Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Lamaran Buna


__ADS_3

Persewaan rahim, dua kata yang berputar terus di benak Aisyah, sudah berulang kali dia berusaha mengalihkannya, hanya saja masih terus berputar dan sempat ada bisikan nakal dalam hatinya untuk mengiyakan, otomatis merendahkan dirinya sendiri.


Bagaimana kalau benar dia akan lama bisa memberikan suaminya anak?


Ada rasa kasihan mengingat suaminya tipe pekerja keras, setiap kali pulang selalu membawa beban berat, sedang di rumah belum ada penawarnya.


Tapi, dia tahu bila itu pemikiran yang salah, sama saja dia meremehkan kekuatan doa dan berburuk sangka pada suaminya.


"Kakak." Aisyah bergegas ke depan begitu suara mobil Baskara terdengar.


Senyumnya tak seperti biasanya, Baskara jumpai itu dan paham akan apa penyebabnya, tidak lain karena ucapan Buna akan usulan sewa rahim sialan.


Kenapa dia katakan sialan?


Pernikahan ini bukan karena ingin anak saja, tujuannya bukan itu, dia sama sekali tak pusing hanya sekadar masalah anak, lagipula dia dan Aisyah masih baru menikah, bahkan belum ada satu tahun, masih banyak waktu.


"Kakak," sapanya sembari mengambil tas dan jas yang sudah Baskara lepas.


Baskara tersenyum, dia usap kepala Aisyah dan dia cium keningnya, setidaknya ini agar Aisyah merasa dia dihargai penuh dan hanya dia di hati Baskara.


"Aku bingung mau masak apa sama bibik tadi, jadi aku belum masak, Kakak mau dibuatkan apa?"


"Bagaimana kalau makan di luar saja malam ini?"


"Hem?"


"Aku ingin melihatmu memakai yang panjang-panjang seperti dulu, jarangkan ke luar rumah sekarang, tokomu sudah ada yang menangani, bagaimana?"


Aisyah mengangguk, dia bergegas menyiapkan air hangat untuk suaminya mandi, sementara Baskara menunggu sambil melakukan apa yang menjadi kewajibannya di rumah.


Ponsel Aisyah tergeletak, dia memang tak begitu ketat akan isian pesan Aisyah, tapi malam ini dia ingin tahu apa yang tertumpuk di sana, siapa tahu Buna menghubungi Aisyah dan mencoba mempengaruhinya


Helaan panjang tampak pada Baskara, dia gelengkan kepala, masih ada wanita sejenis ular begini, dia kira sudah cukup berhenti pada Gina saja, masih tumbuh lagi dan kasusnya tak kalah hebat, cukup membuat Aisyah getir dalam balasannya.


Anak, wanita akan selalu tidak percaya diri dalam hal ini.


Tapi, bukankah Ummul Mukminin Aisyah RA juga tidak dikaruniai anak, ada pembelajaran keikhlasan di sana.


Baskara hampiri istrinya, di depannya memang bukan Aisyah yang se-sempurna itu, tapi dia yakin Aisyah-nya bisa berprasangka baik akan takdir yang berjalan.

__ADS_1


"Kenapa?"


"A-isyah," ujarnya sambil memeluk.


"Kakak kenapa?" pikirannya sudah aneh-aneh.


"Selain mama, ibu dan Sofi, aku tidak ingin ada yang masuk ke rumah ini-" menunjuk hatinya. "-tambahannya hanya kamu saja!"


"Kan, merayu lagi, paman mengajari Kakak aneh-aneh ya?" dia tertawa. "Siapa yang mau masuk lagi, hem? Mau Aisyah jadikan pecel lele apa?!"


Nah, itu!


"Aku suka yang berani begini!"


Eh, eh ... suka ya suka, tapi jangan mencium sembarang, bisa syok bik Nur kalau melihat nanti.


Beruntung suara kran air membuat Aisyah bisa lepas, kalau tidak, acara makan malam di luar rumah tentu batal, bisa-bisa memesan online dan makan bersama di kamar.


"Dia kenapa memikat begitu sih?" Baskara usap bibirnya. "Jangan-jangan di tubuh A-isyah ada magnetnya, aku sampai tertarik terus, ahahahahah!"


Hih, Aisyah merinding kalau suaminya tertawa keras begitu, kaki sampai bergoyang, gempa bumi dadakan.


"Heh, Buna bun-bun itu datang ke sini, ke kantor kita, mau apa lagi?" Wira sontak menjatuhkan berkasnya.


