
Shafiyah antrian pertama, dia membawa nama ayahnya hingga bisa mendapatkan akses cepat saat ini, menimang keponakan barunya yang sangat gemas dan lucu, yang katanya seindah rembulan.
"Ayah, berikan padaku, Rasyah-nya!" pinta Shafiyah merengek, kedua tangannya sudah siap, dia bahkan membawa gendongan sendiri yang nanti mau dia berikan pada Aisyah. "Sini, Ayah, berikan, aku mau gendong dek Rasyah!"
"Dia keponakanmu, bukan adikmu!" balas ayah, posesif pada cucunya.
"Iya, itu ponakan Sofi, aku Tantenya, sini biar Tante imut yang gendong Rasyah, sini!"
Akhirnya, ayah berikan meskipun hatinya berat, dia masih mau menimang cucunya itu, sedang dia tidak bisa menolak permintaan anak gadisnya yang mempesona itu, bagaimanapun Shafiyah adalah yang utama baginya.
Bayi itu tenang digendongan tante kecil yang imut katanya, mendecap dan memberikan senyuman kecil karena ocehan Shafiyah yang terus menggoda telinganya, tangan kecilnya pun membalas genggaman jari Shafiyah.
"Ayaaank, dedeknya lucu!"
"Iya, nanti anak kita juga lucu, Shaf!" Nakula yang terlembut. "Habis ini buat, eheheheh."
"Yang rajin kalau buat loh ya!"
"Iya, kan aku di sini sampe akhir bulan, bulan depan semoga sudah isi ya, aamiin."
"Aamiin, dedek kedua nanti datang, kakak Bas tidak boleh buat dulu, aku dulu, nanti baru kak Saka, baru kak Bas buat lagi, harus urutan!"
Ibu hampiri Kedua anaknya itu, seperti dunia milik berdua saja kalau sedang bersama, berbicara sesuka hati tanpa peduli yang lainnya masih menunggu giliran menggendong Rasyah.
Senyuman dan harapan keduanya ibu aminkan, semoga segera menyusul mendapatkan momongan seperti yang mereka harapkan. Namun, kali ini hanya saja mereka harus melepas bagian dari dedek bayi itu, yang lain menunggu.
Kejutan untuk sepupu yang lain adalah di mana Arsy dan Disa bertemu, gempar sampai ayah dan Baskara hanya bisa memejamkan mata, dari kutub utara sampai selatan seakan berada di bawah pimpinan mereka.
"Mbak Disa tahu kan kalau ini buat ibu setelah melahirkan itu cocok?"
"Loh, memang bagus, Sy. Cuman lebih bagus ini, makanya waktu aku beli itu, sekalian aku beli banyak sambil lihat exp nya, kan lumayan kalau sampai tiga atau empat tahun ke depan, bisa buat Ais, buat Sofi, terus buat kamu, siapa tahu kamu langsung hamidun setelah ditembak Saka!"
Ingin Baskara usir saja kalau bukan calon dan istri dari saudaranya, Aisyah terus menahan emosi suaminya itu, masih saja terpancing kalau dua wanita yang satu tipe itu bertemu, Disa saja masih seperti kucing dan tikus kalau bertemu, sekarang ditambah Arsy.
"Ini aku terima ya dari kalian berdua, pokoknya akan aku pakai dan aku terima kasih sekali sudah sampai repot cariin barang ini, Mbak Disa dan Arsy!"
"Sama-sama, Ais. Biar kamu enakan habis lahiran, aku pengalaman tiga anak ke luar semua, tubuh tidak terlalu mekar, terus kaki tidak yang bagaimana gitu kan, rapet pokoknya!" berbicara sambil melirik Baskara. "Biar suami betah di rumah habis nifas, kalau dia mau lirik sana sini sih, Is, hemmm cubit saja ginjalnya!"
Duar,
Aisyah tertawa sambil melirik pada sang suami, istri sepupunya itu selalu saja membuat suaminya kehilangan mood dan ingin marah, tapi ya sebal yang tidak bisa diungkapkan, terlebih lagi di sini ada calon istri dari Saka, tidak lain sama dengan model Disa, harus Baskara biasakan berbicara dengan wanita itu.
