Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Kesepian


__ADS_3

Decapan nyaring terdengar dari keduanya, satu tangan Saka mengelus perut yang tengah kram itu perlahan, berharap bisa meredahkan rasa sakit yang ada.


Sungguh, ini pertama kali baginya yang sejauh ini hanya berhubungan dengan pekerjaan, berinteraksi dengan wanita sangatlah jarang, walau bisa dikatakan lebih lembut dari Baskara, nyatanya pemahaman soal wanita sangat minim di kepalanya.


"Udah enakan?"


Arsy melipat bibirnya yang basah, hanya lewat sentuhan pria itu saja berhasil membuat sakitnya sedikit berkurang, terlebih lagi Saka membuainya lewat ciuman dalam tak bercelah.


Katakan suaminya itu butuh kabel banyak untuk bisa paham, dengan satu sentuhan saja yang dia keluarkan berhasil membuat lawannya kikuk.


Jadi malu sendiri habis marah tadi, Arsy sembunyikan wajahnya ke balik kaos tipis sang suami, sementara Saka terkekeh akibat ulah gemas istrinya itu.


"Abang janji loh bakal ajak aku setelah ini!"


"Iya, Sayang. Abang janji bakal ajakin kamu, kerjaan Abang ya gini nggak bisa diem di rumah, nggak apa kan kalau seminggu lagi ditinggal, tapi kali ini sama maid!"


"Abang nggak lirik cewek lain buat itu-itu kan?"


Astaga, Saka cubit pipi Arsy sampai istrinya itu mengadu, baru dia layangkan kecupan di sana.


"Mana ada Abang kayak gitu, kerjaan Abang udah bikin pikiran dan tenaga terkuras, Sy. Nggak sempet dan Abang nggak minat sama hal begitu, tahu sendiri kalau sama kamu baru gila, itu pun kamu setrum dulu, eheheheh. Enakan belum perutnya?"


Arsy masih bergelayut, siapa yang mau melepaskan suami tampan seperti ini, belum lagi bertanggung jawab dan suaranya mampu menggetarkan rahim wanita, siap diajak beranak pinak.


Sayangnya bermodal sabar karena mencari waktu yang tepat bersama Saka tak semudah membalikkan telapak tangan.


Arsy kembali berkutat dengan kesibukannya sebagai ibu rumah tangga, sedangkan Saka menunggu maid yang sudah keluarganya siapkan untuk mereka, semua aturan akan dia katakan hari ini karena sudah tak ada waktu lagi, dia harus pergi hari esok dan kembali setelah satu minggu, tepat saat Arsy sudah siap dia puaskan.


Arsy sedikit memicing, biasanya ada pria yang tak tahan, bahkan biasanya yang dia dengar waktu kerja, ada yang meminta bantuan lain dari istri mereka dengan apa saja, termasuk tangan dan mulut. Tapi, suaminya tidak, biasa saja seperti tak ada gairah yang menggerogotinya, ingin Arsy panaskan saja, geregetan sendiri.


Saka normal, kan?


Ah, gairah setiap orang memang berbeda, terlebih lagi Saka punya pekerjaan yang padat, memikirkan hal jorok pun tak sempat, yang ada mau menggilas para pemburu kecurangan.


"Sayang, ke sini bentar, Abang mau ngomong sama kamu!"


Arsy buru-buru mencuci kedua tangannya, siapa tahu diajak yang itu-itu, biar saja pikirannya kotor, di rumah hanya berdua, lalu dingin, apalagi yang bisa mereka kerjakan kalau bukan saling menjerit hebat.

__ADS_1


Plak!


Arsy, berhenti berpikiran kotor, suamimu kerja!


Arsy melongo ke ruang kerja, suaminya tampak melambaikan tangan dan menepuk paha, minta Arsy duduk di pangkuannya sebelum ada maid yang akan datang.


Hup!


"Abang mau ngomong apa sama aku?"


"Emmm, nggak cuman alesan aja biar kamu ke sini, eheheheheh. Buka bajunya!"


Eh, Arsy silangkan kedua tangannya spontan.


"Abang nggak mau uji coba tembak ke aku, kan?" takut loh, seram.


