Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Tolak Dia!


__ADS_3

"Dia tuh sukanya dari dulu begitu, seenaknya sendiri, memangnya dia siapa, raja?" gerutu Arsy.


Setiap kali Saka muncul, selalu saja menentang apa yang dia lakukan dan mengatakan semua itu omong kosong, tidak pernah ada benarnya.


Dia kira di tempat ini tidak akan bertemu dengan Saka, siapa yang menyangka di belahan bumi lainnya, dia tetap bertemu dengan pria itu, pria yang sok jual mahal di depan wanita.


Tapi, dia perhatian padamu, Arsy!


Hush, Arsy kibaskan rambutnya, mengepalkan kedua tangan dan dia pukulkan ke udara, tidak ada perhatian yang ketus dan seenaknya begitu. Arsy tidak akan datang ke tempat kerja yang Saka tunjuk, walaupun dia akan mudah diterima di sana karena Saka jaminannya.


"Tapi, apa iya dia jaminannya? Kalau cuman asal tunjuk, terus aku ke sana langsung diusir, bagaimana?" bodohnya dia tidak meminta nomor ponsel Saka terbaru.


Maju-mundur Arsy hubungi nomor lama pria itu, dalam hatinya berharap masih aktif, tapi bibirnya gemetaran dan berharap sebaliknya.


Tut, Tut, tut ....


"Halo, siapa?"


Glek,


Arsy menelan salivanya, ini suara pria itu, pria yang baru saja menemuinya tanpa sengaja, pria sok jual mahal yang seenaknya dan pria yang suka memperhatikan tindak tanduknya.


"Halo," sapa Saka sekali lagi, dia menyeringai tipis, tahu itu nomor Arsy, tapi dia diam.


"Halo, siapa di sana?" lagi, dia mengulang.


Jadi, dia tidak menyimpan nomorku, sialan!


Arsy remat ponselnya, darahnya mendidih lagi karena Saka ternyata yang sudah melupakannya, bukan dia, bahkan nomor Saka masih ada di ponselnya, padahal pria itu tidak pernah aktif membuat story atau membalas chat di grup alumni.


"Halo," ulang kesekian kalinya.


"Halo, hei!" Arsy tepuk keningnya, dia sendiri yang takut.


Saka sunggingkan senyuman, sangat beruntung karena Arsy tidak melihatnya saat ini.


"Abang-" tercekat, bisa-bisanya memanggil Saka se-lembut itu, seolah mendamba.


"Oh, kamu. Kenapa, ada apa menghubungiku?"


"Ih, jutek!"


"Arsy?"


Arsy gelagapan, tidak sadar mengumpat dengan suara keras.

__ADS_1


"Bang, iya ini Arsy. Nomor Arsy tidak Abang simpan?" bodoh, malah bertanya hal ini, bukan kerjaan.


"Untuk apa, penting?"


Kampret!


"Katakan, apa maumu!" titah Saka seolah tak punya waktu, padahal cengar-cengir.


Terdengar suara helaan nafas Arsy, gadis itu tengah menurunkan ego dan mengendalikan emosinya.


"Arsy?"


"Iya, aku jawab, sabar!" lagi, membekap mulutnya sendiri. "Arsy mau tanya soal lowongan kerja yang tadi Abang bahas, memangnya dijamin Arsy diterima di kantor itu, kalau tidak, ya Arsy tidak mau melamar, daripada sudah terancam di cafe ini, terus di sana ditolak, yang ada aku jadi pengangguran. Abang bisa jamin?"


Saka lipat bibirnya, gedung yang mana tadi yang dia tunjuk, asal saja, belum lihat yang memegang perusahaan itu siapa.


"Jangan di sana, aku lupa menunjuk gedung yang mana!"


"Kan, sudah aku duga, kebiasaan Abang memang begitu, suka isengin Arsy. Terserah, Arsy tidak akan mau per-"


"Sudah aku kirim alamat kantor kerjaku, cek dan buat lamaran segera, besok aku tunggu!"


Tut!


"Abang!" sudah terputus. "Astaga, nih orang ya, dari dulu tidak berubah, bisa ubanan aku kerja sama dia!"


Arsy putuskan membuat surat lamaran kerja sepulang ini, masa bodoh akan diterima atau tidak, Saka yang menawarkan sendiri.