__ADS_1
"Kak Baaaaas, dedeknya mau minum susu!"
"Eh, iya, sini sayang!" balas Aisyah sambil menepuk lengan suaminya. "Yanda, tolong, Yanda!"
"Iya, tunggu!"
Baskara lewati Disa dengan lirikan sinis, dikira Disa akan takut, justru sebaliknya ikut melempar lirikan sinis yang mengundang tawa semua orang yang ada di ruangan itu.
Hadiah dari Arsy menjadi yang spesial bagi Aisyah, gadis ini yang nanti menjadi teman berbaginya bersama Shafiyah dan saudara terbaik, walau suaminya sebal, tapi dia sayang.
"Arsy, duduk sini tidak apa, kan dedeknya belum kamu gendong, nanti kalau dia sudah selesai *****, kamu gendong ya, dia mau ikut lamaran makanya lahir duluan, ehehehehe," ungkap Aisyah.
"Iya, aku gemetaran dikasih tahu kalau Kak Ais masuk rumah sakit, padahal itu kita di rumah ricuh mau nata-nata, bang Saka sampai lupa nyari kunci mobil itu di mana, nyari keliling akhirnya telat ke sini, kebayang jadi ibu ya, Kak Ais. Arsy sepanjang jalan nangis!"
"Loh, kenapa nangis, Saka sakitin kamu?"
"Tidak, dia manis orangnya, tapi ya gitu kan kalau ada orang lahiran itu jadi kebawa emosinya, pasti waktu lahiran Kak Ais sama kak Bas nangis, aku jadi ikutan nangis!"
"Oh, ya ampun, kamu ini!" Aisyah tergelak sampai anaknya terkejut. "Maaf, Bunda maaf ya, minum lagi, Sayang!"
Saka perhatikan interaksi Arsy di sini, tidak salah dia mengajak Arsy, tidak ada yang menolaknya, dengan sangat mudah Arsy berkenalan di sini, sepupu pun menerima, mereka sudah mencanangkan mau mengajak Arsy ke sana-sini.
"Pamaaaan, Pamaan Saka ini, Dek. Atau mau dipanggil Om saja, hem?"
"Kak Ais ih, terserah mau dipanggil apa, kakak juga boleh!" menolak tua.
"Ahahahah, jangan nanti Yandanya tidak terima tua sendiri, jadi Om Caka saja ya, Dek Rasyah digendong Om Caka, Caka Dut! Ahahahah ...."
Arsy ikut menertawakan calon suaminya, mendapatkan cubitan berulang kali hingga dia duduk di lantai karena tak kuasa menahan tawa dan tangan Saka.
Ruangan VVIP itu menjadi sangat ramai dan banyak makanan, bergantian para sepupu datang dan memberikan selamat, belum lagi hadiah yang harus diantar supir ke rumah berulang kali, mereka mau memberikan langsung di rumah sakit sekalian mengerjai Baskara yang tidak suka ada barang menumpuk.
Ide brilian dari sepupu yang lain, Baskara bergabung dan berbincang lama di sana, sesekali dia perhatikan bayi kecilnya yang menjadi giliran, tapi pada akhirnya waktu tidur berada di ranjang tunggu bersama ayah atau kakeknya, tidak ada yang berani mengganggu selain Shafiyah, mau tidak mau ayah harus terima di ranjang itu ada Shafiyah juga, menidurkan bayi pertama di keluarga ini.
"Bas, cuti sampai kapan, kan kita ngeri kerja sendiri?"
"Paman kan bisa ajak yang lain, Nando itu atau sama Wira?!"
"Halah, ngajak mereka itu ribet, sekarang lagi mau ngerebut hatinya Nabila, tidak menyerah ditolak!" ungkap Yoga.
"Loh, bukannya Nabila sama Pian?" Baskara ingat pamannya satu lagi.
__ADS_1
Yoga berdiri, berjalan mendekat, "Memangnya dia siap jadi nenek langsung, Bas?"
Ah, iya juga, belum Baskara tanyakan, yang dia tahu kalau paman mudanya satu itu ada rasa pada Nabila, hanya saja malu, terus kalau Wira dan Nando, kalau mereka serius mungkin menangis itu kenalan mereka satu per satu.
