Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Aku Penjaminnya (Ibu)


__ADS_3

"Kalau saja Ayahmu itu memberi persetujuan, Ibu sudah memasang cctv tersembunyi di sana, kalau perlu yang ada perekam suara, Ibu jadi bisa tahu apa yang Baskara lakukan!" ibu ngedumel di depan ayah, menyindir suaminya dengan jelas dan nyata.


Pendukungnya? Siapa lagi kalau bukan si anak perempuan satu-satunya, Shafiyah.


Ayah tampak melirik sekilas, hanya satu minggu Baskara bekerja di sana, tapi rasanya dia dihukum omelan sang istri satu abad saja.


"Jingga," panggil ayah pada ibu, masih bebas dengan namanya.


"Katakan, kenapa melarangku memasangnya!"


"Astaga, anakmu itu bukan laki-laki bodoh yang tidak tahu ada jebakan, apalagi soal cctv, Bas bisa mengendusnya dari perjalanan, kalau aku tidak melarangmu, selama di sana yang ada Bas akan menjauhi Aisyah." ayah jelaskan alasannya.


"Kenapa bisa begitu?"


Ayah lipat laptopnya, percuma dia bekerja kalau wanita satu ini tidak mau berhenti untuk mencercanya, dia harus memuaskan hati wanita tercintanya ini, ditambah lagi ada satu pendukung setianya, sekali dibahas rasa sayang, dia mengaku kalah pada putrinya.


Ayah duduk di samping ibu, melingkarkan tangannya di sepanjang bahu kecil itu.


"Jingga, dia itu anakku, aku kenal siapa dia, semakin kamu ikut campur di sana, dia akan menjauh, tapi kalau kamu biarkan, lihat bagaimana wajah mereka besok saat pulang-" ayah ingatkan ibu kisah mereka dulu. "Ingatkan dulu saat Bas masih kecil, aku dan kamu masih menjauh, usia Bas masih 4 tahun, kita masih keras kepala, tapi di hotel acara rekreasi kantor itu siapa yang bisa menahan kita untuk dekat dan saling mendengarkan, di tempat berbeda tentu atmosfernya berbeda, biarkan saja!"


Atmosfer? Ibu mencerna dengan baik, jarang sekali suaminya membahas soal masa lalu dan dia hubungkan dengan atmosfer.


Ayah rasa cukup dia menjelaskan pada istrinya, memang begitu dulu kondisi mereka, ayah dan ibu tidak akur selama lima tahun perjalanan usia Baskara kecil karena pernikahan mereka terjadi hanya demi wasiat ibu kandung Baskara, tapi seiring berjalannya waktu, hati mereka terbuka dan saling menerima.


Dan itu, membutuhkan pergantian suasana tentunya.


"Ibu, apa ayah paham tentang atmosfer?" Shafiyah meragukan ayahnya.


"Entahlah, ayahmu biasanya hanya paham buldozer dan server, ahahahahah."

__ADS_1


"Ahahahahah, lalu kenapa ayah membahas atmosfer juga di sini?" ikut tertawa.


Ibu peluk Shafiyah, "Biarkan saja, ayahmu lagi belajar jadi anak jaman now, ahahahah. Buku apa ya yang ayahmu baca, Sof?" menerka-nerka, mau belajar soal atmosfer juga.


"Sstt, ayah mengintip dari atas, Bu!"


Keduanya langsung diam, tak berkutik sama sekali, mengunci mulut dan tidak membahas apapun juga, terutama soal atmosfer yang ayah bahas itu.


"Huh, wanita selalu saja begini, apa Bas dan Saka bisa menangani mereka nanti, ya ampun!" gumam ayah.


***


Aisyah peras bagian lengannya yang basah, walau unit ini tak terlalu besar, tapi dalamnya lengkap, ada mesin cuci yang bisa dia manfaatkan.


Beberapa yang tak bisa Aisyah cuci dengan mesin, dia cuci sendiri manual, itu yang dia lakukan selama menunggu suaminya bekerja.


"Assalammu'alaikum, Ma. Mama apa kabar?" Aisyah selesaikan jemurannya sambil mengapit ponsel di sisi kiri.


"Iya, Ma. Alhamdulillah Mama baik, nanti sepulang dari sini, rencananya sama kakak mau ke rumah Mama, eheheheh, Mama mau dibawakan apa?"