"Mau ngelamar kerjaan katanya, tidak tahu bagian apa, memangnya lagi buka lowongan kerja?" balas Nando.


"Setahuku tidak ada, kalau ada tentu saja bukan di cabang ini, kan yang butuh di kota sebelah. Bas yang kasih lowongan?"


Nando gedikan bahunya, tapi itu sangat mustahil kalau Baskara yang membuka lowongan kerja, memangnya dia tak punya pekerjaan lain apa sebagai atasan sampai memikirkan tenaga kerja.


Kedua pemuda ini berjalan ke loby, masih ada Buna di sana, gadis itu tak mau pergi sebelum bertemu dengan Baskara yang katanya sedang ada meeting penting hari ini.


Bukan hanya itu, CV yang dia bawa bukan melamar sebagai tenaga kerja di sini, melainkan menjadi sekertaris pribadi yang sangat pribadi, terikat kontrak beratas namakan pernikahan.


"Nona, dengarkan kami!" Nando menunjuk Wira juga. "Tidak pernah ada lowongan pekerjaan seperti itu, kalaupun ada, yang membuka pasti jomlo galau yang suka membuat story di akun medsos mereka, pimpinan kami dan perusahaan ini membutuhkan sumber daya manusia yang berkompeten di bidangnya, sesuai dengan perusahaan ini, bukan hal rumah tangga."


Buna berkacak pinggang, "Heh, aku tidak butuh jomlo model seperti kalian yang tidak punya masa depan, yang aku jual adalah skill yang dibutuhkan pria berstatus suami seperti pimpinan kalian itu, aku menjual dan mempekerjakan rahimku!"


Duar!

__ADS_1


Setan jenis apa ini?


Kedua pemuda itu saling melirik, merasa bulu kuduk mereka berdiri seketika, entah muncuk dari mana makhluk aneh dan berpikiran dangkal seperti Buna, masih bagus menikah dan melahirkan anak suami, bukan asal hamil dan melahirkan kemudian pergi seperti binatang saja.


Masih bagus binatang malah.


Suara Buna yang keras membuat pekerja di sana mendengar masalah yang Baskara alami, awalnya mereka merasa itu wajar dalam rumah tangga, tapi lama-lama ucapan Buna menjadi sedikit ada yang membenarkan.


"Heh, kau!" Buna melambaikan tangannya seolah dia gadis yang sangat Baskara kenal.


Baskara hanya menoleh sekilas sebelum mengantar beberapa klien dan tamu yang datang meeting bersamanya hari ini.


"Aku mau jadi istri keduamu!"


Duar!


Orang-orang yang bersama Baskara sontak menoleh, mereka bahkan berhenti demi mendengarkan Buna dan melempar tanya pada Baskara.


Sebisa mungkin Baskara redam itu, dia antarkan lebih dulu setelah membujuk orang-orang penting itu, baru saja nama baik dan kabar buruk selesai diredam, gadis satu itu berulah dan membuat masalah baru.


"Jangan sok dingin, biasanya pria dingin itu akan luluh dengan gadis cerewet seperti aku, lama-lama bakal tertarik juga," ujar Buna.


Baskara masih diam, meja resepsionis dirasa lebih enak dipandang dibandingkan Buna.


"Bibit pelakor!" bisik Wira pada Nando. "Mau?"


"Gila apa, kayak stok wanita di dunia ini habis saja!" balas Nando menolak.


Buna mengambil langkah ke depan Baskara, mengulurkan tangannya, dia akui tertarik sejak musibah angin kencang waktu itu, Baskara lebih mempesona.


"Aku bisa memberimu anak, sebanyak yang kamu mau, Tuan Bas. Kau boleh menceraikan aku, anaknya kamu bawa atau bersamaku sampai mati, aku yakin bisa membuatmu jatuh cinta-"


"Aku tidak ingin anak dari wanita manapun!" potong Baskara.


"Ouuuhhhh, setia sekali sih!" bukannya mundur, justru sebaliknya. "Siapa kemarin namanya, hmm ... Aisyah ya? Wanita lembek begitu mana menggoda, pasti dia tukang pasrah di ranjang, kalau aktif seperti aku tentu saja bisa membuatmu kelabakan, Tuan!"


Anehnya, ocehan Buna ke mana-mana, pikiran Baskara justru mengarah pada Aisyah, satu kali saja nama itu disebut, dia ingin pulang, apalagi membawa ranjang.


Cih, tahu apa dia soal ranjang dan A-isyah?!

__ADS_1


__ADS_2