja, dua hari serasa cepat bagi Saka hingga dia sudah duduk di balik kemudi dan endak kembali.


Senyum pria tampan tanpa mantan dan pesaing bagi Arsy itu kian melebar, dia tak sabar bertemu sang istri yang kabarnya akan mandi besar hari ini.


Akankah bila dia tiba, akan mengajak Arsy mandi berulang kali?


Gila, dia harus mempunyai anak segera dengan gadis meriahnya itu, terbayang di rumah megahnya ada suara anak kecil yang memekik telinga hingga membuat dia kerepotan dan senang dalam satu waktu.


"Abang pulang, Sy ... kangen sama kamu!"


Saka mulai menjalankan mobilnya, beberapa jam akan lebih cepat karena hari pun tak terasa sama sekali, kalau tahu begini nantinya dia tak akan sungkan menghubungi istrinya dikala ada waktu senggang saat bekerja, Saka jamin itu karena dia semakin bersemangat nyatanya.


Tak lama pesan cinta dari sang istri telah dia terima, banyak tumpukan email dan pesan ibunya juga, senantiasa Saka balas karena yakin wanita itu tak sekuat Arsy yang menunggunya.


bu, nanti aku balik bawa anak, ehehehehe.


Saka berencana semua proses hamil dan persalinan ada di negara ini hingga Arsy tak perlu melakukan penerbangan jarak jauh selama hamil, anaknya pun akan dia kenalkan tanah air, nanti bila sudah dirasa cukup.


Lagipula, kakak tertuanya bila ada kunjungan ke sini, dia pasti mengajak serta sang ibu dan adik, mereka akan sering berkumpul nantinya setelah jalan proses usaha Saka berjalan baik di sini.


"Ya, Sayang. Abang di jalan, nanti hubungi lagi ya," balas Saka.


Arsy mengangguk di seberang sana seolah melihat Saka dalam jarak dekat saja, rambutnya sudah dia keringkan, siap untuk test drive bersama sang suami nanti, semoga Saka tak lelah.


Perlu Arsy ingat kalau Saka lelah, yang ada mereka akan terkapar bersama dan rencana tanam benih akan gagal sebelum dimulai.


Ya ampun, kan masih banyak hari sih!


Arsy menepuk kepalanya sendiri, dia pun terkekeh membayangkan sang suami pulang dan dia nanti malam memakai seragam dinas halal itu, sudah dipastikan Saka dengan wajah kakunya itu memerah padam.


Bukan marah, tapi lapar minta dikenyangkan dengan cara yang spesial.

__ADS_1


"Sabun mandi udah aku isi penuh dan dipastikan wangi, apa perlu aku kasih kelopak bunga mawar?" Arsy bergumam sendiri, dia tengah berdiri di antara kamar dan kamar mandi, semua serba wangi, kurang bunga mawar saja. "Eh, nanti aku cek ulang ada durinya nggak, kasihan senjatanya Abang kalau kena duri, kan sakit mengecil nanti, eheheheh."


Arsy melenggang untuk memilah satu keranjang kelopak bunga mawarnya, jangan sampai ada yang berduri atau mungkin masih lengkap dengan tangkai, salah sekali saja bisa dipastikan dia dan Saka tak akan tanam benih selama proses pengobatan.


"Ahahahaha, kasihan kalau abang kenak kayak gini, nanti merah jamurnya, ahahahah, aduh perut aku sakit bayanginnya, abaaaang, maaf ya!"


Arsy bergulung, ada sekitar tiga buah yang dia temukan masih ada tangkai kecil dan duri, dasar dia saja yang tak mau dipilihkan penjualnya, mau ambil dan petik sendiri, jadinya sial begini.


Kira-kira sampai Saka pulang, satu keranjang itu akan selesai.


Semangat Arsy!!