"Jangan bawa yang aneh-aneh ya, Mama cuman mau ketemu kamu. Ais senang kan hatinya sama Bas di sana? Kalian tidak bertengkar kan, sayang?" suara mama terdengar cemas, tapi dengan cepat Aisyah bantah, senyum sontak terbit di wajahnya. "Mama minta maaf ya, Ais. Karena Mama, kamu jadi menderita soal menikah itu," ujar mama Fya penuh sesal.


Aisyah duduk sebentar, mama angkatnya ini masih saja merasa bersalah, tidak tahukan dia kalau menikah dengan Baskara adalah hal yang setiap malam Aisyah doakan, walau prosesnya harus melewati pecahan kaca, tapi dia pada akhirnya satu kartu keluarga dengan Baskara.


"Mama doakan kamu sama Bas selalu sehat dan bahagia, ingat ya kalau ke sini, bilang sama Bas itu jangan bawa makanan atau oleh-oleh, Mama yang masak buat kalian, ya Ais!"


"Iya, Ma. Tapi, kalau kakak mau beli dan bawa nanti, jangan ditolak, kakak'kan menantunya Mama!" Aisyah tertawa kecil.


"Iya, sayang."

__ADS_1


Panggilan itu berakhir, Aisyah tahu di hati wanita yang telah menjadikan dia anak angkat itu belum sepenuhnya menerima kehadiran Baskara-suaminya meskipun Baskara adalah keponakannya sendiri.


Mama Fya menganggap Baskara adalah keluarganya, hatinya masih meninggikan Sena diposisi menantu, tapi dia juga sudah kecewa akan hal itu, seolah belum bisa menerima kenyataan, mama Fya kerap menyalahkan diri dan merasa tak berarti untuk Aisyah.


Ya, Baskara itu baik, mama Fya tahu. Bahkan, Baskara jauh lebih baik dari Sena, entah kenapa hatinya masih berat, dia bisa se-yakin itu pada Sena membahagiakan Aisyah dulu, tapi dia belum bisa yakin sepenuhnya pada Baskara meskipun itu keponakannya.


"Apa karena selama ini kakak sukanya dor-dor gitu, jadi mama cemas, hem?" Aisyah mencari jawaban. "Tapi, kan tidak mungkin kakak main tembak di depanku sih, eheheheheh." Aisyah lanjutkan tugasnya.


Dia buang jauh-jauh pikiran buruknya itu, mengusir cemas yang tak berujung dengan hal yang jauh lebih bermanfaat sampai nanti suaminya pulang.


***


"Kakak ... Aku yakin sekali kalau Bas bisa menjaga Ais, dia memang tegas dan seram seperti kakeknya di sana, tapi hatinya lembut seperti semua sepupu di sini, dia masih punya hati keluarga Narendra kita, jangan cemas!" ibu mencoba menenangkan kakak sepupunya, mama Fya yang tak lain mama angkat Aisyah.


Mama Fya hapus air matanya, dia akui itu salahnya, seharusnya dia tak terlalu menaruh hati pada Sena, selama ini dia kira sangat baik, tidak tahunya menikam keluarga ini hingga ke relung hati, hampir saja banyak relasi bisnis yang kabur kalau Baskara tak mengambil alih.


"Kalau Bas berani menyakiti Ais, ada aku, Kak. Aku jaminannya, bukan hanya selama aku hidup, sampai aku mati dan rata dengan tanah, Bas tidak akan menyakiti Ais, tidak akan berani!" ibu yakinkan mama Fya, menjamin dengan nyawanya. "Jangan cemas, Ais baik-baik saja!"


Mama Fya mengangguk, "Maaf ya, Ngga. Aku jadi meragukan anakmu, maafkan aku!"


"Tidak masalah, aku mengerti sekali apa yang Kakak rasakan. Ayo bangkit, demi Ais dan masa depannya, kita harus bangkit!" ibu hapus sekali lagi air mata di wajah mama Fya. "Masa lalu biarlah berlalu, sekarang lihat bagaimana Ais bisa menjadi seorang istri, dia tidak kekurangan kehormatan di sana, ya Kak!"


Aku jaminannya kalau sampai Bas berani menyakiti Aisyah, aku jaminkan diriku dari rambut sampai ujung kaki, atas namaku, Bas itu pria baik, Kak!


Di unitnya, Aisyah membuat Baskara terheran-heran.


"Kenapa tidak dijemur di luar saja, ada teras kecil di sana, A-isyah, kenapa?"


Aisyah tutup wajahnya, "Ada pakaian dalam Ais dan Kakak," jawabnya.

__ADS_1


Heh?


Baskara palingkan wajahnya, baru sadar di depannya itu pakaian dalam siapa.


__ADS_2