Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Memperhatikanmu


__ADS_3

"Aku pergi dulu," bisik Baskara, dia tersenyum penuh isyarat, berhasil mengelabuhi istrinya.


Kini, ibu hamil itu harus tidur dan meregangkan otot-ototnya, kecupan yang mendarat di pipi dan bibir pun tak dia balas, ini sudah terlalu lelah.


Entah, dia tidak bisa mengatakan apapun soal suaminya dalam hal ini, dua hari sekali, dipangkas Baskara menjadi dua hari dua kali.


"Bik, aku tinggal dulu, kalau A-isyah bangun, suruh dia makan!"


"Baik, Tuan." bik Nur jadi geleng-geleng, ada ke kantor sudah terik begini, kalau bukan pimpinan, dipastikan dapat surat pecat. "Tapi, kan tuan kerjanya jarang di tempat, suka keliling. Lagian, kok aku tidak takut dan malah membahas tuan dipecat, kan ya otomatis aku tidak gajian, duh!" omelnya pada diri sendiri.


Bik Nur pastikan pintu kamar Aisyah tidak terkunci, dia mengulas senyum ketika melihat tumpukan baju baru di tepi ranjang, pasti di balik selimut itu nonanya sedang tampil polos, hafal sudah dengan ulah tuannya.


"Non itu cantik, tidur saja cantik, jadi siapa yang mau kerja kalau begini, memangnya aku, ahahahahah." hush, bik Nur bergegas ke belakang, banyak tugas yang harus dia kerjakan.


Dua jam berlalu, tubuh kecil ibu hamil yang tengah polos itu mulai menggeliat, kedua tangannya mencari sosok lain untuk pegangan hidup, begitu mengerjap sudah sangat siang dan ada baju di tepian ranjang.


Ke mana?


Matanya mengerjap menyesuaikan kerja retina dan lensa, meraup wajah berulang kali sambil menahan selimut itu di kedua lengannya. Tahu begini, dia tadi tidak akan membuat suaminya acak-acakan, dia yang dibuat acak setelahnya, seperti ini harus bangun siang dan tak memakai apapun, hanya selimut yang tadi mereka pakai berdua.


[Nda, aku kerja.] Yanda.


Aisyah tersenyum, suaminya akan sangat sibuk meskipun baru berangkat, entah jam berapa nanti malam suaminya akan pulang, dia hanya mendapatkan pesan agar tak menunggu karena jelas melelahkan dan sia-sia, terkadang pria itu juga tidak pulang, terlebih lagi kalau paginya ada urusan penting yang dia tidak boleh terlambat sama sekali, harus tepat dan memastikan bahan pembasan lengkap, mau tidak mau menginap di kantor.


"Baru bangun, ehehehehe, ada apa Sofi?" Aisyah apit ponselnya.


"Kak Ais kasih apa ke kak Ula, hem? Aku kan ya mau ini!" suara protes adik ipar kecilnya.


"Oh, itu hasil karyanya kak Bas, Sofi. Kebetulan lagi ngidam buatan kak Bas, aku titip banyak kok ke Ak, masa kamu hanya diberi sedikit?"

__ADS_1


"Jangankan sedikit, kak Ula cuman menunjukkannya padaku, sebal sekali!" kalau bisa, dia tarik rambutnya, biar. "Aku mau, Kak Ais!"


Duh, tidak mungkin membuatnya karena itu maha karya suaminya, sedang Baskara saat ini sibuk.


Aisyah tidak berjanji, tapi dia akan bicara dengan Nakula, mengingatkan kalau ada bagian Shafiyah di bingkisannya.


"Ada saja mau godain Sofi, kalau begini, jadi kangen muda, eheheeh, tapi Ais kan masih muda, Yanda yang tua!" gumam ibu hamil sambil menunggu panggilannya terjawab dari Nakula. "Halo, Ak. Ais ganggu tidak?"


Diam sebentar,


"Tidak, itu Sofi tadi baru telfon, dia bahas bingkisan yang aku kasih ke kamu, Ak. Dia mau dan sekarang kak Bas tidak ada di rumah, dia sibuk beberapa hari ini, jadi tidak mungkin bisa buat, Ak bisa bagi ke Sofi tidak, nanti Ais ganti kalau kak Bas sudah lenggang, hem?" maaf sekali, dia jadi tidak enak, tapi ini terpaksa.


