Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Perubahan Baskara


__ADS_3

BuCil sambil rendem selimut ya, robek dikit bahaya!


***


"Iya, Kak?" dia tidak kuat lagi.


Jangan minta Ais makan lagi, nanti aku tembak!


Aisyah tidak kuat makan lagi dan lagi, herannya sang suami yang selama ini terlihat menjaga pola makan, berubah total dalam satu hari, Baskara bahkan sampai pesan online dua kali.


"Sudah makannya, nanti meledak loh perut kamu!" Aisyah rebut kotak berisi setengah itu. "Sudah ya, nanti lagi!"


"Hem, jangan dibawa turun, nanti aku lapar lagi!"


"Iya, disimpan sini, kelihatan kan masihan?" Aisyah simpan di nakas dekat pintu, Baskara mengangguk. "Sekarang mau mandi atau apa?"


"Mandi bersama."


Heh, Ais capek!


Baskara sontak tertawa melihat ekspresi terkejut istrinya, dia ralat dan meminta Aisyah mandi lebih dulu, entah berapa kali mereka mandi sampai keranjang baju kotor itu sudah penuh lagi.


Suara gemericik air dan gumaman Aisyah bisa Baskara dengar dengan jelas, dia yang meminta agar Aisyah tak menutup rapat pintu itu, cemas dan khawatir kalau Aisyah mendadak kesakitan atau apa sampai pingsan, setidaknya dia bisa menolong cepat nanti.


"A-is-" tertawa melihat Aisyah kaget dan endak menghindar. "Kok takut sih, kan aku cuman lewat!"


"Ya, takut Kakak gendong lagi." bergumam-gumam. "Kakak!" teriaknya dicubit kecil.


Aisyah buru-buru masuk ke kamar ganti, dia bahkan tak melepas handuknya saat berganti baju, menoleh dan memastikan suaminya yang ganas itu tidak ikut masuk.


Dan suara air membuat Aisyah tenang, suaminya sudah aman di kamar mandi, semoga ke luar kamar mandi tidak mengeluh kedinginan, lalu menerkamnya kesekian kali.


Sungguh, dia tidak bisa berjalan dengan baik, beruntung dia memakai rok panjang sehingga tak perlu susah-susah menaikkan kaki.


"Aku hanya cuti hari ini, Ayah. Tidak tahu kalau paman juga mengambil liburnya, dia bilang kemarin hanya akan ikut jadwal, apa ada yang perlu aku bantu sekarang, Ayah?" Baskara kedipkan matanya, meminta Aisyah duduk dan tak bersuara. "Tidak ada masalah, A-isyah bisa mengerti itu, aku akan ke sana kalau Ayah mau, bagaimana?"


Kakak tidak jadi cuti? Kalau tidak jadi cuti, kenapa tidak dari siang tadi sih, kan Ais bisa tidur, capeknya ....


"Baiklah, Ayah tunggu di sana, aku siap-siap dulu!" diam sebentar. "Memangnya boleh, Yah?" ada rasa takut. "Tidak, A-isyah kan belum pernah melihat aku begitu, kalau Ayah izinkan akan aku ajak," imbuhnya.


Ais mau tidur, Kak!


Baskara tertawa sejenak, lalu dia akhiri panggilan itu, panggilan penting sampai dia terima hanya memakai lilitan handuk saja, begitu telponnya berdering, langsung dia terima dari sang ayah.

__ADS_1


"Kak, mau ke mana?" bingung ditarik ke kamar ganti lagi.


"Ikut aku ke tempat latihan, ayah di sana."


"Ke tempat latihan?" Aisyah menganga. "Kakak mau Ais lihat kalau nembak bagaimana begitu?"


Baskara mengangguk, dia tersenyum evil mau menunjukkan bakatnya di depan sang istri.


"Jangan takut!" emuah, dia cium kening Aisyah. "Ayo, A-isyah. Pakai baju yang aku ambilkan itu, kita harus segera berangkat!"


Ragu-ragu Aisyah ambil dan ganti bajunya, dia pakai satu pasang yang Baskara pilihkan, sekilas dia lihat bagaimana mata tajam itu bersiap, suaminya pasti seram dan menakutkan kalau sedang memegang tembak.


Tapi, semalam dia juga ditembak, kan?


AISYAH!


Aisyah gosok-gosok wajahnya, dia terkontaminasi ucapan suaminya yang tidak-tidak.


"A-isyah, ayo!"