"Pian ke mana ini, dia tidak datang menemui anakmu?"
Baskara bergeleng, mana dia tahu, dia juga tak meminta atau memaksa orang untuk datang ke rumah sakit, jadi ramai dan dikira orang mau pindahan saja ini.
"Jangan bilang dia lagi jemput dan rayu Nabila, hem? Dia apa ya mau saingan sama Wira terus Nando, pada sinting semua demi malam pertama!" oceh Yoga, kepalanya hanya malam pertama dan pertama.
"Ck, jangan mikir aneh-aneh, mereka itu akur!" timpal Baskara.
***
Persiapan acara lamaran Saka dan Arsy, sampai pada pengenalan Arsy di rumah ini akan segera berlangsung esok hari, sampai malam belum ada yang istirahat, kecuali ibu yang menemani ayah, pria itu tidak boleh terlalu lelah dan kalau istirahat harus bersama ibu, tidak mau sendirian.
Maunya ibu bisa membantu Aisyah merawat cucu pertama dan mengawasi mereka yang mempersiapkan acara Saka, tapi karena pinta ayah tak bisa dia tolak, mau tidak mau ibu harus ada di kamar ini.
"Jingga, lebih dekat!"
"Sudah ini, sudah tidak ada jarak. Cucunya mau dibawa ke sini tidak?" tawar ibu, sudah ada persediaan ASI yang bisa dia gunakan kalau cucunya menangis, lagipula Aisyah ada di rumah ini, dekat kamarnya. "Kalau mau, aku bawa ke sini biar Aisyah bisa pompa atau nata kamarnya, pasti dia kerepotan ditinggal Bas bantu-bantu, Sofi juga sibuk urusin persiapannya Arsy, mau?"
Ayah mengangguk, dengan langkah kecil dan cepatnya, ibu bawa ke kamar itu cucu gemas tampan yang sedari tadi ingin ditimang, sedang Aisyah masih mengganti pembalut dan lainnya, belum lagi bekas ompol dan rembesan pampers anaknya.
"Ini loh, Kek!"
Ayah segera duduk, memberikan bantal kesayangannya untuk cucu pertama yang tampan itu, suara kecilnya menjadi hiburan dan semangat ayah, sudah lama berkutat dengan pekerjaan, sampai lupa rasa bahagianya menimang seorang anak, ayah biarkan selimutnya pun menjadi penghangat cucunya itu.
"Dia tampan sekali sih, mirip aku, kan Jingga?"
"Iya, mirip kakeknya nanti kalau kerja, jusjusjus, gitu loh ... kata bundaku, waktu hamil aku suka nendang, Kekk, nanti ajarin aku ya, kayak yandaku!"
"Ahahahahah, tendangan berputar, tapi pinggangku sakit, Jingga!" sulit sekali menyebut istrinya itu nenek, tidak mau dianggap tua, sekalipun itu istrinya juga, biarlah tetap muda seperti ini. "Nanti, ada om, ada tantemu, yandamu saja sudah ahli menendang, semuanya menurun ke dia, kamu ya belajar ya, Syah?!"
"Iya, aku belajar nanti, aku kasih tunjuk nanti, Kek!" jawab ibu menirukan suara anak kecil.
Ayah kecup berulang kali, meminta bayi itu digeser ke tengah karena dia mau tidur sambil memeluk cucunya, sedangkan ibu tentu siaga, mengambil susu kalau cucunya mulai merengek.
Tepukan kecil tangan ayah di paha mini itu perlahan membuat Rasyah terlelap kembali, keduanya terlelap diwaktu bersamaan, ibu hanya bergeleng dan tersenyum melihatnya, suami dan cucu sama saja, sama-sama mau tidur kalau ada yang menemani.
"Wajahnya sih mirip Ais, namanya anak cowok, tapi Bas itu mirip kakeknya, bukan mamanya, nanti Rasyah jadi berubah mirip siapa ya, hem?" ibu ikut berbaring. "Mirip bunda ya, mau mirip sama bunda, Rasyah gantengnya bunda Ais ya, sayang."
__ADS_1