***


Saka berjalan dengan langkah lebar menuju teras rumahnya, senyum merekah terpampang nyata, bahkan sebelum dia gapai pintu sudah terlihat jelas bagaimana wajah cantik meriah itu menyambutnya.


"Abang," sapa Arsy sambil menjentikkan jemari telunjuknya, mengarahkan Saka agar bergegas ke kamar mandi, dia harus membersihkan diri lebih dulu sebelum saling memeluk. "Buruan!"


Arsy terkikik melihat, hampir saja Saka terjungkal karena godaannya, pria itu akan terjebak dalam cintanya, sungguh.


ARSY!


Mata Arsy melebar begitu suara teriakan Saka terdengar, dia cepat mengunci kamarnya, lalu melepas semua baju yang melekat pada tubuhnya.


Maid di rumah ini sudah diberitahu agar berdiam saja di rumah belakang, sedang penjaga di depan bergegas mengunci rapat pintu utama sebab Arsy telah mengkode dengan baik, suaminya pulang tak akan ada gangguan sama sekali.


Byur!


Arsy ikut menceburkan diri, kedatangannya segera disambut hangat oleh sang suami, pelukan hangat di tengah busa dan air penuh kelopak mawar itu membangkitkan gairah keduanya, Arsy memang paling bisa membuat suami kakunya hanyut dan terlena dengan pelayanan yang ada.


"Baaaaang, heh!"


Saka bangkit, dia tekan sedikit punggung Arsy, lantas mempertemukan dua titik kenikmatan itu, keduanya memekik bersama, air yang tadinya tenang sontak beriak hebat sesuai gerak keduanya, suara lenguhan itu saling bersahutan, tak ada yang mau berhenti sesuai dengan janjinya akan mulai menanam bibit unggul sampai jadi

__ADS_1


Tubuh yang hampir lemah itu Saka putar menghadapnya, masih di dalam air berbusa, dia sambut lagi dan membuat istrinya menjerit senang, girang.


"Abaaaaang, nggak kuat!"


Saka menyeringai tipis, dia mulai mempercepat semuanya hingga mereka menjerit bersama dan saling menangkap tubuh satu sama lain.


Nafas keduanya tersengal dan saling berebut stok oksigen yang terus menipis, Arsy sengaja jatuh dan menempel pada dada bidang berbusa itu, sesekali dia mencium hingga Saka memekik karena bukan hanya mencium, tapi Arsy menyesapnya kuat.


"Bekas merah, Sayang."


"Biar, biar Abang punya stempel terus ingat kalau hari ini pertama kali proses tanam benih, ahahahah."


Saka usap pipi lembab itu, dia kecup berulang kali saking gemasnya, tak lama gairahnya bangkit kembali dan itu semua karena Arsy yang terus menempel padanya.


Hati-hati Saka angkat tubuh pasrah itu ke luar bathup, dia ajak ke bawah shower dan memutar kram penuh, air jatuh ke tubuh mereka begitu deras, bahkan membuka mata saja sulit, bernafas pun masih dirasa susah.


"Abang!" Arsy lingkarkan kedua tangannya ke leher Saka.


"Hem, kamu harus tanggung jawab karena buat Abang nggak bisa berhenti, mandi terus pokoknya."


"Auh!"


Arsy blingsatan, ancaman mandi terus bukan bualan Saka semata, pria itu akan melakukannya dan membuat dia menyerah berulang kali, tapi tak dilepaskan.


Malam ini, akan banyak bibit unggul yang Saka tanam pada rahim istrinya, semoga mereka bisa bertahan sampai masa subur tiba, atau kalau tidak, akan dia isi setiap hari karena Arsy membuat darahnya mendidih.


"Abang, airnya, kenceng banget loh!"


"Biar kamu nggak bisa buka mata, wek!"


Arsy pukul bahu suaminya, dia sudah tak tahan, mau meledak sampai mencengkram bahu Saka kuat-kuat.


AAARRRRGHHHH!!

__ADS_1


__ADS_2