Kalau besok dia ditolak, maka dia bersumpah akan berdiri di lobi menunggu Saka dan berkoar-koar Saka telah menggantung hubungannya, biar saja dia buat malu Saka, itu ajang balas dendam.


Abang?


Ahahahahah, di ruang kerjanya Saka tergelak kencang, kedua tangan itu menutupi wajahnya.


Sejak lama dia selalu keukeh dengan panggilan untuk dirinya, tidak mau diganti karena merasa tidak cocok.


Tapi, pertama kali bertemu Arsy di organisasi mahasiswa itu, dengan ringannya tangan Arsy menepuk bahunya dan menyebut dia asal saja.


'Bang, bantuin Arsy angkat kardus-kardus ini bisa?'


"Ahahahaahahahah, bagaimana otaknya bisa memutuskan hal itu, berani sekali dia!" gumam Saka.


Bukan hanya dia yang tersentak kaget, orang di sekitar mereka pun terkejut dengan keberanian Arsy menyapa Saka, bahkan wajahnya tidak berdosa sama sekali.


'Ih, Abang ganteng-ganteng jahat, tidak laku baru tahu rasa loh, gaya selangit kayak milliader saja!'

__ADS_1


'Loh, Bang Saka anaknya dia, calon penerusnya? Mati aku!'


Lagi, Saka tergelak melihat wajah polos yang kerap dia katakan bodoh Arsy, setiap rasa takutnya adalah titik satu keberanian dari gadis itu.


"Besok ada gadis yang akan melamar pekerjaan di sini, namanya Arsy, selesai interview, tolak dia!"


"Bagaimana, Pak?" staffnya sampai bingung.


"Tolak dia, aku mau tahu bagaimana dia bertekad dan seberani apa!" Ahahahahah, Saka melanjutkan tawanya.


***


Klek,


Ada sedikit memar di tangannya, emosi yang tentu saja meletup setiap kali bertemu dengan pengkhianat, tukanh curang dan perusak tatanan kerja sama usaha, orang yang merusak hubungan bisnis demi keuntungan pribadi dan tidak memikirkan nasib perut orang lainnya.


"Yanda." Aisyah berdiri di ambang pintu ruang kerja.


Baskara angkat wajahnya, tidak ada jejak luka di sana, hanya tangan saja karena dia menahan diri tak memukul lawannya, melainkan tembok dan meja di sana, tampak memar di tangan itu.


Di tangan Aisyah ada baskom berisikam air hangat dan handuk kecil, dia tarik kursi di sebelah Baskara semakin dekat, tanpa banyak bicara, sentuhan hangat itu dia berikan pada suaminya.


Sedikit ringisan yang terdengar, ngilu Aisyah mendengarkannya, tapi ini hadiah dan ucapan terima kasih untuk suaminya, pasti Baskara berusaha keras menahan emosi karena ingat ada janin yang tumbuh di perut Aisyah.


"Sudah, aku tidak apa-apa, kenapa tidak tidur?" Baskara hentikan usapan hangat itu, dia tatap dalam mata Aisyah.


"Anaknya Yanda tidak mau diajak tidur, tahu kalau ayahnya belum pulang, eheheheheh."


"Dia yang meminta begitu atau bundanya yang nekat?" satu kecupan menyambar di bibir Aisyah.


"Dua-duanya," jawab Aisyah berbisik, lalu dia terkekeh. "Sudah sho-"


"Sudah, semuanya sudah, yang kamu khawatirkan, sudah aku lakukan!" mendekat lagi dan dia cium lagi, kali ini lebih lama. "Kalau tidak lelah, bisa bantu siapkan air hangat untukku, Nda?"


Aisyah mengangguk, dia berdiri perlahan, berjalan lebih dulu, sementara Baskara masih harus membuka email malam ini, agenda besok pagi belum sempat dia baca.


[Bu, aku sudah sampai rumah, katakan pada ayah, jangan cemas, semua baik-baik saja!] Baskara.


[Iya, ayahmu sudah tidur memeluk Sofi, besok ibu sampaikan, istirahat ya.] ibu.


Baskara tersenyum disertai gelengannya, obat ayah cuman satu itu saja, anak gadisnya.


"Airnya sudah, ayo cepat mandi!" ujar Aisyah.


"Bersama, Nda?"

__ADS_1


Eh, eh,


__ADS_2