Saka tergelak kencang sampai Arsy ikut terguncang, dia mau bermesraan dengan sang istri, tapi karena dia kaku, membuat Arsy menciptakan pemikiran yang bercabang.


"Bang-"


"Mau ini loh!" Saka tunjuk bukit kembar itu.


"Apa coba?" tangan sudah menelusup masuk, mulai beraksi.


"Arsy, Abang mau nen!"


Heuh!


Dor!


***


Saka kecup kening itu kesekian kalinya, meninggalkan Arsy memang hal berat untuk saat ini, terlebih lagi mereka itu pengantin baru dan Saka sendiri di sini, kerabat cukup jauh, belum lagi orang tua ada di tanah air, negara yang berbeda.


Mau tidak mau dia percaya sepenuhnya pada sang istri, walau dalam hatinya kelabakan memikirkan apa saja yang terjadi, dia berusaha tenang, wajahnya mungkin biasa saja, tapi hatinya yang sulit diungkapkan itu menyimpan banyak kekhawatiran pada sang istri yang aktifnya minta ampun dan tentu saja sulit dia mengerti sebagai pria pekerja keras.


"Sayang, jaga diri baik-baik. Kamu bisa hubungi nomor sepupu kalau jenuh dan ajak mereka main, tapi inget harus kirim aku pesan, meskipun nggak aku bales. Ada jam malam dan aku lebih izinin kamu keluar siang, oke!"

__ADS_1


Arsy mengangguk, dia peluk sekali lagi tubuh besar dan padat suaminya itu, mau menangis dia tahan, tak mungkin mengantar suaminya bekerja dengan linangan air mata.


Tatapan mata dalam dan tajam itu mulai terlihat, Arsy usap pipi berbulu suaminya itu, dia kecup singkat.


"Abang jangan cukuran ya, eheheheheh, Arsy lagi suka banget Abang jantan begitu!"


"Emang selama ini Abang betina?"


"Ahahahaha, nggak gitu, kalau ada rambutnya itu lebih garang aja, hot!"


Astaga, untung Saka mau kerja dan Arsy datang bulan, kalau tidak pasti ada adegan merintih di depan dua pekerja rumah Saka itu.


Sebagai ucapan perpisahan kali ini, Saka peluk berulang kali dan mengusap perut yang masih kram itu, dia berikan usapan yang lembut dan mendoakan istrinya agar sabar juga sehat.


"Abang kabari kalau udah sampe, setelahnya suka-suka Abang. Jangan selingkuh, Arsy punya anjing galak!"


Saka terkikik di dalam mobil, dia melesar bersama supir pribadinya dari kantor yang biasa ikut bekerja, baru setelah Saka menjauh, Arsy luruhkan air matanya, dia sesenggukkan, berpisah dari suami memang menyakitkan, malam hari harus dia lewati seorang diri tanpa ada yang mengusap dan memeluknya, berbagi cerita pada guling dengan aroma sang suami.


"Non, udah ayo masuk, kita masak aja yuk!"


"Masak apa? Arsy pengennya mau masak kalau dimakan abang, tapi abangnya nggak ada, kerja, huaaaaaah!"


Maid dan penjaga itu sontak saling pandang, bingung, tapi sebisa mungkin mereka mencari solusi agar nonanya bisa semangat kembali.


Dua orang berpegangan kuat membopong Arsy masuk, berinisiatif menghubungi sepupu yang bisa menghibur nonanya, tapi tetap saja Arsy masih enggan, berharap suaminya saja yang menghubunginya.


"Non, ayo makan, ini saya buat sambal terasi enak, bawa dari sana, eheheheh."


"Ka-kamu bawa asli sana?"


"Iya, Non. Mau coba?"


Arsy mengangguk, tapi begitu dia makan, dia justru semakin kencang menangis, moodnya benar-benar buruk, ingin rasanya ikut bekerja, takut juga mendengar suara orang adu tembak.


"Non, nanti abangnya pulang kok, seminggu aja ya ...."


"Bibik nggak tahu rasanya kesepian."

__ADS_1


"Lah, saya udah janda loh, Non. Kesepian banget, ahahahahah."


Eh,


__ADS_2