Apa!


Aisyah usap keningnya, "Jadi, kamu cuman godain Sofi saja? Ya, ampun, Ak ... aku kira kamu lupa, bingung tadi mau ngomong sama kamu apa, maaf ya." Diam mendengarkan. "Oke, terima kasih banyak, Ak!"


Lega, kalau begini dia tidak perlu berkutat di dapur, sendi-sendinya masih sakit semua, mau tidur saja.


Shafiyah melipat kedua tangannya ke depan dada, jaket tebal itu hampir melahap tubuh kecilnya, siapa lagi yang punya aturan seperti ini kalau bukan ayahnya, ke kampus pun dia harus seperti ini, digulung baju.


"Katakan, kak Ais bilang apa!" titahnya pada Nakula.


Nakula tak menjawab, memang seperti itu karakternya, dia hanya senyum lalu mengambil bagian Shafiyah dari bingkisan Aisyah, dia serahkan lengkap dengan senyumnya, dia hanya melihat Shafiyah sekilas.


Darahnya berdesir hebat ketika mata sabit kecil itu melirik kepadanya, tidak pernah ada celah yang bisa Nakula nilai minus, Shafiyah lebih dari kekurangan yang ada.


"Emmm, rasanya enak sekali, kenapa baru dikasih?"


"Maaf, aku lupa, Shafiyah."

__ADS_1


Kan, kalau dipanggil nama lengkapnya, gadis ini cemberut, Shafiyah terlalu lembut untuk dirinya yang dibilang aktif, berbeda dari Sofi yang lebih cenderung aktif, lompat sana dan sini, membuat orang gemas di sana dan sini, maksudnya di keluarga, di luar itu akan berhadapan dengan ayahnya.


"Kak Ula mau ke mall tidak?"


"Hem, ke mall untuk apa?" balas Nakula, dia intip dari spion tengah, tatapan mereka bertemu dan Nakula putus lebih dulu. "Ke mall untuk apa, Shafiyah?"


"Ish, Sofi, panggil aku So-fi!" merengek sambil memukul bahu kursi kemudi. "Jangan terlalu kaku dan formal, ayah tidak akan menghukum Kak Ula karena memanggilku itu, ayah sendiri memanggilku dengan So-fi, ayo!"


"Shafiyah, itu lebih bagus dan indah."


Eh, Shafiyah mencondongkan tubuh ke depan, menggapai wajah Nakula yang ingin dia cakar-cakar, pria satu ini usianya sama seperti Baskara, dewasa yang menjengkelkan.


"Baiklah, jangan dibahas!" dia duduk tenang lagi. "Aku ke mall mau bertemu teman, mau aku kenalkan ke kamu, Kak Ula kan sudah saatnya menikah, kak Bas saja sudah mau punya anak, sampai kapan mau jomlo?"


Jleb,


Pertanyaan yang mengoyak keteguhan hati para jomlo, sampai kapan, mana ada yang tahu, kalau bisa membawa anak gadis orang kawin lari tanpa uang sumbangan ini dan itu, pasti kaum jomlo di luar sana merasa tak terbebani.


"Kenapa tidak mau?" menantang Nakula. "Kak Bila saja yang mulai magang, dia punya kekasih, aku mau Kak Ula tidak kesepian!"


"Jangan, Shafiyah. Aku tidak merasa kesepian, aku punya kesibukan!" jawab Nakula tanpa ada nada marah, begitu tenang seperti air sungai yang jernih.


Ya, dia Aisyah versi laki-laki.


"Kesibukan apa?"


Sibuk memperhatikanmu.


Nakula tidak menjawabnya, dia hanya tersenyum, sudah lama dia memperhatikan dan selalu ingin mendengar kabar Shafiyah, usia yang terpaut lebih dari lima tahun itu tak membuatnya enggan melirik Shafiyah, walau tingkahnya menggemaskan, Shafiyah punya pendirian yang kuat, mengalahkan orang dewasa sepertinya.

__ADS_1


"Iya, Ayah. Aku mau ke mall bersama Kak Ula, nanti aku belikan apa yang Ayah mau, satu saja tapi ya, Ayah harus menjaga pola makan dan hidup sehat, ingat sudah tidak muda lagi!" memelankan suaranya di akhir kalimat, bukan tua, tapi tidak muda lagi.


__ADS_2