Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Berterima Kasih


__ADS_3

Gubrak!


"Ayah!"


Shafiyah berlarian ke kamar ayahnya, mencari keberadaan pria terfavorit dalam hatinya sepanjang masa itu.


Bahaya, Kak Bas datang ke rumah ini, Kak Bas datang, Ayah. Lindungi anakmu!


Dari kamar ke ruang kerja, menabrak ibunya yang baru saja ke luar sambil membawa nampan berisi piring kotor, dua hari ini pekerjaan diselesaikan di rumah saja, ayah malas ke kantor.


"Ibu, itu!" Shafiyah hentak-hentak membuat keributan.


"Apa, ada apa?"


"Ayah mana? Kita butuh ayah, kalau sampai kak Bas menghakimi kita, cuman satu lawan yang pas, itu ayah!"


Aku? Ya ampun, dua wanita itu suka sekali membuat aku pusing!


Ayah berjalan ke luar ruang kerja, benar saja dua wanita kesayangannya itu saling memeluk, bingung mau menyambut kehadiran Baskara bagaimana, bisa jadi Baskara marah, bisa juga Baskara berterima kasih pada mereka karena sudah menyelesaikan tugasnya sebagai suami pada Aisyah.


"Ayah, kan Ayah bilang sayang padaku, Ayah sudah bersumpah seumur hidup sayang padaku, ya kan, Ayah. Tolong lawan kak Bas!"


"Heh, memangnya ini tempat pertandingan apa, hah?" marah, tapi mau dipeluk anaknya. "Ibumu saja yang melawan, Bas kan tidak akan berani padanya!"


Ibu terpojok, mendekap dirinya sendiri sambil bergeleng, dia tidak pernah usil sampai seperti ini pada Baskara, baru kali ini dan itu hasil gabungan antara idenya dan ide Shafiyah.


Mereka berdua meminta ayah yang maju, dengan wajah malasnya, ayah ajak keduanya turun, tamu agung yang ditakuti itu rupanya sudah masuk ke ruang tengah.


"Bu, apa yang dilakukan kakak?" tanya Shafiyah berbisik.


"Ssstt, jangan kelihatan kalau kita panik!" balas ibu berbisik. "Ikuti wajah Ayahmu saja!"


Ayah bergeleng, angkat tangan dia pada istri dan anak gadisnya itu.


Astaga!


Tiga orang itu tersentak kaget, berhenti saat Baskara berbalik dan Aisyah mengangkat wajahnya, mereka seperti diadili saat ini.


Shafiyah memutar bola matanya, mencari apa yang janggal, lantas dia berseru sambil menunjuk tangan Baskara.


"Kakak, ya ampun ini kenapa tangannya?" mendekat, dia angkat dan periksa tangan Baskara yang diperban. "Kalian terluka kenapa? Kak Ais juga terluka?"


Ibu mau pingsan, jangan-jangan kedua anaknya itu adu jotos di kamar hotel, rasanya dia tidak salah membeli obat.

__ADS_1


"Ini kenapa?" Shafiyah memeriksa Aisyah juga, lalu kembali ke Baskara.


"Kenapa, Bas?" tanya Ayah yang sedari tadi diam. "Ada musuhmu di hotel?"


Ayah, jangan mancing-mancing! ibu.


"Tidak, Ayah." Dia menoleh pada adiknya. "Ajak A-isyah ke kamarmu dulu!" titahnya.


Shafiyah mengangguk, dia lantas mengajak dan membantu Aisyah berjalan ke kamarnya, melambaikan tangan pada ibu dan memberi semangat pada ayah, dia bebas dari kakaknya yang seram itu.


Tinggallah ibu yang mau pingsan dan ayah yang masih berwajah acuh malas, dia merasa tidak ikut campur, jadi dia tidak bersalah, berbeda dengan wanita di sebelahnya itu.


"Nak, ada apa?" ibu mencoba membaur.


Baskara tersenyum, seperti biasa kalau bertemu ibunya, dia cium tangan dan memeluk singkat.


Aku yakin mau mati ini. Ibu.


"Bilang sama Ibu, ini kenapa?" ibu injak kaki ayah, suaminya itu memang menyebalkan, benar-benar cuci tangan. "Mau Ibu obati?"


Baskara menolak, "Sepertinya ada yang mencampur minuman atau makananku di acara pernikahan Sena, aku belum memeriksanya, mereka mungkin mau memberikan itu ke pengantin, tapi tertukar ke aku, semalam aku menggila, Ayah, Ibu. Hampir saja aku melakukan hal yang bisa menyakiti A-isyah," jelasnya.


