Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Demam Menjelang Nikah


__ADS_3

Baskara sandarkan kepala Aisyah ke dadanya, ibu hamil ini malu rupanya setelah menjawab polos apa yang para anak muda bahas.


Bahkan, suaminya ikut menimpali dengan candaan yang menakutinya seolah Baskara tak pernah mengajarkan Aisyah berkata demikian, padahal dari awal banyak kosa kata yang Aisyah tahu, juga dari suaminya ini.


"Yanda, aku mau ngasih itu ke Sofi, boleh?"


"Hem, apa?" Baskara menelisik sesuatu yang Aisyah pegang.


"Gelang, Yanda. Ada nama mereka berdua, aku mau kasih."


Baskara buka telapak tangannya, dia mau melihat lebih dulu seperti apa gelang khas buatan ibu hamil satu ini, sejak dulu dia sampai punya kotak khusus gelang buatan istrinya.


Bagus, dia kecup kening Aisyah singkat sebelum ada yang sadar akan tingkah mesrahnya, Baskara senggol lengan Shafiyah, gadis itu menoleh lalu mencium pipinya tanpa aba-aba.


Nakula yang ikut menoleh sontak menyentuh dadanya, coba kalau itu bukan Baskara, sudah dia tarik dan pukul mungkin, mana Shafiyah langsung menyambar pipi Baskara.


"Apa, Kak?"


Baskara mundur sedikit agar Aisyah bisa menunjukkan wajahnya, masih malu, sembunyi di balik punggung Baskara sejak menjawab soal belah duren itu.


"Ya, Kak Aisku, ada apa?"


"Eheheheh, ini ada hadiah kecil buat kamu dan Ak, diterima ya, Sofi."


"Wahhh, pasti gelang buatan Kakak ya, aku pasti suka dan suka, coba aku lihat!" Shafiyah lebarkan mata sabit yang tidak bisa melebar utuh itu, gelang yang indah dengan aksen namanya di sana, dia angkat tinggi hingga Nakula bisa melihatnya dan pemuda itu langsung meraih satu, dia terpesona dengan hasil karya Aisyah. "Kak Ula, ih!"


"Eheheheh, maaf, aku suka melihatnya, ini!"


"Tidak, bawa saja, itu untukmu dan ini untukku, nanti setelah menikah kita pakai!" cetus Shafiyah.


"Kamu saja yang simpan, pria tidak pandai menyimpan." Nakula berikan pada Shafiyah, gadis itu mengangguk dan melebarkan senyumnya.


"Deal ya, setelah nikah kita pakai?"


Nakula mengangguk, hari itu semakin dekat dan banyak janji yang ingin dia kabulkan bersama Shafiyah. Saking senangnya sampai sebagai pelampiasannya, Shafiyah sambar pipi kedua kakak lelakinya itu, Saka terbatuk-batuk karenanya.


Kalau saja dia mengajak Arsy ke sini, dia jamin akan semakin ramai, belum lagi kalau Arsy bertemu dengan model Yoga dan Pian, bisa klop mereka.


"Kakaaaaakk, pusing kepalanya!" keluh Shafiyah sambil menjatuhkan kepalanya di bahu Saka.


Saka bentangkan satu tangannya hingga bisa merengkuh dan menjadikan dadanya sandaran untuk Shafiyah.

__ADS_1


"Kamu ya, kalau sudah menikah mana bisa begini, hem?" Saka cubit pipi bulat adiknya itu, cekikikan tidak karuan sampai pelayan di sana ingin dicubit Saka juga. "Nanti, kalau punya anak bakal nurun rambutnya ini, si rambut coklat cuman dia saja!"


Aisyah sontak berharap juga, mau rambut anaknya coklat mirip Shafiyah, baik laki atau perempuan.


"Nda, kan mama rambutnya tidak coklat!" maksud Baskara itu mama, ibu kandungnya yang telah tiada.


'Tapi, kan satu keturunan sama ibu Jingga."


"Beda, Nda. Tapi, keatasnya memang satu garis, cuman kan sudah pisah-pisah pasangannya." Baskara usap perut itu, jangan minta aneh-aneh, mana ada bayi lahir minta rambut coklat.


"Tapi, mau rambut anaknya coklat, Yanda!"


"Iya, ehehehe, nanti dipanasin biar coklat-"


Plak!


"Sssshhh, sakit, Nda ... kamu jadi ganas sejak hamil loh!"


"Yanda tidak suka?"