"Iya, tunggu, pakai kaos kaki!" buru-buru dia kenakan, persetan rasa perih yang tersisa, dia harus cepat. "Tunggu, Kak!"


***


Sena tanda tangani surat permohonan gugatan itu, Gina pun ikut menyerahkan dokumennya, mereka akan saling lawan dipersidangan.


"Akan ada masa damai, setidaknya bisa kalian manfaatkam untuk saling berpikir, sekali saja kalian tidak jadi manusia yang egois, apa tidak bisa?" Reno tampak jengah menjadi penengah kakak iparnya itu. "Dan perlu kalian ingat, setelah berpisah, kalian tidak bisa kembali lagi dengan mudah, hukum pernikahan tidak bisa dipermainkan, apa sudah kalian pikirkan?"


Sumpah, kalau bukan karena istrinya itu adik dari Sena, dia tidak akan turun tangan mengurusi semua urusan bodoh ini. Sangat disayangkan mengingat mereka pernah endak menjadi orang tua dan tidur bersama, setidaknya itu jadi modal masa depan mereka.


Namun, pilihan orang berbeda-beda.


"Percuma kalau aku teruskan, dia masih berharap Aisyah pisah sama Bas dan dia menikahi Aisyah!" ujar Gina.


"Berharap soal Aisyah?" ulang Reno, dia menoleh pada Sena. "Mereka tidak akan pernah berpisah, Sen. Percayalah, tidak ada hal seperti itu di kamus Baskara!"


Sena tidak bergeming, dalam diri dan aliran darahnya hanya memuja Aisyah dan Aisyah, tidak ada yang lain, dia mau Aisyah mencintainya dan menjadi miliknya utuh.


"Jangan bermain api, selama ini Bas hanya memainkan seperempat dari emosinya, jangan pancing dia, aku ingatkan itu!" Reno berujar tegas, dia kenal siapa dan seperti apa Baskara selama ini.


Terbayangkan sudah, seperempat dari emosi saja Sena sampai muntah darah dan terpental, akan lebih parah bila Baskara luapkan utuh emosi itu.


***

__ADS_1


"Aaarrrgghh!"


Dor!


Baskara putar Aisyah, dia dorong ke ayahnya lalu dia tangkap lagi, Aisyah menjadi mainan dua pria seram di sini.


Suara tawa ayah dan Baskara menggema menjadi satu, entah apa jadinya kalau Saka ikut bermain, tentu Aisyah bisa pingsan karena terus dilempar ke sana-sini mencari perlindungan.


Dor!


"Aaaarrrghhhhh, sudaaaaaahhh!" Aisyah berteriak, dia terus berputar, terakhir dia pegang kuat lengan suaminya.


Tidak ada jarak, pemandangan yang membuat ayah melipat senyum pada Baskara, ayah lihat bagaimana tangan Baskara bergerak penuh memegang Aisyah, merangkul Aisyah dan memandang Aisyah sangat dalam, anaknya itu telah berubah.


Sesuatu pasti sudah terjadi diantara mereka, dasar!


Dor!


"AYAH!" seru Aisyah berteriak, protes pada ayah mertuanya. "Sudah berhenti, kalian berhenti!"


"Masih ada dua peluru lagi, Is. Dilepas ya?" pancing ayah.


"Jangan, jangan ya, Yah!" memohon, kalau bisa dia berlutut. "Ais tidak bisa tidur nanti, suaranya masih terngiang ini!" menutup telinganya.


Ayah usak kepala Aisyah, "Lain kali lihat Bas latihan bela diri, hem?"


"Tidak mau!" ditolak mentah-mentah.


"Ahahahahahah," tawa ayah mengudara, dia usak sekali lagi, itu tanda ayah sayang pada Aisyah.


Sementara Baskara sodorkan air minum ke depan Aisyah, kedua alis tebalnya terangkat, sontak menyemburkan tawa begitu Aisyah mencebik tipis.


"Heh," panggilnya.


"Apa?"


"Keren tidak suamimu?" Baskara cubit-cubit pinggang Aisyah, dia hafal tubuh Aisyah meskipun dibalut pakaian panjang dan lebar itu. "Keren tidak?"


"Iya, keren. Tapi, aku takut!" menutup telinganya.


"Jangan takut dong, kan nanti misal aku luka ya kamu yang obatin, atau mau aku diobatin suster di rum-"


Aisyah suapkan roti kelapa yang dia bawa, lirikannya ditajam-tajamkan, dia juga bisa cemburu.

__ADS_1


__ADS_2