Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Pegang Kartu Baskara


__ADS_3

Andai saja bisa menggapai ketiga anaknya dengan mudah, sebagai seorang ibu yang berjalan diusia rentan memang disiapkan untuk menyambut situasi seperti ini, merindukan anak dan ingin kembali seperti dulu lagi, berkumpul bertiga, kejar-kejaran, rebutan, dan kini semua itu melimpah pada cucu.


Diam-diam ibu menyebut nama Saka, membayangkan anaknya ada di sini, matanya menggenang, dia khawatir terjadi sesuatu pada anaknya yang jauh di sana, ingin tubuhnya pergi, tapi tak kuasa sama sekali melangkah jauh, hati berat di sini dan berat meninggalkan banyak cucu di sini.


Satu cucu di depan mata, dua cucu sedang ada dalam kandungan, satu lagi masih jauh dari pandangan.


Coba saja ada ayah, pasti sudah bisa terbang berdua.


Ibu lebih memilih diam di rumah, takut suaminya rindu meskipun pria berkuasa itu telah lama tiada.


"Bu, kenapa?"


Ibu menatap Baskara dan mengusap rambut hitam itu lembut, ingin dia biarkan anak itu lama di pangkuannya, tapi di depan banyak orang, ibu memilih hanya melakukan hal ini saja, tidak mau menurunkan wibawa anaknya meskipun Baskara tak ada masalah, ibunya tetap menjadi nomor satu dalam posisi dan situasi apapun.

__ADS_1


"Kalau Ibu kangen sama Saka, Bas bisa antar Ibu ke sana, tidak masalah kalau Aisyah dan Rasyah di sini, kan masih ada Sofi sama Nakula, maid juga lengkap, penjagaan pasti aku jaga ketat, tinggal Ibu bilang mau saja, ayo!" Baskara mencoba merayu lagi.


Semua tahu, Baskara hanya anak sambung wanita ini, sementara Saka adalah buah cinta pertama ibu dan ayah, dia tahu seberat apa setelah Saka menikah, Saka harus mengemban tugas di luar negeri, sesuai permintaan ayah.


"Nanti, ayahmu rindu sama Ibu, Bas. Kamu tahu sendiri kalau ayahmu itu melarang Ibumu ke mana-mana, berat rindunya, ehehehe, apalagi masalah Saka, maunya Saka mandiri seperti ayah dan Baskara muda.


"Ahahahah, ayah selalu begitu, Bas juga kangen sama ayah, mau ke sana nanti, Bu?"


Ibu mengangguk, dia genggam tangan Baskara, hatinya berat, benar-benar dia memegang janji bersama ayah, hanya tinggal di tempat ini, baru pergi bila benar-benar urgent dan di rumah tak ada tanggungan.


"Yandaaaa, anaknya ini kangen Yanda!" Aisyah sempat mendengar percakapan sang suami bersama ibu mertuanya, kesedihan ada di sana, untuk itu dia bawa Rasyah mendekat sebagai pelipur lara. "Yandaaa, Nenek, ini cucunya aktif banget, Bundanya ngos-ngosan!"


Rasyah terkekeh dalam gandengan Aisyah, langkah bocah itu tertatih, tapi tak bisa dicegah sama sekali, inginnya terus mencoba jalan dan jalan, tak peduli berapa kali mencium lantai.

__ADS_1


Keduanya berbalik, Baskara sontak merentangkan kedua tangannya, menyambut putranya dengan pandangan penuh sayang.


Ya, itu yang sering ayahnya lakukan dulu meskipun setelahnya didikan ayah sangatlah keras, hal yang serupa pada ayah di masa lalu, tanggung jawab anak lelaki sangat besar.


Bahkan, dia ingat sering menangis karena menahan rindu bertemu ibunya, rindu makan enak dan memikirkan urusan pribadi.


"A-isyah, aku lupa sejak kapan aku mencintaimu ...."


Aisyah mengerutkan keningnya. "Yanda ... Ibu, Yanda itu loh, Bu ...."


Bugh!


"Baaas, orang sudah cinta sejak pandangan pertama, ngaku!" ibu hantam perut anaknya itu. "Ini, Iss ... dikasih sama ayahnya nama kamu, gemeteran dia, langsung berulang kali dibaca, biografi kamu dihafal sama dia!"

__ADS_1


Duar!


Aisyah pegang kartu Baskara sekarang.


__ADS_2