Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Jaga Diri Baik-Baik


__ADS_3

Arsy tatap dari bawah rahang tegas itu, tinggi badannya memang hanya sebatas bahu Saka hingga dengan berdiri menempel seperti ini membuatnya bisa mencium wangi khas pria itu, begitu nyaman di hidung dan ingin menempel terus.


Saka berdecak lirih, kemudian tawa kecil terdengar sampai kedua tangannya menggapai tubuh Arsy dan melingkar di sana.


Tidak, bibirnya tidak mendarat di wajah gadis itu, melainkan Saka hanya sekadar memeluknya.


"Jadi?"


"Jadi apa?" Saka ajak duduk lebih dulu sebelum mengantar Arsy pulang.


"Abang belum jawab aku loh, Abang cuman meluk aku, tidak menciumku. Apa itu artinya Abang menolakku?"


Saka tertawa sekali lagi, kemudian dia menoleh membawa tatapan sekaligus seringainya.


"Kan, aku minta bukti, Arsy. Jadi, bekerja keraslah sampai aku bilang suka padamu!"


"Ih, gitu!" Arsy cebikkan bibirnya, memalingkan wajah karena sebal.


Saka usak pelan rambut panjang yang Arsy kucir bak ekor kuda itu, membuat sang gadis menoleh dan masih mempertahankan wajah sebalnya, senyuman Saka memang tak bisa ditolak, menular pada gadis di sampingnya ini.


"Jangan tawarkan bibirmu atau semua yang ada di tubuhmu pada orang lain!"


"Kenapa?"


"Aku tidak melakukannya karena aku menghormatimu, menjaga kehormatanmu!" tegas Saka.


Arsy tarik senyumannya lagi, tapi kali ini dia menunduk dan mengayunkan kedua kakinya bergantian, sesekali melirik Saka yang masih memandang wajahnya.


"Abang," panggilnya.


Saka mendesis ketika panggilan itu tersemat untuknya, masih asing, tapi karena Arsy yang memanggilnya dan satu-satunya, maka dia biarkan, khusus gadis ini saja.


"Hem?"


"Kalau ada pemuda yang datang, lalu bilang suka ke aku, harus aku jawab apa?" kan, dia memang selalu menang melawan Saka, banyak sekali idenya memulai obrolan. "Apa aku boleh membuka hati atau-"


"Tidak boleh."


Arsy takup pipinya yang perlahan memerah, "Terus, kalau mereka mau menunggu, apa aku-"


"Tidak boleh, Arsy."


"Tapi, Abang kan belum jelas mau sama aku atau tidak, aku harus kasih bukti dulu ke Abang, iya kan?"


"Tetap tidak boleh," jawab Saka.

__ADS_1


"Kenapa?" kali ini, dia menghadap penuh pada Saka.


"Kemarin tidak dengar kalau aku memintamu pada ayahmu, Arsy?"


Deg,


Meminta yang mana, meminta yang bagaimana?


Arsy dengar itu, bahkan dia juga mendengar ayahnya menyerahkan tanggung jawab atas dirinya pada Saka, tapi hal itu juga sering para orang tua katakan pada teman anak-anak mereka, hal yang sudah biasa.


Kedua kelopak matanya masih terus berkedip, bola mata jernih Arsy bergerak tak menentu, dia bingung mau menanggapi dan bertanya yang bagaimana.


"Tunggulah, setidaknya sampai anak pertama kak Bas lahir, setelah itu kita menikah!"


Heh,


"Men-menikah?"


Saka mengangguk, "Kenapa? Tidak mau?"


"Abang tidak bercanda kan?"


"Aku tidak mau pacaran, kamu sudah mendengarnya sekarang, jadi sampai beberapa bulan ke depan, jangan membuka hatimu untuk siapapun, atau aku akan memaksamu menikah denganku nantinya!" jawab Saka sekaligus mengancam.


"Katanya Abang belum suka sama aku, itu bagaimana?"


Hatinya menghangat mengatakan ini semua, memang dia belum tahu sebesar apa cinta yang disiapkan untuk Arsy, tapi gadis ini telah memenuhi matanya, mengganggu dirinya sejak kuliah, berpisah sebentar tak membuat kedua hal itu padam, saat bertemu pun membuat Saka semakin merasa jatuh, tidak ada yang berubah.


