
"Bas, bilang sama Ais ya, ini kok dikasih banyak si Rima, jadi repot banget dia bongkar lemari pasti ya?"
"Tidak, dia punya banyak, lagipula dia semakin gemuk di sini, jadinya banyak yang tidak muat." Baskara ledek Aisyah.
" Ya sudah, terima kasih banyak ya, Rima itu memang kalau dikasih tahu susah, giliran Aisyah yang kasih tahu, patuh dia. Aku tawari gini tadi, mau ganti ibu ke kak Ais, eh dia ngangguk!"
"Ahahahahaahh, nanti aku sampaikan ke A-isyah, dia sibuk zumba sekarang."
"Heh, zumba di mana? Ada yang buka zumba di desa begini?"
"Ngepel lantai, ahahahha."
Brak!
Aisyah yakin ada telfon yang melayang di rumah Rima, suaminya itu memang suka sekali menggoda, orang tenang-tenang dan sudah senang dikiranya ada senam dan zumba di desa seperti ini, dihancurkan harapannya.
Yang Aisyah bawa bukan karpet untuk senam atau mungkin dia membawa sepatu bersiap dengan gerakan yang merontokkan lemak. Tapi, yang dia bawa hanya sekadar alat pel dan ember, ingin dia pel sekalian kaki suaminya yang suka meledek itu.
"Besok aku mau ke luar sebentar, A-isyah."
"Bukannya kalau akhir pekan, Kakak di rumah. Mau ke mana?"
"Ke pasar, beli ikan besar, aku mau membuat ikan bakar!" kedua tangannya melebar.
Sejak pindah ke sini, Aisyah hanya khawatir, nanti bila mereka telah kembali ke kota dan suaminya kembali bekerja sambil membawa tembak, tangannya kaku, di sini bukan senjata begitu yang Baskara bawa, melainkan pisang satu tundun, beberapa ikat pari dan kacang-kacangan, umbi-umbi. Cemas salah bawa senjata, pisang dikira pistol.
Sering kali dia bertanya sebelum tidur, suaminya hanya menjawab, tenang saja, keahlian tak akan pudar.
"Kakak, sampai kapan kita di sini?"
"Hem, tidak tahu, bisa jadi satu bulan lagi. Kenapa, kamu rindu kota atau sudah bosan di sini?"
"Tidak, kan Kakak punya tanggung jawab di sana. Jadi, apa tidak menunda banyak pekerjaan?"
"Ada Saka dan ayah, sekarang yang teman lamaku juga mulai bergabung, dia sedang belajar dengan paman."
"Aku takut kalau ini mengganggu-" Aisyah terdiam.
"Tidak ada, kemarin kamu takut aku tidak bisa membedakan pistol dan pisang atau ketela, sekarang kamu takut ini mengganggu pekerjaanku di sana, apa kamu tidak takut kalau di sana suamimu lebih ganas, hem?" Baskara cubit pipi itu.
__ADS_1
Aisyah tertawa, ya memang suaminya lebih ganas di sana karena rumah mereka tak akan menerima tamu sebanyak di sini, sekalinya bertemu dan ingin, langsung saja bisa Baskara lancarkan, di sini harus memastikan tidak ada yang datang dan kebanyakan malam sampai batas matahari terbit, waktu Baskara hanya itu.
"Apa masih sama?"
Baskara mengangguk, "Cintaku di sana dan di sini ke kamu masih sama, jangan ditanya setinggi dan seluas apa," jawabnya.
Kan, Baskara pandai merayu di sini, beruntung hanya Aisyah yang dirayu, bukan gadis desa yang suka mengucir rambutnya dua atau satu lalu dijulurkan ke depan.
Emuah,
"Ais sayang sama Kakak, gemas lihat wajahnya tetap putih, kan di sini panas!"
"Aku yang gemas, lihat kamu makin widiiiihhhhhh!"
Plak!
"Widih apa?"
Baskara bersiul menggambarkan tubuh Aisyah, hanya dia yang tahu, jadi dia bangga. Sementara Aisyah langsung lari mencari timbangannya, dia harus memastikan pulang ke kota, tak membuat ibu dan ayah mertuanya syok, masa iya dia pulang se-besar induk sapi.
