Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Siap!


__ADS_3

"Ayah, itu aku-"


"Katakan saja, sudah siap atau belum?"


Nakula telan salivanya berat, tercekat di dalam sana, susah sekali sampai dia mau mati di depan tiga pria berwajah garang ini.


Hanya dia, hanya dia yang bagai tulang lunak, entah nanti bisa dibayangkan anaknya akan menurun siapa, dia atau garis Shafiyah.


"SIAP!" berdiri, mengambil posisi siap, mengejutkan ayah sampai menahan dada.


Krik, krik, krik.


Saka tekan bahu Nakula, dia ajak duduk lagi, ini hanya obrolan biasa, bukan yang bagaimana-bagaimana, jadinya ya tentu santai saja.


Santai apanya, ini tegang dari kaki sampai rambut!


Ayah tersenyum, dia berdiri dan menghampiri Nakula, dia peluk dengan tepukan di punggung menantunya itu.


"Aku lega kalau Sofi bersama pria yang tepat, kau tahu bagaimana dia dan karakternya, tidak banyak gadis lincah sepertinya yang mau aku kurung di rumah, pikirannya selalu baik dan bijak, jaga dia dengan baik, kerja sama dengan mereka berdua, kalau mereka tak mau membantumu menjaga Sofi, pukul saja-"


"Ayah, aku bilang ke ibu loh!" Saka mengancam.


"Bocah ini!" balas ayah terjebak, dia sudah berjanji tak akan memukul anak lelaki mereka lagi. "Baiklah, kau boleh ke kamar, buat anak yang banyak dan tanggung jawab pada mereka, kalau tidak bisa buatnya, kau bisa tanya pada Bas, dia pengalaman, jangan Saka, dia tidak tahu apapun selain ****** ***** ibunya!"


"AYAH!" Saka syok, blingsatan begitu aibnya dibuka.


Baskara tertawa keras sampai ruangan itu penuh akan suara tawanya, kedua bahunya terguncang hebat, dia tak bisa menahan gejolak tawa ini terlalu lama.


Uhuk, uhuk, uhuk.


"Rasakan, ini akibatnya kalau Kakak menertawakan aku!" ujar Saka.


"Hei, mengaku saja pada adik iparmu, memang dari kecil dia itu suka membongkr lemari ibunya, mencari ****** ***** motif, dia pasti hafal itu gambar apa saja," tambah ayah.


"Ayah, hentikan, sudah. Apa belum minum obat malam ini, hem?" Saka dekap ayahnya dari samping, menahan pria itu membuka aibnya lagi dan lagi, dia malu berat. "Ayo, minum obatnya!"


"Heh, siapa yang mengeluhkan sakit, tidak ada!" ayah sentil kening Saka cukup kencang.


Saka mengaduh, kegaduhan di ruang kerja membuat ibu hamil itu tertarik untuk mendekat, niat hati mencari suaminya, tapi yang ada suara tawa saja, bahkan ada suara benda jatuh.


Mereka tidak sedang adu panco atau bela diri kan di rumah ini?


Aisyah terus melangkah sambil memegangi perutnya, anak dari salah satu pria berwajah garang di dalam sana tidak mau diajak tidur kalau ayahnya tidak tidur juga, padahal dia sudah menguap berulang kali di sini, tapi tetap saja dia merasa enggan terlelap pada akhirnya.


Ahahahahahah,


"Yanda?" Aisyah tempelkan telinganya ke sisi pintu. "Benar, itu suara Yanda, aku masuk saja ya?"

__ADS_1


Tunggu, suaminya tadi melarang dia masuk ke ruang kerja karena di sana lelaki semua dan kalau malam Aisyah seperti rembulan wajahnya, Baskara cemburu.


Tok, tok, tok ....


Tawa hebat itu berhenti, Baskara berdiri, "Aku saja yang buka, kalau Sofi akan langsung aku gendong-"


"Kalau istrimu?" potong ayah.


"A-isyah sudah tidur, Ayah. Dia sudah menguap berulang kali tadi, aku pastikan itu-" glek, begitu pintu dibuka, yang ada wajah manis Aisyah, Baskara menoleh ke dalam dan berkata, "Aku segera kembali, Ayah!"


"Sudahlah, tidur sana, semua juga harus tidur!" balas ayah, tahu ibu hamil itu rumitnya bagaimana.


Baskara menghilang dalam sekejap, sudah berada di gandengan ibu hamil yang manyun-manyun.