Mobil Saka melaju tanpa beban sampai ke rumah sewa Arsy, dia telah memastikan lingkungan di sini aman dan Arsy bisa dia awasi.


"Sampai kapan mau duduk?"


"Ih, Abang gitu, tidak ada romantisnya!"


"Sabar, Arsy ... mau kamu kalau aku romantis sekarang, terus baju kamu dibuka-buka di sini?"


Arsy silangkan kedua tangannya, "Abang sudah tidak tahan lagi?"


Bukan itu!


Huh, Saka bentur-benturkan pelan kepalanya, dia harus memilih kata untuk kalimat yang pas dan mudah Arsy pahami.


"Sudah turunlah, pria romantis itu hanya ada di televisi, di sini tidak ada!"


"Sungguh, Abang tidak mau memelukku dulu? Apa setelah ini, berbulan-bulan, Abang tidak akan rindu padaku, kan kita menjaga jarak aman, hem?"

__ADS_1


Saka pejamkan matanya, gadis ini sungguh harus ada alarm di tubuhnya, kalau tidak, semua pria bisa saja asal memeluk dan romantis bila mendapatkan tawaran semudah ini.


Tidak ada kata iya dari Saka, dia berikan jaket tebalnya pada Arsy, mengingatkan sekali lagi akan apa yang harus Arsy jaga dan lakukan, tak lupa ancamannya.


"Tapi, Abang juga janji ya ...."


"Apa?"


"Ya, Abang juga tidak boleh membuka hati ke orang lain, kalau Abang sampai begitu, Arsy kirim santet!"


Apa!


"Ahahaahaahahahah, ahahahahahahah!"


"Arsy tidak bohong!" Arsy pukul lengan Saka, dia cubit juga.


Tawa Saka sontak berhenti, dia tatap tajam dan dalam wajah manis di depannya itu.


"Awasi aku kalau begitu, kamu bisa mengingatkan aku lewat pesan singkat!"


"Sungguh, aku boleh posesif ke Abang?"


"Hem, tapi jangan berharap aku bersikap yang bagaimana, jaga dirimu baik-baik sampai tiba waktunya kita bertemu lagi!"


Ya, Arsy tahu tugas inti Saka, akan sulit baginya bertemu dengan pria ini, setelah ini Di hanya akan mendengar Saka ke negara ini, ke kota ini dan itu, lalu kembali diwaktu yang tidak pasti, belum tentu bisa bertemu dan duduk dalam satu mobil seperti ini.


Layar pipih itu yang akan menjadi jalan mereka bertemu, sampai di mana Saka akan mengurus semuanya dan mereka bersama, pria itu memegang janjinya dan akan menepatinya, saat ini hanya perlu bersabar.


Arsy lambaikan tangannya setelah dia pakai jaket tebal beraroma khas Saka di tubuh kecilnya itu, sempat dia menunduk agar bisa melihat wajah Saka di balik kaca mobil, pria itu tersenyum singkat padanya.


Hari ini, menjadi hari bahagia sekaligus sedih untuknya, dia mendapatkan janji setia dari seorang pria, sedang dia bersedih karena harus melawan diri yang sudah pastinya meronta ingin bertemu, disapa dan bersama selayaknya pasangan di luar sana.


"Sabar, Arsy. Setelah nanti bertemu lagi, kamu bakal ikutin dia ke mana saja dia pergi, menjadi orang yang pertama kali dia lihat setiap pagi dan pergi tidur!" Arsy tepuk dadanya, dia lantas berbalik, menapaki anak tangga dan masuk ke rumah sewa sederhananya.


'Ingat, aku meminta orang mengawasimu, jadi jangan macam-macam atau berulah nakal!'


'Walau ada yang mengawasimu, jangan meremehkan keadaan, jaga dirimu baik-baik!'


'Arsy, aku harap saat kita bertemu lagi, aku tidak kecewa.'


Arsy berjanji itu, dia akan menjaga diri baik-baik.


"Abang tenang saja, bibir dan semuanya, punya abang. Cuman, abang yang nanti bikin aku lemas dan ah-ih-uh!"


***

__ADS_1


Bucil nggak ikutin ajarin Arsy ah-ih-uh loh ya, murni dia, bukan aku!


eheheheh


__ADS_2