***
Belum, dia hanya berniat.
"Kenapa tidak boleh?"
"Bagus rambut panjang, sayang."
"Tapi, nyucinya susah."
"Aku yang bantu cuci besok, ahahahahah, aku berangkat sama bapak-bapak yang lain dulu ya. Jaga diri di rumah baik-baik, jangan terima tamu kalau bukan ibu-ibu sebelah!"
"Iya, nanti aku telfon Kakak kalau ada yang ketuk rumah."
"Kamu mau aku pulang bawa apa?"
"Cintamu," jawab Aisyah cepat.
Ah, kalau begini, siapa yang mau pergi kerja, kalau bukan karena teller bank yang melambai-lambai mendukung setoran, Baskara pasti sudah menggendong Aisyah dan mengunci rumahnya, tidak terima tamu.
__ADS_1
Yang benar?
Baskara terkejut, baru saja kemarin dia bertemu dan makan sate bersama, sekarang terdengar kabar kalau salah satu teman kerja mereka masuk ICU.
"Langsung, Bas. Malam katanya si mbok itu, kan mandi jam sebelasan, terus teriak, jatuh. Sudah, dokter bilang itu serangan jantung bisa, terus jadi stroke!" ungkapnya. "Makanya, kalau mandi itu lebih baik diatas jam dua belas, habis isyak itu jantung waktu aktif mompa darah, lagi kencang-kencangnya kerja, kena air dingin, nyetrum!" sampai melotot menjelaskan.
Baskara manggut-manggut, selama di sini dia mandi ya paling telat udai adzan maghrib, selebihnya tentu diatas jam satu pagi, lebih sering mau subuh sampai habis shampo banyak.
"Kapan kita ke sana? Saya ada mobil, silakan kalau mau barengan ke rumah sakit, Bapak-bapak!" cetus Baskara.
"Kita tunggu kabar berikutnya saja, kan ini masih di ICU, jadinya belum bisa dijenguk, mungkin ibu-ibu saja, Bas. Minta tolong dek Ais buat ajakin ibu-ibu ya!"
Dek Ais, hilih, kalau bukan bapak-bapak satu geng, sudah Baskara giling sama gilingan pari.
"Iya, nanti saya sampaikan, Pak."
"Iya, biar ibu-ibu ke rumahnya, kirim sembako atau apa, perhatian yang penting, kan masih ada anaknya itu yang kecil, butuh apa atau apa, tolong ya, Bas, bilang ke dek Ais!"
Lagi, dadanya sudah sesak, selama ini dia memanggil nama pada Aisyah, terkadang 'sayang'. Bapak-bapak di sini lebih jago manggilnya, Dek Ais.
Grrrrrr!
Masalah mandi sampai dibahas berjam-jam, bahkan saat mereka memisahkan beras dengan kulitnya, masih saja membahas jam yang tepat dan kesehatan jantung.
Baskara menemukan hal baru yang sangat banyak di sini, kekompakan mungkin dia temukan juga di keluarganya, tapi bekerja seenak kepalanya yang tidak dia tentukan.
Datang, makan gorengan, minum jahe hangat, ada yang rokokan, ada yang bahas tikus dan nyamuk di rumah, ada yang lari ke kali buang hajat, angin semilir dan hangatnya mentari juga jarang dia temui di kota, jadi bimbang mau kembali.
***
"Besok, katanya ibu-ibu mau ke sana, tapi malam ini ada yang perwakilan ke rumah bu Bima, kirim makanan buat anak-anaknya, Kak."
Baskara lipat tangannya, membiarkan Aisyah bersandar dengan rambut terburai di perut.
"Kalau begitu, jangan sering mandi malamnya, ya dijaga juga."
"Mana pernah aku mandi malam, malam waktu begitu, mandinya kan jam tigaan, kalau tidak minta lagi, eheheheh."
"Hush, didengerin tetangga loh!"
__ADS_1
"Ini kan tembok, sayang, bukan gedek!" lapisan kayu maksudnya.