"Yanda, aku tuh nunggu lama, adeknya tidak mau tidur kalau bukan sama Yanda!"


"Iya, Nda, maaf ya. Tidak akan aku ulangi lagi, mau tidur di sebelah mana?" menawarkan mau di sisi ranjang sebelah mana. "Mana, sayangku, Nda. Aku mau peluk kamu dari sisi mana?"


Aisyah menunjuk sisi kanan, dia mau Baskara di kanan dan dia dipeluk dari sana.


"Buat miring sudah tidak nyaman, Yanda. Buat tengkurang tidak bisa!"


"Heh, ya tidak bisa, mau jadi helikopter apa?!" Baskara giring saja ke ranjang, kalau belum dipeluk, nanti banyak yang dikeluhkan dan semua salah Baskara.


Buk!


"Iya?"


"Aku belum tidur kok sudah tidur duluan sih!"


"Ngantuk, Nda. Sudah dibula ini matanya, sini, aku usap lagi, anak Yanda...."


Tidak mau terlalu cepat, mau diusap dengan tempo yang ringan dan pelan.


"Yanda!"


"Ya, Nda? Melek ini loh!" matanya merah, semakin menakutkan, kopi tidak akan mempan. "Dek, tidur, Dek. Yanda ngantuk, Dek!"


"Bosen hadap sini!"


Heuh?


Baskara pindah ke kiri, berganti Aisyah yang di kanan, maunya dipeluk dari belakang saja.


"Gerah!"


"Lepas bajunya!"

__ADS_1


"Hmmm, nanti Yanda mau kalau lepas baju!"


Astaga!


***


Saka genggam ponselnya, wajah yang sudah dia rindukan ada di sana, mulai bulan depan dia akan mengurus surat nikahnya itu, pernikahan yang akan berlangsung kurang lebih empat bulan lagi itu memang harus benar-benar disiapkan.


Dia tidak akan menetap di tanah air ini, melainkan di luar negeri bersama Arsy, pekerjaan dan jabatannya ada di sana, mau tidak mau sampai nanti mereka menikah dan anak-anak ada diantara keduanya, tanah air akan menjadi kampung halaman.


"Sudah tidur?"


"Tumben Abang telpon aku?"


"Eheheheh, demam nikah. Jawab aku, sudah mau tidur?"


Arsy tertawa, "Belum, Abang. Aku nunggu kamu kabarin aku, ternyata Abang beneran kabarin akunya, senang sekali!"


Saka terkekeh, mendekati pengurusan data nikah itu, memang dia berikan kelonggaran akan komunikasi yang ada diantara keduanya.


"Abang, tahu tidak di sini itu aku jadi terkenal, ahahahah, mereka jadi tahu kalau aku itu mau jadi itunya Abang. Hem, aku jadi tuan putri, ada yang bawain aku makan-"


"Laki?"


"Eh, ada sih. Tapi, masa aku tolak, Bang. Kan, mereka itu niat kasih biar aman saja kerja di sini, aku jadi calon Abang gitu loh!"


"Ya, tapi kan aku tidak suka kamu makan dari dia!" cemberut, maunya dia yang membelikan makan Arsy.


"Ih, dibuang ya dosa tahu, aku terima terus baru aku bagi sama satu tim. Ini namanya pendekatan sama pimpinan muda, eheheheeh, Abang kangen loh, aku!"


Saka ubah menjadi video call, terpajang sudah wajah itu, senyuman Arsy yang membuat jantungnya berdebar-debar.


Dia begitu memikat bagi Saka, gadis cerewet yang murah senyum dan berjalan tanpa beban, habis ngomel pun masih bisa memberi dia kue.


"Abang pakai cream ya?"


"Tidak, apaan itu, memangnya aku anak gadis?" Saka usap pipinya. "Katanya tadi kangen, ini sudah lihat, sudah puas ya, aku tutup ya?"


"Eh, jangan gitu, mulutnya Arsy saja belum panas!"


"Apa? Ahahaahahahh, sudah malam, nanti dikira ayah, aku sedang kerasukan!"


Arsy cemberut, "Biarin, Arsy mau ke sana, mau ketemu ayah loh, Bang!"


"Iya, nanti pasti ke sini. Sudah ya, lama lihat kamu nanti aku tidak bisa tidur!"


"Ab-"

__ADS_1


Tut!


__ADS_2