Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Si Buna


__ADS_3

Satu bulan berlalu dari tugas dan kelopak duka yang tersirat kala itu, rumah tangga Aisyah dan Baskara semakin dihujani banyak cinta meskipun sejak peristiwa duka itu banyak juga yang menghujat keduanya.


Aisyah sempat down, bahkan sampai tak berani mendengar dan membaca berita apapun. Pekerjaan suaminya memang penuh akan resiko, tentu saja tim pembenci juga banyak sekalipun setiap kali Baskara bertindak selalu ada tanggung jawab di belakangnya.


Namun, hari demi hari dia semakin kebal dengan semua ocehan itu, hanya seperti angin yang lewat begitu saja, kadang kalau hawanya panas ya ikut panas, kalau dingin akan ikut semilir dingin.


Intinya, angin akan sama-sama menyegarkan.


"A-isyah."


"Loh, Kakak pulang jam berapa? Kok aku tidak tahu," balasnya terkejut, dia jinjing roknya, melangkah cepat ke ruang kerja, tahu-tahu suaminya sudah di rumah. "Tidak mau aku sambut ya?"


"Ahahahaha, mana ada begitu. Tadi, aku bareng paman ke sini, jadi tidak ada suara mobil, karena ada data yang ayah minta, jadi buru-buru aku kerjakan, maaf ya ...."


Aisyah mengangguk, dia lantas mengambil tangan kanan itu dan dia kecup seperti biasanya, tak ada yang dia ubah sekalipun Baskara sudah mengaku cinta ribuan kali, bukan alasan bagi dia kurang ajar dan seenaknya.


Termasuk dalam hal uang, Aisyah selalu menanyakan dan melapor setiap kali dia mau membeli apapun, kalau suaminya belum merespon, maka dia akan menunggu. Walau sebenarnya Baskara tidak pernah menghitung sisa uangnya berapa, dia berikan saja.


"Madu hamil?"


"Iya, Ais dapat dari mama, Ais terima saja, namanya orang tua pasti memikirkan yang terbaik," jawab Aisyah.


Baskara mengangguk, "Tidak masalah, lagipula madu itu lebih bagus daripada gula, nanti diabet, senyum kamu saja sudah bikin kadar gulaku tinggi, ehehehehh."


"Kaaan, Kakak gitu!"


Sepasang produk madu hamil, awalnya Aisyah cukup terkejut menerima bingkisan dari mama Fya, sudah satu bulan lamanya dia tak memikirkan cara apa agar dia cepat hamil, yang dia lakukan hanya mengikuti sang suami dan menuruti apa yang suaminya mau.


Mendengarkan penjelasan dan betapa berharapnya mama Fya pada Aisyah, dia penasaran juga dan memutuskan mencari info tentang madu itu, kembali lagi semua madu itu baik, seperti yang Baskara katakan.


"Enak?"


"Hem, dari dulu madu rasanya ya begini. Masih enak kamu!"


Plak!


"Stop, Kakak belajar dari mana sih merayu gitu, dari paman ya?"

__ADS_1


"Kamu tahu itu, kan aku kerjanya sama dia, belum kalau trio jomlo itu ikut, banyak yang aku tahu soal rayuan buat wanita, A-isyah."


"Kakak mau merayu siapa?" manyun, tanda cemburu terlihat jelas.


"Merayu siapa lagi kalau bukan kamu!"


Baru senyumnya melebar, tanduknya tak jadi tumbuh di kepala, memeluk suaminya yang baru saja mencoba satu gelas larutan madu untuk program hamil.


Biar saja, dia akan menerima dan tak akan membantah yang orang tua katakan, mereka jauh lebih tahu, lagipula ini bukan hal yang merugikan, dia akan semakin sehat dengan madu istimewa itu.


Drrrrttt ....


"Kaaakk, ada telfon!"


Drrrttt ... drrtttt ....


"Kaaak, Kakaaaak!"


Baskara tak kunjung ke luar kamar, kemungkinan masih ada di kamar mandi, entah perutnya sakit atau apa. Aisyah ambil dan terima panggilan dari nomor yang tidak dikenal itu.


Matanya melebar begitu suara wanita dia dengar dari sana, wanita itu menangis terseduh-seduh, dia bahkan memanggil Baskara berulang kali.