Jadi, hampir? Itu artinya belum melakukan, lalu bekas luka itu bekas apa?


Ibu menoleh pada ayah, wajah menyebalkannya semakin tebal saja, ingin ibu cakar-cakar.


Awas nanti malam minta ya! ibu.


Baskara tahu ada perang dingin, bisa dia lihat dari mata ayah dan ibunya, tapi di sini dia tidak akan menuduh siapapun, kalaupun itu keluarganya, biar saja, mereka tidak tahu apa yang terjadi.


"Obat perangsang?" tanya ayah.


Baskara mengangguk, "Obat itu bereaksi sangat hebat, aku merasakan panas yang luar biasa dan seperti yang aku baca juga dengar, itu menyakiti bagian pria juga, Ayah bisa membayangkan hal itu. Ini, tanganku, aku melampiaskannya ke tembok kamar, pagi tadi aku ganti rugi banyak di hotel, kamarnya jadi kapal pecah!"


"Lalu, Aisyah?" ibu penasaran.


"Aku bisa mengendalikannya, Bu." Baskara merasa lega.


Kedua bahu ibu melorot, jadi tak ada yang terbelah semalam, yang ada bukti nota ganti rugi kerusakan di hotel itu, mulai dari gelas pecah sampai kursi patah dan lainnya.


"Kamu mau menghukum orang yang meletakkan obat itu ke minumanmu, Bas?" ibu takut, tapi masih belum lega.


"Tidak, biar saja. Aku justru berterima kasih karena obat itu juga, pagi ini aku banyak bicara dengan A-isyah, dia bisa melupakan sakit hatinya pada Sena, aku melihat A-isyah nyaman berbicara denganku, walau tidak sebanyak Ibu dan Ayah, ehehehehe."

__ADS_1


Untunglah, aku selamat! Ibu.


Kenapa aku? Kenapa aku lagi yang dibawa-bawa? Ayah.


***


Mendengar laporan adiknya, setumpuk pekerjaan yang ada di meja kerjanya itu Baskara tinggalkan.


Ada bagian yang terluka di kaki Aisyah, jujur dia tidak tahu, tidak mungkin dia tahu kalau sejak menikah dengan Aisyah, dia tidak pernah melihat selain yang Aisyah tampakkan saja, bagian rambut dan kulit leher saja baru-baru ini.


"A-isyah, kamu di dalam?" Baskara ketuk pintu kamar itu. "A-isyah, boleh aku bicara?"


Jeglek,


Aisyah ke luar masih memakai mukenahnya, wajah itu terlihat seindah rembulan.


"Kakak, masuklah!"


Baskara mengangguk, lama rasanya dan canggung begitu masuk ke kamar Aisyah di rumah ini, awalnya ini hanya kamar cadangan yang Baskara sulap menjadi kamar indah Aisyah.


"Sedang apa?"


"Mengaji, hatiku tenang kalau sebelum istirahat mengaji dulu, eheheheheh. Kakak, ada apa ke sini?" Aisyah menarik kursi ke depan Baskara, dibiarkan suaminya itu duduk di sofa nyaman kamarnya. "Apa mau aku beri obat tangannya?"


"Tidak, sudah tadi aku ganti sendiri." Baskara tunjuk kaki Aisyah. "Kalau kamu izinkan, boleh aku melihat kakimu sampai lutut, A-isyah?"


"Hem?" Aisyah tampak ragu.


"Dengarkan aku, jangan salah paham!" Baskara jelaskan. "Tadi, Sofi bilang di kakimu ada bekas luka dan ada memar baru, aku hanya ingin memeriksanya, itu pun kalau kamu izinkan, A-isyah. Kalau tidak, aku tidak akan memaksa."


Aisyah diam sebentar, sebelum akhirnya dia tarik roknya ke atas, membuka kaki itu sampai batas lutut.


Luka apa saja itu?


"A-isyah, itu-" dia tidak bisa berkata-kata, ada beberapa bekas luka dan jahitan lama, ada juga memar baru. "Kenapa tidak bilang kalau sakit sih?!" Baskara lantas berjongkok ke depan Aisyah. "Ini kenapa?" menunjuk yang baru.


"It-itu, aku-" dia takut.


"Kenapa?" ulang Baskara setengah geram.


"Kemarin, ak-aku terpeleset waktu mengompres Kakak, aku mondar-mandir ke kamar mandi jadi-"


Tanpa banyak kata, Baskara angkat Aisyah ke berpindah ke sofa panjang.

__ADS_1


"Tunggu sampai dokter datang!" titahnya.


Karena aku, dia terluka. Ya ampun, A-isyah!


__ADS_2