"Suka, tetap suka, kamu number one, sumpah!" jangan marah, ini di rumah makan, banyak yang melihat.


***


Ayah sampai memanggil kedua anak lelakinya, memaki dan menyalahkan keduanya karena rak menjaga adik mereka dengan baik.


Baskara dan Saka hanya menunduk, itu bentuk sayang ayah pada Shafiyah memang, walau kesalahan ada di tangan Shafiyah, tetap saja yang tua disalahkan.


"Ayah, aku sudah sadar kok, aku baik-baik saja." Shafiyah minta ayah mendekat.


Pria itu langsung berlari ke sisi ranjang, matanya memerah dan hampir basah, tak dia bayangkan kalau anak gadisnya itu sakit sebelum menikah.


"Sofi, Sofi, Sofi .... pindah ke Ayah saja sakitnya, pindah ke sini!"


"Eh, Sofi kan sudah sembuh, ini Sofi hanya gugup lusa menikah, Ayah. Tidak ada apa-apa, aku baik, sungguh!" Dia ciumi wajah ayahnya.


Baskara tepuk bahu Saka, menghela nafas bersama, satu pukulan masing-masing mereka terima tadi, tanggung jawab besar sebagai kakak seorang Shafiyah.


Sementara Aisyah dan ibu bersiaga di rumah, mereka menyiapkan semua keperluan sebelum hari pernikahan, bertemu dan menyambut banyak tamu juga keluarga jauh


Rumah itu penuh dengan manusia dan barang bawaan, dibuka menjadi penginapan, karena tak ada yang mau menginap di luar, lebih seru ada di rumah dan tertawa bersama.

__ADS_1


"Ini kamar pengantinnya, bagus tidak?" ibu mengajak beberapa sepupunya masuk, kamar Shafiyah yang di design khusus sejak lagi, yang mengarahkan sedang di IGD saat ini, tepar karena banyak tingkah. "Bagus kan ya, ahahahah, dia maunya semua ditutup padat, kan Nakula itu pemalu, jadinya malam nanti setelah nikah, dia tidak mau suaminya kabur karena malu!"


"Ahahahahahahah, begitu ya, jadi Nakula mau diikat biar tidak kabur?"


"Sepertinya begitu."


Semua tergelak, tak membayangkan bagaimana Nakula nanti di bawah kendali Shafiyah, bahkan ibu sudah bisa memastikan kalau besoknya, Nakula akan menggandakan kunci kamar itu, dia bisa kabur kapan saja.


"Bu, kabar dari ayah kalau Sofi sudah bisa bercanda," bisik Aisyah.


"Astaga, anak itu kan kalau sama ayahnya suka begitu, bikin geregetan!"


"Ahahaha, tapi anaknya Ibu yang cowok semua dipukul sama ayah loh."


"Kenapa dipukul anak-anakku?" tanduk ibu muncul, wajahnya memerah. "Kenapa?"


"Biasa katanya kakak, Bu."


Ibu rebut ponsel Aisyah, dia hubungi Baskara di sana, bibirnya sudah maju mundur karena ocehan yang meledak itu, rambut coklatnya dikibas ke kanan dan kiri, belum lagi waktu ayah yang menerima panggilannya.


Kalau tahu begini, tak akan dia sampaikan ke ibunya, jadi ada perang dunia di rumahnya, ayah akan tidur dalam kemalangan malam ini.


"Nda, bilang ke ibu kalau malam ini ayah tidak mau pulang!"


"Aku tidak mau, Yanda. Ibu nanti makin ngomel, terus jadi perang sungguhan loh, minta ayah pulang saja ya, itu lebih baik!"


"Nda, mana mau ayah pulang kalau ibu masih ada tanduknya gitu, bilang ibu ya!"


"Tidak, Yanda. Ais lebih suka kalau kalian pulang, lagian Sofi kan maunya pulang itu."


Eh, iya juga, hanya ayah yang mendekap seraya memohon agar tak pulang dulu, biar saja menginap di IGD.


"Nda, tidak bisa!"


"Aku juga tidak bisa, Yanda."


"Ndaaaa, sekarang jadi susah nurut sih!" bukan marah, dia merengek. "Bilang ke ibu, nanti aku dipukul ayah lagi, Nda!"


***


Besok selasa, BuCil ketak-ketik di si iinnn, si duda, jadi Bas up 1, otreee...

__ADS_1


Yang punya apk Pizzoo, Bucil di sana, cariin terus cubit, namanya Rien rini....


Lophe


__ADS_2