"Buna."


"Buna? Buna siapa ya? Ada yang bisa dibantu?" siapa gadis bernama Buna itu, batin Aisyah menelisik bingung. "Hallo?"


"Hallo, Buna?"


"Hallo, kasih saja ke Bas, aku mau ngomong sama dia!"


***


Sesuai tempat bertemu yang dijanjikan, bukan Baskara yang terlihat di sini, melainkan gadis bernama Buna itu dihadapkan dengan kehadiran wanita berhijab yang tak lain Aisyah.


Aisyah sudah mendengar dan melihat rekaman bukti pertemuan suaminya sampai terlibat tuntutan dari gadis muda ini, tak ada unsur selingkuh atau apa, namun Aisyah yang akan menemuinya mengingat Buna begitu nekat dan memaksa bertemu Baskara.


"Jadi, kamu itu istrinya Baskara, si ganteng itu?"

__ADS_1


Aisyah mengangguk, dia memesankan minuman untuk Buna juga, sedari tadi menunggu tak memesan apapun.


"Suamiku ada masalah dengan kekasihmu ya, dia sudah menjelaskan dan menunjukkan buktinya padaku, jadi semua yang sudah dijanjikan akan tetap kekasihmu dapatkan, tapi kenapa kamu mau bertemu, bukannya sudah dibayarkan sejumlah kerugian yang-" yang seharusnya bukan salah Baskara, tapi dimanfaatkan saja.


Dua hari lalu sempat hujan angin kencang, salah satu tiang lampu jalanan jatuh dan menimpa tiga mobil, salah satunya adalah mobil kekasih Buna ini.


Posisi mobil Baskara kebetulan ada di depan mobil Buna, mereka menyalahkan dan menuduh pihak Baskara kurang cepat memihak gas sehingga musibah menghampiri mereka.


Uang ganti rugi yang mereka dapatkan hanya Baskara lakukan mengingat satu kabar belum reda sempurna, dia tak mau menambah masalah saja.


"Mau kerja di kantor suamimu lah!"


"Hem?" Aisyah terkejut. "Untukmu atau kekasihmu?" jawabannya lebih mengejutkan lagi. "Kamu bisa ke kantornya langsung, menitipkan surat lamaran kerja di sana, kenapa harus bertemu di sini?"


Buna memutar matanya jengah, untuk apa lagi, selain dia tertarik dengan sosok penanggung jawab itu, suami orang memang menggoda dan jamannya uang bisa membeli segalanya, malu jadi urutan ke seratus.


"Aku akan katakan pada suamiku, titipkan saja lamarannya, nanti pihak kantor akan mengurusnya dan-"


"Aku dengar kamu di berita itu sulit hamil karena kandungan lemah dan sempat keguguran ya, iya kan? Bagaimana kalau aku kerja di rumahmu saja?"


"Kerja di rumahku?" ulang Aisyah.


"Iya, jadi istri kedua suamimu, aku bisa hamil anaknya, terus kamu sama dia punya keturunan, kayak itu loh di luar negeri, pada musim nyewa rahim wanita lain!"


Belum sembuh luka dan duka yang waktu itu, satu lagi ulat seperti Buna ini datang, Aisyah tahan emosinya, begitu juga kelemahannya.


Dan apa kabar tadi, siapa yang kesulitan hamil?


"Kalau aku ke kantor suamimu, nanti aku bilang ke dia sekalian ya, bye!"


Aisyah tak menjawab, dia benar-benar menahan laju emosi yang rasanya ingin meledak sempurna, dia harus tahu berapa kekuatan yang ibu mertuanya tumpuk kala menjadi istri sah ayah, banyaknya godaan juga sempat menerpa mereka, harus teguh dan tidak boleh terpancing, untuk itu dia diam.


"Ya, A-isyah?" Baskara ke luar sejenak dari ruang meeting. "Sudah bertemu dengan gadis itu, dia meminta apa lagi?"


Diam mendengarkan.


"Astaga, dia berkata begitu?" Baskara raup wajahnya. "Kamu pulang dulu, kabari aku nanti lagi ya, hati-hati."

__ADS_1


Persewaan rahim, yang benar saja, gila!


__ADS_2